Karomah Sumnun yang Ceramahnya Selalu Berisi Cinta Mistis
Rabu, 24 Februari 2021 - 18:20 WIB
loading...
A
A
A
"Mengapa engkau mengusirku?" Sumnun berteriak.
"Karena panji ini adalah panji para Pencinta, sedang engkau bukan seorang pencinta."
"Aku bukan seorang pencinta," teriak Sumnun. "Bukankah orang-orang menjulukiku sebagai Sumnun Sang Pencinta dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yag terkandung di dalam hatiku ini."
"Sumnun, dahulu engkau memang seorang pencinta. Tetapi sejak hatimu lebih cenderung kepda anakmu itu, namamu telah dihapus dari daftar para pencinta."
Di dalam mimpi, Sumnun mohon ampunan kepada Allah: "Ya Allah, jika karena anakku aku akan tergelincir, tunjukilah aku jalan yang baik."
Ketika Sumnun terbangun, terdengarlah suara gaduh: "Anak itu terjatuh dari atas loteng dan meninggal dunia."
Selanjutnya diriwiyatkan pula bahwa pada suatu ketika Sumnun menyenandungkan syair: "Tidak ada kebahagiaan bagiku, kecuali di dalam diri-Mu. Jadi, jika Engkau menghendaki, ujilah aku."
Sesaat itu juga saluran kencingnya tersumbat. Maka dikunjunginyalah sekolah demi sekolah dan kepada anak-anak murid ia berpesan: "Berodalah untuk pamanmu Sang Pendusta ini semoga Allah menyembuhkannya kembali."
Kisah Sumnun dan Ghulam Khalil
Ghulam Khalil memperkenalkan dirinya sebagai seorang sufi. Kepada khalifah, ia menukar keselamatan yang kekal abadi dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Di depan khalifah ia selalu menfitnah para sufi dengan maksud agar mereka dihukum sehingga tak seorang pun memperoleh hikmah dari ajaran-ajaran mereka. Dengan demikian ia memperoleh kekuasaan yang tidak tercela.
Ketika Sumnun dewasa, kemasyhuran namanya tersiar ke mana-mana. Namun, Ghulam Khalil sering membuatnya menderita dan senantiasa mencari-cari kesempatan untuk dapat menfitnah Sumnun.
"Karena panji ini adalah panji para Pencinta, sedang engkau bukan seorang pencinta."
"Aku bukan seorang pencinta," teriak Sumnun. "Bukankah orang-orang menjulukiku sebagai Sumnun Sang Pencinta dan Allah Maha Mengetahui apa-apa yag terkandung di dalam hatiku ini."
"Sumnun, dahulu engkau memang seorang pencinta. Tetapi sejak hatimu lebih cenderung kepda anakmu itu, namamu telah dihapus dari daftar para pencinta."
Di dalam mimpi, Sumnun mohon ampunan kepada Allah: "Ya Allah, jika karena anakku aku akan tergelincir, tunjukilah aku jalan yang baik."
Ketika Sumnun terbangun, terdengarlah suara gaduh: "Anak itu terjatuh dari atas loteng dan meninggal dunia."
Selanjutnya diriwiyatkan pula bahwa pada suatu ketika Sumnun menyenandungkan syair: "Tidak ada kebahagiaan bagiku, kecuali di dalam diri-Mu. Jadi, jika Engkau menghendaki, ujilah aku."
Sesaat itu juga saluran kencingnya tersumbat. Maka dikunjunginyalah sekolah demi sekolah dan kepada anak-anak murid ia berpesan: "Berodalah untuk pamanmu Sang Pendusta ini semoga Allah menyembuhkannya kembali."
Kisah Sumnun dan Ghulam Khalil
Ghulam Khalil memperkenalkan dirinya sebagai seorang sufi. Kepada khalifah, ia menukar keselamatan yang kekal abadi dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Di depan khalifah ia selalu menfitnah para sufi dengan maksud agar mereka dihukum sehingga tak seorang pun memperoleh hikmah dari ajaran-ajaran mereka. Dengan demikian ia memperoleh kekuasaan yang tidak tercela.
Ketika Sumnun dewasa, kemasyhuran namanya tersiar ke mana-mana. Namun, Ghulam Khalil sering membuatnya menderita dan senantiasa mencari-cari kesempatan untuk dapat menfitnah Sumnun.
Lihat Juga :