Hindari Perkara Ini Agar Ibadah Puasa Ramadhan Tidak Sia-sia
Minggu, 25 April 2021 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba'in. Beliau menjelaskan: "Imam Syafi'i menjelaskan bahwa maksud hadis ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu."
Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silakan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara.
Sebagian ulama berkata, "Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para Malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara."
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam Kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala: "Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan.
Beliau berkata pula: "Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara."
Pentingnya Menjaga Lisan
Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.
Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.
Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
"Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat." (HR Al-Bukhari dan dan Muslim)
Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada sahabat Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda:
Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silakan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara.
Sebagian ulama berkata, "Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para Malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara."
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam Kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala: "Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan.
Beliau berkata pula: "Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara."
Pentingnya Menjaga Lisan
Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.
Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.
Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
"Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat." (HR Al-Bukhari dan dan Muslim)
Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada sahabat Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda:
Lihat Juga :