Kisah Sunan Muria Adu Sakti untuk Mendapatkan Si Cantik Dewi Roroyono
Senin, 26 April 2021 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
“Aku masih sanggup merebutnya sendiri,” ujar Sunan Muria.
“Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali,” desak Kapa.
Baca juga: Jejak Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti Gresik
Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di Padepokan Gunung Muria.
Dalam menjalankan tugas merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri meminta bantuan Wiku Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.
Di sisi lain, Sunan Muria gelisah menanti kabar hasil kerja kedua saudara seperguruanya itu. Ia pun segera pergi ke Ngerang untuk mengecek langsung. Ia ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri.
Di tengah jalan Sunan Muria bertemu dengan Adipati Pathak Warak yang memacu kudanya.
“Hai Pathak Warak berhenti kau!” bentak Sunan Muria, menghadang lari kudanya.
Pathak Warak terpaksa menarik kekang kudanya. “Minggir! Jangan menghalangi jalanku!” hardik Pathak Warak.
“Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono!”
“Goblok! Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri. Kini aku hendak mengejar mereka!” umpat Pathak Warak.
“Untuk apa kau mengejar mereka?” tanya Sunan Muria.
“Merebutnya kembali!” jawab Pathak Warak dengan sengit.
“Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku!” ujar Sunan Muria, melompat dari punggung kudanya, di susul Pathak Warak.
Dia merangsak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan Sunan Muria yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak roboh di tanah. Seluruh kesaktiannya seakan lenyap dan ia menjadi lumpuh, tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.
Baca juga: Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Wayang Kulit, dan Peresmian Masjid Demak
Menikah
Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.
Upacara pernikahanpun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan.
Sedangkan Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.
Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa mengganggunya. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang menghujam di dada.
Mereka menyesal, mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan.
Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan mereka. Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus ke arah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh Iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.
“Itu benar, tapi membimbing orang memperdalam agama Islam juga lebih penting, percayalah pada kami. Kami pasti sanggup merebutnya kembali,” desak Kapa.
Baca juga: Jejak Sunan Kalijaga di Bukit Surowiti Gresik
Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di Padepokan Gunung Muria.
Dalam menjalankan tugas merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri meminta bantuan Wiku Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.
Di sisi lain, Sunan Muria gelisah menanti kabar hasil kerja kedua saudara seperguruanya itu. Ia pun segera pergi ke Ngerang untuk mengecek langsung. Ia ingin mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri.
Di tengah jalan Sunan Muria bertemu dengan Adipati Pathak Warak yang memacu kudanya.
“Hai Pathak Warak berhenti kau!” bentak Sunan Muria, menghadang lari kudanya.
Pathak Warak terpaksa menarik kekang kudanya. “Minggir! Jangan menghalangi jalanku!” hardik Pathak Warak.
“Boleh, asal kau kembalikan Dewi Roroyono!”
“Goblok! Roroyono sudah dibawa Kapa dan Gentiri. Kini aku hendak mengejar mereka!” umpat Pathak Warak.
“Untuk apa kau mengejar mereka?” tanya Sunan Muria.
“Merebutnya kembali!” jawab Pathak Warak dengan sengit.
“Kalau begitu langkahi dulu mayatku, Roroyono telah dijodohkan denganku!” ujar Sunan Muria, melompat dari punggung kudanya, di susul Pathak Warak.
Dia merangsak ke arah Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan Sunan Muria yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak roboh di tanah. Seluruh kesaktiannya seakan lenyap dan ia menjadi lumpuh, tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan.
Baca juga: Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Wayang Kulit, dan Peresmian Masjid Demak
Menikah
Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana. Kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.
Upacara pernikahanpun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan.
Sedangkan Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.
Tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa mengganggunya. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Hanya penyesalan yang menghujam di dada.
Mereka menyesal, mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan.
Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan mereka. Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus ke arah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh Iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.
Lihat Juga :