Renungan: Menagih Janji Tuhan, Apa Itu Harta Segalanya?
Minggu, 18 April 2021 - 04:52 WIB
loading...
Ilustrasi/ist
A
A
A
Pada hari keenam Ramadhan tahun ini seorang pengusaha muda memasang status di aplikasi WhatsApp dengan kalimat pendek: " Menunggu Janji Tuhan ".
Pengusaha muda itu adalah seorang muslim sehingga sudah barang tentu tidak main-main dengan statusnya itu. Dan Allah tak akan mengingkari janjinya. Allah berfirman: "Dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut."
Baca juga: Renungan: Menghabiskan Umur untuk Perut, Sesekali Lapar Itu Baik
Lelaki ini tentu juga menyadari bahwa menepati janji Allah dan Rasul-Nya adalah pokok pondasi dari semua janji. Bila seseorang berhasil menepati janji Allah dan rasul-Nya maka ia akan berhasil pula dalam menepati janji lainnya. Sebaliknya, bila ia gagal memenuhi janji Allah dan rasul-Nya maka ia adalah orang yg tidak lagi memiliki janji dan keimanan. Karena antara janji dan keimanan saling berhubungan.
Berdasarkan ayat tadi yang dimaksud dengan janji Allah adalah beribadah hanya kepada-Nya. Adapun yg dimaksud dengan janji rasul adalah mengikuti perjalanan sirah dan konsep kehidupannya.
Suatu kali pengusaha ini bercerita tentang banyaknya orang yang sudah mulai tak menepati janji. Itu sebabnya, ia hanya dapat berharap dari janji Tuhan.
Dan apa yang dialaminya, boleh jadi juga banyak dialami orang lain. Banyak janji yang tinggal janji. Hanya saja, pengusaha muda ini punya sandaran: Tuhan. Itu sebabnya ia tidak kehilangan pegangan dan tidak jatuh dalam kemarahan dan kesedihan.
Rasanya apa yang dilakukan lelaki ini patut ditiru; menghilangkan kemarahan dan kesedihan dengan berpegang pada nilai-nilai ketuhanan. Dan jalan ini tidak ringan karena berliku dan penuh cobaan. Kita harus menuju satu jalan bila ingin sampai ke sana yakni derajat takwa. Satu derajat yang dapat ditempuh di bulan ini dengan puasa.
Baca juga: Renungan: Membunuh dengan Lidah, Belajar dari Kodok Budeg
Mengapa?
Bulan Ramadhan, sering disambut sebagai teman yang baik, dan sebagai tamu yang selalu disambut secara terhormat. Banyak orang senang kehadiran tamu ini, kemudian juga untuk melihatnya pergi. Akhir bulan puasa diikuti dengan pesta, lebaran. Itu berarti bahwa kita dapat makan dan minum seperti hari-hari biasa.
Di kalangan sufi diistilahkan bahwa pesta ini menyiratkan pertemuan dengan Kekasih.
Pengusaha muda itu adalah seorang muslim sehingga sudah barang tentu tidak main-main dengan statusnya itu. Dan Allah tak akan mengingkari janjinya. Allah berfirman: "Dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut."
Baca juga: Renungan: Menghabiskan Umur untuk Perut, Sesekali Lapar Itu Baik
Lelaki ini tentu juga menyadari bahwa menepati janji Allah dan Rasul-Nya adalah pokok pondasi dari semua janji. Bila seseorang berhasil menepati janji Allah dan rasul-Nya maka ia akan berhasil pula dalam menepati janji lainnya. Sebaliknya, bila ia gagal memenuhi janji Allah dan rasul-Nya maka ia adalah orang yg tidak lagi memiliki janji dan keimanan. Karena antara janji dan keimanan saling berhubungan.
Berdasarkan ayat tadi yang dimaksud dengan janji Allah adalah beribadah hanya kepada-Nya. Adapun yg dimaksud dengan janji rasul adalah mengikuti perjalanan sirah dan konsep kehidupannya.
Suatu kali pengusaha ini bercerita tentang banyaknya orang yang sudah mulai tak menepati janji. Itu sebabnya, ia hanya dapat berharap dari janji Tuhan.
Dan apa yang dialaminya, boleh jadi juga banyak dialami orang lain. Banyak janji yang tinggal janji. Hanya saja, pengusaha muda ini punya sandaran: Tuhan. Itu sebabnya ia tidak kehilangan pegangan dan tidak jatuh dalam kemarahan dan kesedihan.
Rasanya apa yang dilakukan lelaki ini patut ditiru; menghilangkan kemarahan dan kesedihan dengan berpegang pada nilai-nilai ketuhanan. Dan jalan ini tidak ringan karena berliku dan penuh cobaan. Kita harus menuju satu jalan bila ingin sampai ke sana yakni derajat takwa. Satu derajat yang dapat ditempuh di bulan ini dengan puasa.
Baca juga: Renungan: Membunuh dengan Lidah, Belajar dari Kodok Budeg
Mengapa?
Bulan Ramadhan, sering disambut sebagai teman yang baik, dan sebagai tamu yang selalu disambut secara terhormat. Banyak orang senang kehadiran tamu ini, kemudian juga untuk melihatnya pergi. Akhir bulan puasa diikuti dengan pesta, lebaran. Itu berarti bahwa kita dapat makan dan minum seperti hari-hari biasa.
Di kalangan sufi diistilahkan bahwa pesta ini menyiratkan pertemuan dengan Kekasih.
Lihat Juga :