Kisah Imam Sufyan Ats-Tsauri Menegur Khalifah, Ini yang Terjadi!
Selasa, 23 Maret 2021 - 22:31 WIB
loading...
A
A
A
Pada saat itu sang khalifah sedang duduk di atas tahta dikelilingi menteri-menterinya. Tiba-tiba petir menyambar istana dan khalifah beserta menteri-menterinya itu ditelan bumi.
"Benar-benar sebuah doa yang dikabulkan dengan seketika!" kata kedua manusia mulia itu.
Seorang khalifah yang lain naik pula ke atas tahta. Ia percaya kepada kesalehan Sufyan Ats-Tsauri. Si khalifah mempunyai seorang tabib yang beragama Kristen. Ia adalah seorang guru besar dan sangat ahli. Khalifah mengirim ini untuk mengobati penyakit Sufyan Ats-Tsauri. Ketika tabib memeriksa air kencing Sufyan Ats-Tsauri, ia berkata di dalam hati.
"Inilah seorang manusia yang hatinya telah berubah menjadi darah karena takut kepada Allah. Darah keluar sedikit demi sedikit melalui kantong kemihnya." Kemudian ia menyimpulkan. "Agama yang dianut oleh seorang manusia seperti ini tidak mungkin salah."
Si tabib segera beralih kepada agama Islam. Mengenai peristiwa ini khalifah berkata: "Ku sangka aku mengirimkan seorang tabib untuk merawat seorang sakit, kiranya aku mengirim seorang sakit untuk dirawat seorang tabib yang besar."
Peristiwa-peristiwa Penuh Hikmah
Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri bersama seorang sahabatnya lewat di depan rumah seorang terkemuka. Sahabatnya terpesona memandang serambi rumah itu. Sufyan Ats-Tsauri mencela perbuatan temannya itu.
"Jika engkau beserta orang-orang yang seperti engkau ini tidak terpesona dengan istana-istana mereka, niscaya mereka tidak bermegah-megah seperti ini. Dengan terpesona seperti itu engkau ikut berdosa di dalam sikap bermegah-megah mereka."
Seorang tetangga Sufyan Ats-Tsauri meninggal dunia. Beliau pun pergi untuk membacakan doa pada penguburannya. Setelah selesai, terdengar olehnya orang-orang berkata: "Almarhum adalah seorang yang baik."
"Seandainya kau ketahui bahwa orang-orang lain menyukai almarhum. Niscaya aku tidak turut di dalam penguburan ini. Jika seseorang bukan munafik, maka orang-orang lain tidak akan menyukainya!" kata Sufyan Ats-Tsauri.
Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri salah mengenakan pakaiannya. Ketika hal ini dikatakan padanya, beliau segera memperbaiki pakaiannya tetapi cepat-cepat dibatalkannya pula niatnya itu. Beliau berkata, "Aku mengenakan pakaian ini karena Allah dan aku tak ingin mengubahnya hanya karena manusia."
Seorang pemuda mengeluh karena tidak sempat menunaikan ibadah haji. Sufyan Ats-Tsauri menegurnya: "Telah empat puluh kali aku menunaikan ibadah haji. Semuanya akan kuberikan kepadamu asalkan engkau mau memberikan keluhanmu itu kepadaku."
"Baiklah," si pemuda menjawab. Malam harinya dalam mimpinya Sufyan Ats-Tsauri mendengar sebuah suara yang berkata kepadanya: "Engkau mendapat keuntungan yang sedemikian besarnya sehingga apabila dibagi-bagikan kepada semua jamaah di Padang Arafah, niscaya setiap orang di antara mereka menjadi kaya raya."
Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri sedang menyantap sepotong roti, lewatlah seekor anjing. Anjing itu diberinya roti secabik demi secabik. Seseorang bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri:
"Benar-benar sebuah doa yang dikabulkan dengan seketika!" kata kedua manusia mulia itu.
Seorang khalifah yang lain naik pula ke atas tahta. Ia percaya kepada kesalehan Sufyan Ats-Tsauri. Si khalifah mempunyai seorang tabib yang beragama Kristen. Ia adalah seorang guru besar dan sangat ahli. Khalifah mengirim ini untuk mengobati penyakit Sufyan Ats-Tsauri. Ketika tabib memeriksa air kencing Sufyan Ats-Tsauri, ia berkata di dalam hati.
"Inilah seorang manusia yang hatinya telah berubah menjadi darah karena takut kepada Allah. Darah keluar sedikit demi sedikit melalui kantong kemihnya." Kemudian ia menyimpulkan. "Agama yang dianut oleh seorang manusia seperti ini tidak mungkin salah."
Si tabib segera beralih kepada agama Islam. Mengenai peristiwa ini khalifah berkata: "Ku sangka aku mengirimkan seorang tabib untuk merawat seorang sakit, kiranya aku mengirim seorang sakit untuk dirawat seorang tabib yang besar."
Peristiwa-peristiwa Penuh Hikmah
Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri bersama seorang sahabatnya lewat di depan rumah seorang terkemuka. Sahabatnya terpesona memandang serambi rumah itu. Sufyan Ats-Tsauri mencela perbuatan temannya itu.
"Jika engkau beserta orang-orang yang seperti engkau ini tidak terpesona dengan istana-istana mereka, niscaya mereka tidak bermegah-megah seperti ini. Dengan terpesona seperti itu engkau ikut berdosa di dalam sikap bermegah-megah mereka."
Seorang tetangga Sufyan Ats-Tsauri meninggal dunia. Beliau pun pergi untuk membacakan doa pada penguburannya. Setelah selesai, terdengar olehnya orang-orang berkata: "Almarhum adalah seorang yang baik."
"Seandainya kau ketahui bahwa orang-orang lain menyukai almarhum. Niscaya aku tidak turut di dalam penguburan ini. Jika seseorang bukan munafik, maka orang-orang lain tidak akan menyukainya!" kata Sufyan Ats-Tsauri.
Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri salah mengenakan pakaiannya. Ketika hal ini dikatakan padanya, beliau segera memperbaiki pakaiannya tetapi cepat-cepat dibatalkannya pula niatnya itu. Beliau berkata, "Aku mengenakan pakaian ini karena Allah dan aku tak ingin mengubahnya hanya karena manusia."
Seorang pemuda mengeluh karena tidak sempat menunaikan ibadah haji. Sufyan Ats-Tsauri menegurnya: "Telah empat puluh kali aku menunaikan ibadah haji. Semuanya akan kuberikan kepadamu asalkan engkau mau memberikan keluhanmu itu kepadaku."
"Baiklah," si pemuda menjawab. Malam harinya dalam mimpinya Sufyan Ats-Tsauri mendengar sebuah suara yang berkata kepadanya: "Engkau mendapat keuntungan yang sedemikian besarnya sehingga apabila dibagi-bagikan kepada semua jamaah di Padang Arafah, niscaya setiap orang di antara mereka menjadi kaya raya."
Suatu hari Sufyan Ats-Tsauri sedang menyantap sepotong roti, lewatlah seekor anjing. Anjing itu diberinya roti secabik demi secabik. Seseorang bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri:
Lihat Juga :