5 Pesan Buya Yahya Dibalik Mukjizat Isra Mikraj
Senin, 08 Maret 2021 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Memang ada sebagian perayaan Isra Mikraj yang dibarengi dengan pelanggaran syariat, seperti berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang saling berdesakan atau mungkin adanya tontonan yang membuka aurat. Akan tetapi orang yang berfikir dan berilmu akan tahu bahwasanya Isra Mikraj bukan seperti itu. Itu adalah pelanggaran-pelanggaran dalam Isra Mikraj yang harus dipangkas. Bukan Isra Mikraj nya yang harus dihentikan.
Adapun hari dan tanggal terjadinya Isra dan Mikraj memang Ulama berbeda pendapat dalam hal ini .Ada yang mengatakan tanggal 27 Rojab, ada yang mengatakan selain tanggal tersebut.Masalah hari dan tanggal tidak penting, yang jelas dan pasti bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم benar-benar Isra Mikraj dan kita tidak merayakan hari dan tanggal akan tetapi kita merayakan kejadian dan pesan yang ada di dalam kisah Isra Mikraj.
3. Nabi Muhammad Diangkat Ke Atas Langit Ketujuh.
Disebutkan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berbicara langsung dengan Alloh. Yang harus dipahami bahwa menurut jumhur ulama bahwa Nabi di saat itu tidak melihat Allah dengan mata kepala beliau, akan tetapi beliau melihat Alloh dengan mata hatinya. Dan memang benar Allah berbicara dengan Nabi Muhammad adalah dengan hakikat berbicara yang hanya Allah dan Rasulullah-lah yang tahu caranya.
Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa di saat Nabi Muhammad berbicara dengan Allah bukan berarti Nabi harus melihat dengan mata kepala beliau, ini yang harus kita yakini. Memang ada sebagian para ulama yang mengatakan Nabi Muhammad melihat dengan mata kepala beliau seperti pendapat yang dinukil dari Imam an-Nawawi, Imam Qodi’iyadh dan Imam Al-Farro'. Akan tetapi para pakar aqidah Ahlisunnah waljamaah menjelaskan bahwasanya pendapat itu adalah pendapat lemah.
4. Nabi Muhammad Berbicara dengan Allah di Atas Mustawa.
Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang setelah membaca kisah Isra Mikraj dan kisah Nabi berbicara dengan Allah di atas Sidratul Muntaha dan di atas Mustawa lalu berangan-angan bahwa Allah ada di atas langit sana. Maka yang harus dijelaskan bahwa atas Mustawa bukanlah tempatnya Allah, akan tetapi tempatnya Nabi صلى الله عليه وسلم.
Allah tidak butuh kepada tempat. Maka jangan dikatakan Allah di atas, sebab atas dan bawah adalah ciptaan Allah. Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, Allah mengajak bicara Nabi Musa di saat Nabi Musa berada di atas bukit Tursina, maka yang harus dipahami adalah bahwa bukit Tursina adalah tempatnya Nabi Musa, bukan tempatnya Allah.
"Lalu Allah dimana?" Jawabnya adalah karena Allah tidak butuh tempat, maka jangan bertanya dengan pertanyaan "Allah dimana?". Karena Alloh tidak butuh kemana-mana, Allah tidak serupa dengan makhluknya.
Kepercayaan bahwa Allah di atas langit adalah kesesatan dalam beraqidah. Hal-hal semacam itu harus diluruskan, bahkan ada di beberapa sekolahan yang siswa-siswi mereka, ditanya oleh gurunya dengan pertanyaan "Allah dimana?" Itu adalah pertanyaan fitnah yang tidak membangun aqidah. Dan itu karena mana-mana adalah ciptaan Allah dan Allah tidak butuh kepada ciptaanNya.
Diriwayatkan dari Imam Muslim tentang pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak, dengan pertanyaan "Allah dimana?" dan hal itu sudah dijelaskan oleh para Ulama panjang lebar dengan mendatangkan kisah budak tersebut dari riwayat para Imam Ahli Hadits yang lainnya, hingga tidak menyisakan keraguan apapun bahwa Allah tetap tidak butuh tempat.
5. Rasulullah bertemu dengan para Nabi dan Rasul.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam keadaan hidup bertemu dengan Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berdialog. Itu adalah mukjizat dan yang dipahami para Ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad sebagai karomah yang diberikan oleh Allah kepada orang tersebut. Dan inilah pengalaman para kekasih Allah yang sangat banyak jumlahnya bertemu dengan Nabi setelah Nabi Muhammad wafat.
Adapun hari dan tanggal terjadinya Isra dan Mikraj memang Ulama berbeda pendapat dalam hal ini .Ada yang mengatakan tanggal 27 Rojab, ada yang mengatakan selain tanggal tersebut.Masalah hari dan tanggal tidak penting, yang jelas dan pasti bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم benar-benar Isra Mikraj dan kita tidak merayakan hari dan tanggal akan tetapi kita merayakan kejadian dan pesan yang ada di dalam kisah Isra Mikraj.
3. Nabi Muhammad Diangkat Ke Atas Langit Ketujuh.
Disebutkan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berbicara langsung dengan Alloh. Yang harus dipahami bahwa menurut jumhur ulama bahwa Nabi di saat itu tidak melihat Allah dengan mata kepala beliau, akan tetapi beliau melihat Alloh dengan mata hatinya. Dan memang benar Allah berbicara dengan Nabi Muhammad adalah dengan hakikat berbicara yang hanya Allah dan Rasulullah-lah yang tahu caranya.
Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa di saat Nabi Muhammad berbicara dengan Allah bukan berarti Nabi harus melihat dengan mata kepala beliau, ini yang harus kita yakini. Memang ada sebagian para ulama yang mengatakan Nabi Muhammad melihat dengan mata kepala beliau seperti pendapat yang dinukil dari Imam an-Nawawi, Imam Qodi’iyadh dan Imam Al-Farro'. Akan tetapi para pakar aqidah Ahlisunnah waljamaah menjelaskan bahwasanya pendapat itu adalah pendapat lemah.
4. Nabi Muhammad Berbicara dengan Allah di Atas Mustawa.
Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang setelah membaca kisah Isra Mikraj dan kisah Nabi berbicara dengan Allah di atas Sidratul Muntaha dan di atas Mustawa lalu berangan-angan bahwa Allah ada di atas langit sana. Maka yang harus dijelaskan bahwa atas Mustawa bukanlah tempatnya Allah, akan tetapi tempatnya Nabi صلى الله عليه وسلم.
Allah tidak butuh kepada tempat. Maka jangan dikatakan Allah di atas, sebab atas dan bawah adalah ciptaan Allah. Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, Allah mengajak bicara Nabi Musa di saat Nabi Musa berada di atas bukit Tursina, maka yang harus dipahami adalah bahwa bukit Tursina adalah tempatnya Nabi Musa, bukan tempatnya Allah.
"Lalu Allah dimana?" Jawabnya adalah karena Allah tidak butuh tempat, maka jangan bertanya dengan pertanyaan "Allah dimana?". Karena Alloh tidak butuh kemana-mana, Allah tidak serupa dengan makhluknya.
Kepercayaan bahwa Allah di atas langit adalah kesesatan dalam beraqidah. Hal-hal semacam itu harus diluruskan, bahkan ada di beberapa sekolahan yang siswa-siswi mereka, ditanya oleh gurunya dengan pertanyaan "Allah dimana?" Itu adalah pertanyaan fitnah yang tidak membangun aqidah. Dan itu karena mana-mana adalah ciptaan Allah dan Allah tidak butuh kepada ciptaanNya.
Diriwayatkan dari Imam Muslim tentang pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak, dengan pertanyaan "Allah dimana?" dan hal itu sudah dijelaskan oleh para Ulama panjang lebar dengan mendatangkan kisah budak tersebut dari riwayat para Imam Ahli Hadits yang lainnya, hingga tidak menyisakan keraguan apapun bahwa Allah tetap tidak butuh tempat.
5. Rasulullah bertemu dengan para Nabi dan Rasul.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam keadaan hidup bertemu dengan Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berdialog. Itu adalah mukjizat dan yang dipahami para Ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad sebagai karomah yang diberikan oleh Allah kepada orang tersebut. Dan inilah pengalaman para kekasih Allah yang sangat banyak jumlahnya bertemu dengan Nabi setelah Nabi Muhammad wafat.
Lihat Juga :