Begini Penggunaan Kata Masya Allah yang Membuat Doa Nabi Musa Terkabul
Sabtu, 20 Februari 2021 - 20:25 WIB
loading...
A
A
A
Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan, berupa istri, harta atau anak kemudian mengucapkan: masya allah la quwwata illa billah kecuali dia akan terjaga dari segala gangguan sampai keinginannya dia meninggal. Kemudian Rasulullah membaca surah al-Kahfi ayat 39.” (HR. Abu Ya’la)
Dua Keadaan
Sementara itu, dalam kitab Tafsir Al Quranul Karim Surat Al Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, 'Masya Allah' bisa digunakan untuk dua keadaan dalam bahasa Arab atau ikrab, mengingat memang ada dua makna di dalamnya.
Ikrab yang pertama dari 'Masya Allah' adalah dengan menjadikan kata ‘maa’ sebagai isim maushul (kata sambung) dan berstatus sebagai predikat, dengan subjeknya adalah mubtada’ yang disembunyikan. Sehingga, bentuk lengkapnya adalah 'hadzaa maa syaa Allah' dan mengindikasikan sebab atau disebut maa syarthiyyah.
Sedangkan menurut ikrab kedua, ungkapan 'Masya Allah' adalah kata benda yang berstatus sebagai fi’il syarath atau kata kerja yang mengindikasikan sebab.
Mengutip Fatwa Nurun 'alad Darbi Syaikh Abdul Aziz bin Baz, jika seorang mukmin saat melihat sesuatu yang membuatnya takjub, maka disarankan mengucapkan 'Masya Allah' atau 'Barakallahu Fiik'.
Saat memuji, jangan lupa mengucapkan 'Masya Allah' (atas kehendak Allah) sebagai bentuk kekaguman kita dan pengagungan kepada Allah untuk menghindari dampak buruk yang mungkin menimpa orang yang dipuji akibat munculnya penyakit hati berupa hasad, misalnya. Masya Allah diucapkan ketika kita melihat suatu hal yang baik atau indah.
Baca juga: Subhanallah, Inilah Manfaat Meminum Air Zamzam dan Adab Meminumnya
Dua Keadaan
Sementara itu, dalam kitab Tafsir Al Quranul Karim Surat Al Kahfi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan, 'Masya Allah' bisa digunakan untuk dua keadaan dalam bahasa Arab atau ikrab, mengingat memang ada dua makna di dalamnya.
Ikrab yang pertama dari 'Masya Allah' adalah dengan menjadikan kata ‘maa’ sebagai isim maushul (kata sambung) dan berstatus sebagai predikat, dengan subjeknya adalah mubtada’ yang disembunyikan. Sehingga, bentuk lengkapnya adalah 'hadzaa maa syaa Allah' dan mengindikasikan sebab atau disebut maa syarthiyyah.
Sedangkan menurut ikrab kedua, ungkapan 'Masya Allah' adalah kata benda yang berstatus sebagai fi’il syarath atau kata kerja yang mengindikasikan sebab.
Mengutip Fatwa Nurun 'alad Darbi Syaikh Abdul Aziz bin Baz, jika seorang mukmin saat melihat sesuatu yang membuatnya takjub, maka disarankan mengucapkan 'Masya Allah' atau 'Barakallahu Fiik'.
Saat memuji, jangan lupa mengucapkan 'Masya Allah' (atas kehendak Allah) sebagai bentuk kekaguman kita dan pengagungan kepada Allah untuk menghindari dampak buruk yang mungkin menimpa orang yang dipuji akibat munculnya penyakit hati berupa hasad, misalnya. Masya Allah diucapkan ketika kita melihat suatu hal yang baik atau indah.
Baca juga: Subhanallah, Inilah Manfaat Meminum Air Zamzam dan Adab Meminumnya
(mhy)
Lihat Juga :