Ustaz Adi Hidayat: Rajin Tahajud Tapi Masuk Neraka, Ini Penyebabnya
Rabu, 17 Maret 2021 - 13:48 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Alhamdulillah! Ini Manfaat Salat Tahajud dalam Perspektif Medis
Hakikat Kebangkrutan
Memperhatikan dan menyimak hadis tentang orang yang bangkrut tersebut, ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik.
Ciri orang yang akan bangkrut di akhirat nanti ditandai bahwa orang itu saleh secara ritual (individual), yakni orang tersebut rajin salat, tertib puasa, dan rutin membayar zakat. Namun disayangkan ia tidak salih secara sosial ditandai dengan banyaknya kesalahan yang ia perbuat terhadap sesama dengan suka mencaci maki, memfitnah, makan harta secara tidak sah, menumpahkan darah orang yang dilindungi, serta suka melakukan tindak kekerasan semisal memukul dan sejenisnya.
Hal ini juga sebagai peringatan orang yang hanya mementingkan keshalihan ritual dan tidak salih secara sosial. Bisa juga sebagai peringatan bagi orang yang ibadah vertikalnya tertib namun tidak memiliki efek manfaat kepada sesama.
Dikarenakan di akhirat dinar dan dirham sudah tidak laku dan diberlakukan lagi, maka amal shalihlah sebagai penebus kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.
Pahala salatnya, puasanya, zakatnya, dan lain-lain akan diambil buat membayar atau menebus kesalahannya. Jika mencukupi tentunya tidak terlalu bermasalah, namun jika belum mencukupi padahal amal salihnya telah habis sementara tuntutan orang yang dirugikan belum selesai, maka dosa orang yang dirugikan tadi diambil untuk dibebankan pada orang yang berbuat salah tadi.
Baca juga: Akibat Miras, Seorang Ahli Ibadah Berzina dan Membunuh Bayi Tak Berdosa
Singkat cerita orang bangkrut di hari akhirat itu memiliki banyak amal kebaikan namun sayangnya kesalahan pada sesama lebih besar nilainya dari pahala yang berhasil ia kumpulkan. Nasib akhirnya bisa ditebak, karena amal kebaikannya habis dan ‘saldo’ dosanya bertambah, maka tempat akhirnya adalah neraka. Na’udzu billah min dzalik.
Selanjutnya, agar kita selamat dari kebangkrutan akhirat ada beberapa hal yang perlu kita lakukan.
Pertama, menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dengan berusaha semaksimal mungkin mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kedua, selalu waspada agar jangan sampai (kebanyakan) melakukan kesalahan dan dosa pada sesama baik berupa ucapan, sikap maupun perbuatan.
Hakikat Kebangkrutan
Memperhatikan dan menyimak hadis tentang orang yang bangkrut tersebut, ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik.
Ciri orang yang akan bangkrut di akhirat nanti ditandai bahwa orang itu saleh secara ritual (individual), yakni orang tersebut rajin salat, tertib puasa, dan rutin membayar zakat. Namun disayangkan ia tidak salih secara sosial ditandai dengan banyaknya kesalahan yang ia perbuat terhadap sesama dengan suka mencaci maki, memfitnah, makan harta secara tidak sah, menumpahkan darah orang yang dilindungi, serta suka melakukan tindak kekerasan semisal memukul dan sejenisnya.
Hal ini juga sebagai peringatan orang yang hanya mementingkan keshalihan ritual dan tidak salih secara sosial. Bisa juga sebagai peringatan bagi orang yang ibadah vertikalnya tertib namun tidak memiliki efek manfaat kepada sesama.
Dikarenakan di akhirat dinar dan dirham sudah tidak laku dan diberlakukan lagi, maka amal shalihlah sebagai penebus kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan.
Pahala salatnya, puasanya, zakatnya, dan lain-lain akan diambil buat membayar atau menebus kesalahannya. Jika mencukupi tentunya tidak terlalu bermasalah, namun jika belum mencukupi padahal amal salihnya telah habis sementara tuntutan orang yang dirugikan belum selesai, maka dosa orang yang dirugikan tadi diambil untuk dibebankan pada orang yang berbuat salah tadi.
Baca juga: Akibat Miras, Seorang Ahli Ibadah Berzina dan Membunuh Bayi Tak Berdosa
Singkat cerita orang bangkrut di hari akhirat itu memiliki banyak amal kebaikan namun sayangnya kesalahan pada sesama lebih besar nilainya dari pahala yang berhasil ia kumpulkan. Nasib akhirnya bisa ditebak, karena amal kebaikannya habis dan ‘saldo’ dosanya bertambah, maka tempat akhirnya adalah neraka. Na’udzu billah min dzalik.
Selanjutnya, agar kita selamat dari kebangkrutan akhirat ada beberapa hal yang perlu kita lakukan.
Pertama, menjaga hubungan baik dengan Allah SWT dengan berusaha semaksimal mungkin mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kedua, selalu waspada agar jangan sampai (kebanyakan) melakukan kesalahan dan dosa pada sesama baik berupa ucapan, sikap maupun perbuatan.
Lihat Juga :