Prof Agus Purwanto Ungkap Ini Mengapa Negara Islam Kalah dengan Barat
Jum'at, 19 Maret 2021 - 20:48 WIB
loading...
Prof Agus Purwanto/Foto/muhammadiyah.or.id
A
A
A
JAKARTA - Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Agus Purwanto , mengatakan posisi umat Islam, khususnya di Indonesia dalam peradaban kekinian berada di behind the stage, statusnya bukan sebagai sutradara, melainkan sebagai penonton.
"Umat Islam sekarang meski berada di era modern namun tertingal secara teknolog i dibandingkan dengan umat lain," ujar Anggota Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih PP Muhammadiyah ini, dalam Pengajian Subuh ‘Aisyiyah Jawa Barat, pada Kamis (18/3).
Baca juga: Sang Ketua Memelihara Anjing, Bagaimana Hukumnya Menurut Muhammadiyah?
Ia menjelaskan, berkaca dari Eropa dan Jepang dalam bidang sains modern, ia menyebut beberapa laboratorium yang dibangun oleh negara-negara tersebut seakan menjawab tantangan Allah SWT yang ada dalam Al Qur’an tentang ayat-ayat semesta.
“Melihat potret kita, negara yang katanya religius namun tertinggal dalam sains dan metematika. Kemudian data PISA (Programme for International Student Assessment) kita pada tahun 2019 ternyata turun dari 2016,” ungkapnya sebagaimana dilansir laman resmi Muhammadiyah ..
Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga tergolong sebagai masyarakat konsumtif. Misalnya pada 2019, bangsa ini membeli sebanyak 95 juta unit motor.
Menurut Prof. Agus, jumlah konsumsi tersebut sangat besar, terlebih motor yang digunakan bukan hasil dari produksi sendiri. Sisi negatif lain adalah ilmuan dari Indonesia masih terlalu sangat sedikit yang diakui karyanya pada level dunia.
Baca juga: Muslimah Bercadar Pelihara Anjing, Begini Pendapat Muhammadiyah
Meski bukan faktor utama dan masih mengandung banyak perdebatan, namun ia menyebut banyak sejarawan muslim mengakui bahwa salah satu penyebab mundurnya peradaban masyarakat muslim disebabkan Kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam Al Ghazali . Kitab ini dalam relasi sejarah umat Islam, berpengaruh kepada umat Islam untuk menjauhi ilmu-ilmu rasional.
Namun, keberpihakan terhadap ilmu rasional dari kalangan internal tokoh muslim dikemukakan oleh Ibnu Rusyd yang mengcounter argument kitab tersebut dengan menulis Kitab Tahafut at Tahafut. Tapi kitab ini tidak begitu populer, masih kalah populer dengan kitab yang ditulis oleh Al Ghazali.
"Umat Islam sekarang meski berada di era modern namun tertingal secara teknolog i dibandingkan dengan umat lain," ujar Anggota Bidang Hisab dan Iptek Majelis Tarjih PP Muhammadiyah ini, dalam Pengajian Subuh ‘Aisyiyah Jawa Barat, pada Kamis (18/3).
Baca juga: Sang Ketua Memelihara Anjing, Bagaimana Hukumnya Menurut Muhammadiyah?
Ia menjelaskan, berkaca dari Eropa dan Jepang dalam bidang sains modern, ia menyebut beberapa laboratorium yang dibangun oleh negara-negara tersebut seakan menjawab tantangan Allah SWT yang ada dalam Al Qur’an tentang ayat-ayat semesta.
“Melihat potret kita, negara yang katanya religius namun tertinggal dalam sains dan metematika. Kemudian data PISA (Programme for International Student Assessment) kita pada tahun 2019 ternyata turun dari 2016,” ungkapnya sebagaimana dilansir laman resmi Muhammadiyah ..
Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga tergolong sebagai masyarakat konsumtif. Misalnya pada 2019, bangsa ini membeli sebanyak 95 juta unit motor.
Menurut Prof. Agus, jumlah konsumsi tersebut sangat besar, terlebih motor yang digunakan bukan hasil dari produksi sendiri. Sisi negatif lain adalah ilmuan dari Indonesia masih terlalu sangat sedikit yang diakui karyanya pada level dunia.
Baca juga: Muslimah Bercadar Pelihara Anjing, Begini Pendapat Muhammadiyah
Meski bukan faktor utama dan masih mengandung banyak perdebatan, namun ia menyebut banyak sejarawan muslim mengakui bahwa salah satu penyebab mundurnya peradaban masyarakat muslim disebabkan Kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam Al Ghazali . Kitab ini dalam relasi sejarah umat Islam, berpengaruh kepada umat Islam untuk menjauhi ilmu-ilmu rasional.
Namun, keberpihakan terhadap ilmu rasional dari kalangan internal tokoh muslim dikemukakan oleh Ibnu Rusyd yang mengcounter argument kitab tersebut dengan menulis Kitab Tahafut at Tahafut. Tapi kitab ini tidak begitu populer, masih kalah populer dengan kitab yang ditulis oleh Al Ghazali.
Lihat Juga :