Kisah Anak Yatim dan Pelajaran Berlebaran dari Rasulullah SAW
Sabtu, 15 Mei 2021 - 14:14 WIB
loading...
A
A
A
Sekarang, anak yatim itu bisa bermain dengan penuh tawa bahagia bersama teman-teman seusianya.
Melihat itu, anak-anak yang lain melihatnya penasaran, “Bukannya engkau yang dulu menangis, mengapa sekarang terlihat begitu bahagia?” tanya mereka penasaran.
Anak yatim itu menjawab, “Memang, dulu aku kelaparan, tapi sekarang aku kenyang. Dulu pakaianku buruk, kini sudah tidak lagi. Dulu aku seorang yatim, tapi kini Rasulullah adalah ayahku, ‘Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudara laki-lakiku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”
Anak-anak yang mendengar pengakuan itu merasa iri. “Andai saja bapak kami syahid saat peperangan, pasti sudah seperti engkau.”
Setelah Rasulullah wafat, anak itu kembali terlunta sebagai akan yatim. Kemudian diasuh oleh Abu Bakar ra. Kisah Rasulullah SAW dan anak yatim di atas memiliki beberapa pelajaran penting yang perlu kita teladani.
Baca juga: Mesut Ozil Kirim Doa Idul Fitri untuk Palestina yang Digempur Israel
Menurut Muhamad Abror, Pengasuh Madrasah Baca Kitab, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, dalam tulisannya di laman resmi Nahdlatul Ulama, di antara pelajaran itu adalah sebagai berikut:
Pertama, momen Idul Fitri merupakan momen berbahagia. Tapi jangan sampai kita terlalu larut dalam kebahagiaan diri sendiri sampai melupakan nasib orang lain.
Dari kisah itu, kita melihat sendiri bagaimana Rasulullah begitu iba melihat kondisi sebatang kara anak yatim yang tengah bersedih, di saat anak-anak usia seusianya bersuka cita. Melihat kepiluan itu, tanpa pikir panjang, Rasulullah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, anak yatim itu hidup dengan penuh bahagia.
Kedua, pentingnya rasa tanggung jawab. Sebagai nabi sekaligus kepala negara, Rasulullah memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap rakyatnya. Ketika beliau melihat ada sebatang kara anak yatim yang ayahnya meninggal karena peperangan, dengan sifat kepemimpinannya, Rasulullah merasa bertanggung jawab dan tanpa pikir panjang mengadopsinya.
Melihat itu, anak-anak yang lain melihatnya penasaran, “Bukannya engkau yang dulu menangis, mengapa sekarang terlihat begitu bahagia?” tanya mereka penasaran.
Anak yatim itu menjawab, “Memang, dulu aku kelaparan, tapi sekarang aku kenyang. Dulu pakaianku buruk, kini sudah tidak lagi. Dulu aku seorang yatim, tapi kini Rasulullah adalah ayahku, ‘Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudara laki-lakiku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”
Anak-anak yang mendengar pengakuan itu merasa iri. “Andai saja bapak kami syahid saat peperangan, pasti sudah seperti engkau.”
Setelah Rasulullah wafat, anak itu kembali terlunta sebagai akan yatim. Kemudian diasuh oleh Abu Bakar ra. Kisah Rasulullah SAW dan anak yatim di atas memiliki beberapa pelajaran penting yang perlu kita teladani.
Baca juga: Mesut Ozil Kirim Doa Idul Fitri untuk Palestina yang Digempur Israel
Menurut Muhamad Abror, Pengasuh Madrasah Baca Kitab, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, dalam tulisannya di laman resmi Nahdlatul Ulama, di antara pelajaran itu adalah sebagai berikut:
Pertama, momen Idul Fitri merupakan momen berbahagia. Tapi jangan sampai kita terlalu larut dalam kebahagiaan diri sendiri sampai melupakan nasib orang lain.
Dari kisah itu, kita melihat sendiri bagaimana Rasulullah begitu iba melihat kondisi sebatang kara anak yatim yang tengah bersedih, di saat anak-anak usia seusianya bersuka cita. Melihat kepiluan itu, tanpa pikir panjang, Rasulullah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, anak yatim itu hidup dengan penuh bahagia.
Kedua, pentingnya rasa tanggung jawab. Sebagai nabi sekaligus kepala negara, Rasulullah memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap rakyatnya. Ketika beliau melihat ada sebatang kara anak yatim yang ayahnya meninggal karena peperangan, dengan sifat kepemimpinannya, Rasulullah merasa bertanggung jawab dan tanpa pikir panjang mengadopsinya.
Lihat Juga :