Kisah-kisah dalam Al-Quran, Pelajaran Penting Umat Manusia
Senin, 13 April 2020 - 11:12 WIB
loading...
Al-Quran merupakan bacaan sempurna dan mulia. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Al-Qur'an merupakan bacaan sempurna dan mulia karena tidak ada satu bacaanpun sejak manusia mengenal tulis-baca lima ribu tahun yang lalu dapat menandingi Al-Qur'an. Tidak ada bacaan yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis aksaranya. Bahkan dihapal huruf demi huruf oleh anak-anak, remaja, dan dewasa.
Menurut ahli tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab, dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Qur'an", tiada bacaan melebihi Al-Qur'an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat baik segi waktu dan saat turunnya, maupun sampai kepada sebab-sebab serta turunnya.
Al-Qur'an datang dengan membuka mata manusia agar menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di bumi ini. Dan juga agar mereka tidak terlena dengan kehidupan dunia sehingga mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian.
Kandungan Al-Qur'an tentang sejarah atau kisah-kisah disebut dengan istilah kisah Al-Qur'an.
Bahkan ayat-ayat yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang hukum. Hal ini memberikan isyarat bahwa Al-Qur?an sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah).
Oleh karena itu, menurut Harun Nasution, dalam buku "Islam Rasional", kisah dalam Al-Qur'an memiliki makna tersendiri bila dibandingkan isi kandungan yang lain.
"Maka perlu kiranya kita sebagai umat Islam untuk mengetahui isi kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur'an sehingga kita dapat mengambil pelajaran. Al-Qur'an selain memuat ajaran akidah (keyakinan), syari'ah (hukum Islam), akhlak, janji dan ancaman, filsafat, isyarat-isyarat, juga berisi kisah-kisah, terutama kisah seputar para Nabi dan umat mereka sebelum Nabi Muhammad SAW serta umat lainnya yang hancur karena keangkuhan mereka," tulis Harun.
Menurut Harun, di dalam al-Qur'an kata qishash diungkapkan sebanyak 26 kali dalam berbagai bentuk, baik fi'il madli, mudhari', amar, maupun mashdar yang tersebar dalam berbagai ayat dan surat.
Penggunaan kata yang berulang kali ini memberikan isyarat akan urgensinya bagi umat manusia. Bahkan salah satu surat Al-Qur'an dinamakan surat al-Qashash yang artinya kisah-kisah.
Secara bahasa, kata qashash berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar yang dipetik dari kata qashasha yaqushshu qishashan yang secara etimologi berarti mencari jejak.
Menurut ahli tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab, dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Qur'an", tiada bacaan melebihi Al-Qur'an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat baik segi waktu dan saat turunnya, maupun sampai kepada sebab-sebab serta turunnya.
Al-Qur'an datang dengan membuka mata manusia agar menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka di bumi ini. Dan juga agar mereka tidak terlena dengan kehidupan dunia sehingga mereka tidak menduga bahwa hidup mereka hanya dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian.
Kandungan Al-Qur'an tentang sejarah atau kisah-kisah disebut dengan istilah kisah Al-Qur'an.
Bahkan ayat-ayat yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang hukum. Hal ini memberikan isyarat bahwa Al-Qur?an sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah).
Oleh karena itu, menurut Harun Nasution, dalam buku "Islam Rasional", kisah dalam Al-Qur'an memiliki makna tersendiri bila dibandingkan isi kandungan yang lain.
"Maka perlu kiranya kita sebagai umat Islam untuk mengetahui isi kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur'an sehingga kita dapat mengambil pelajaran. Al-Qur'an selain memuat ajaran akidah (keyakinan), syari'ah (hukum Islam), akhlak, janji dan ancaman, filsafat, isyarat-isyarat, juga berisi kisah-kisah, terutama kisah seputar para Nabi dan umat mereka sebelum Nabi Muhammad SAW serta umat lainnya yang hancur karena keangkuhan mereka," tulis Harun.
Menurut Harun, di dalam al-Qur'an kata qishash diungkapkan sebanyak 26 kali dalam berbagai bentuk, baik fi'il madli, mudhari', amar, maupun mashdar yang tersebar dalam berbagai ayat dan surat.
Penggunaan kata yang berulang kali ini memberikan isyarat akan urgensinya bagi umat manusia. Bahkan salah satu surat Al-Qur'an dinamakan surat al-Qashash yang artinya kisah-kisah.
Secara bahasa, kata qashash berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar yang dipetik dari kata qashasha yaqushshu qishashan yang secara etimologi berarti mencari jejak.
Lihat Juga :