Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak
Jum'at, 22 Mei 2020 - 08:30 WIB
loading...
A
A
A
Amirul Mukminin tergeletak bercucuran darah di depan mereka, dan darah orang-orang yang juga terkena tikaman itu bergelimang di depan mereka. Dan pembunuh itu juga sedang berada dalam kondisi sakaratul maut.
Demikian tragedi berdarah dalam sejarah kelam fitnah itu dipaparkan oleh Muhammad Husien Haikal secara dramatikal di dalam Kitab "Umar Al-Farouq".
Pagi itu, suasana gempar dan kacau. Orang-orang yang baru terbangun dari tidurnya pun berusaha mencari kabar tentang peristiwa yang baru terjadi. Keadaan menjadi sangat menegangkan.
Orang-orang yang menjadi korban akibat tikaman Abu Lu'luah dibawa pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebagian ada yang telah meninggal dunia, sebagian lagi masih mengerang-ngerang kesakitan, akibat perihnya perut mereka yang terluka oleh sayatan tajam senjata si pembunuh Umar itu.
Di rumahnya, Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Darah segar terus membanjiri kain balutan yang mengikat di perutnya. Tak henti-hentinya mengucur derasnya.
Ibnu Abbas memasuki rumah Amirul Mukminin. Ia masih melihat Umar bin Khattab tergeletak di atas kasurnya tak sadarkan diri. Keluarga sudah memanggil tabib untuk datang mengobati. Abdullah bin Umar memanggil seorang tabib dari kaum Anshar dan seorang lagi tabib dari kalangan Bani Umawiyyah.
Tak berapa lama, tabib pun datang memberikan pengobatan. Umar tersadar dari pingsannya. Ia bertanya, "Apakah kaum muslimin sudah melaksanakan salat ?" Mereka menjawab, "Sudah!"
Kemudian, sang tabib meminumkan susu padanya. Susu yang diminumkan itu pun pada akhirnya keluar putih dari perutnya. Tak ada harapan, kondisi sahabat yang dicintai Rasulullah SAW itu akan membaik. Lantas Ibn Abbas berkata pada Umar bin Khattab :
"Wahai Amirul Mukminin, berwasiatlah!"
Semua orang yang hadir pun menangis. Umar bin Khattab berkata, "Jangan menangisi kami. Barangsiapa yang mau menangis, keluarlah! Tidakkah kalian mendengar kata Rasulullah SAW , "Mayat akan disiksa disebabkan tangisan keluarganya!"
Jika kita telusuri sekilas kisah singkat sebelum terjadinya tragedi itu. Menurut Imam at-Thabari dan Ibn al-Atsir menceritakan, bahwa sebelum wafatnya Umar bin Khattab , setelah beliau melaksanakan ibadah haji, Umar bin Khattab berjalan-jalan berkeliling di pasar.
Ketika itu, beliau bertemu dengan seorang budak bernama Abu Lu'luah yang kelak akan menjadi pembunuh beliau. Abu Lu'luah menemuinya dan berkata kepadanya:
"Wahai Amirul Mukminin , bicarakan soal saya dengan majikan saya al-Mughirah bin Syu'bah, sebab pajak yang ia kenakan pada saya terlalu tinggi.
Demikian tragedi berdarah dalam sejarah kelam fitnah itu dipaparkan oleh Muhammad Husien Haikal secara dramatikal di dalam Kitab "Umar Al-Farouq".
Pagi itu, suasana gempar dan kacau. Orang-orang yang baru terbangun dari tidurnya pun berusaha mencari kabar tentang peristiwa yang baru terjadi. Keadaan menjadi sangat menegangkan.
Orang-orang yang menjadi korban akibat tikaman Abu Lu'luah dibawa pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebagian ada yang telah meninggal dunia, sebagian lagi masih mengerang-ngerang kesakitan, akibat perihnya perut mereka yang terluka oleh sayatan tajam senjata si pembunuh Umar itu.
Di rumahnya, Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Darah segar terus membanjiri kain balutan yang mengikat di perutnya. Tak henti-hentinya mengucur derasnya.
Ibnu Abbas memasuki rumah Amirul Mukminin. Ia masih melihat Umar bin Khattab tergeletak di atas kasurnya tak sadarkan diri. Keluarga sudah memanggil tabib untuk datang mengobati. Abdullah bin Umar memanggil seorang tabib dari kaum Anshar dan seorang lagi tabib dari kalangan Bani Umawiyyah.
Tak berapa lama, tabib pun datang memberikan pengobatan. Umar tersadar dari pingsannya. Ia bertanya, "Apakah kaum muslimin sudah melaksanakan salat ?" Mereka menjawab, "Sudah!"
Kemudian, sang tabib meminumkan susu padanya. Susu yang diminumkan itu pun pada akhirnya keluar putih dari perutnya. Tak ada harapan, kondisi sahabat yang dicintai Rasulullah SAW itu akan membaik. Lantas Ibn Abbas berkata pada Umar bin Khattab :
"Wahai Amirul Mukminin, berwasiatlah!"
Semua orang yang hadir pun menangis. Umar bin Khattab berkata, "Jangan menangisi kami. Barangsiapa yang mau menangis, keluarlah! Tidakkah kalian mendengar kata Rasulullah SAW , "Mayat akan disiksa disebabkan tangisan keluarganya!"
Jika kita telusuri sekilas kisah singkat sebelum terjadinya tragedi itu. Menurut Imam at-Thabari dan Ibn al-Atsir menceritakan, bahwa sebelum wafatnya Umar bin Khattab , setelah beliau melaksanakan ibadah haji, Umar bin Khattab berjalan-jalan berkeliling di pasar.
Ketika itu, beliau bertemu dengan seorang budak bernama Abu Lu'luah yang kelak akan menjadi pembunuh beliau. Abu Lu'luah menemuinya dan berkata kepadanya:
"Wahai Amirul Mukminin , bicarakan soal saya dengan majikan saya al-Mughirah bin Syu'bah, sebab pajak yang ia kenakan pada saya terlalu tinggi.
Lihat Juga :