Puasa dan Transformasi Hidup (1)

loading...
Puasa dan Transformasi Hidup (1)
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
Ustaz Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation,
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center

Tulisan ini adalah bagian dari catatan Ramadhan yang telah saya sampaikan pada berbagai kesempatan ceramah di bulan Ramadhan. Pengingat (dzikra) untuk kita semua jika Ramadhan hendaknya tidak saja dijadikan sebagai bulan ritual rutinitas semata. Apalagi sekadar menjadi ajang (seolah) sedang hitung-hitungan dengan Allah Ta'ala.

Ramadhan atau bulan puasa, sebagaimana ibadah-ibadah dalam Islam lainnya, kerap disikapi secara terbatas dan parsial. Saya menilai ini karena memang ada kesalahan Umat dalam memandang Islam itu sendiri. Umat masih memandang Islam sebagai sekedar agama. Dalam artian Islam seolah hanyalah tuntunan ritual untuk memenuhi kebutuhan spiritualitas semata. Padahal Islam adalah agama kehidupan atau agama yang menjadi petunjuk hidup secara menyeluruh (way of life).

Dan karenanya untuk membenahi kesalah pahaman tentang ibadah-ibadah ritual dalam Islam, menjadi penting bagi Umat ini untuk membenarkan wawasan atau cara pandang tentang Islam itu sendiri. Bahwa Islam harusnya dipahami sebagai jalan hidup dan bukan sekedar tumpukan ritual yang kerap menjadi ritunitas hidup semata.

Dalam konteks inilah kemudian harusnya kita memahami puasa dan ibadah-ibadah lainnya dalam Islam. Bahwa puasa bukan sekedar amalan ritual yang terpisah dari hidup dan kehidupan manusia. Justru puasa menjadi bagian dari akar hidup seorang Muslim.

Pada tataran ini pula saya selalu menekankan agar Ramadhan atau bulan puasa harus menjadi bulan pembelajaran (month of learnings). Bahkan harusnya menjadi bulan yang dapat membawa kepada perubahan mendasar (inherent change) dalam hidup manusia. Perubahan mendasar inilah yang saya istilahkan dengan transformasi hidup (life transformation).

Beberapa bentuk transformasi yang harus terjadi selama Ramadhan itu, antara lain:

Pertama, transformasi spiritualitas (spiritual transformation). Ketika kita mendefenisikan manusia maka manusia itu adalah "spiritual being in a physical body" (manusia adalah wujud spiritulitas yang bertengger pada wujud fisikalnya).

Ini menunjukkan bahwa kemanusiaan (insaniyat) itulah sesungguhnya yang menentukan siapa dan bagaimana manusia. Dan ketika kita berbicara tentang kemanusiaan (insaniyat) manusia maka esensinya ada pada aspek spiritulitasnya.

Sayangnya dunia kita saat ini didominasi oleh aspek material (physical) kehidupan. Dunia kita adalah dunia materilistik dan berpaham materialisme. Sehingga manusia dalam banyak hal melupakan esensi kemanusiaannya (humanity). Manusia nampak seperti manusia tapi bukan manusia karena hampa dengan kemanusiaan (insaniyat).
halaman ke-1
cover top ayah
اَللّٰهُ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ الۡكِتٰبَ بِالۡحَقِّ وَالۡمِيۡزَانَ‌ؕ وَمَا يُدۡرِيۡكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيۡبٌ
Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat?

(QS. Asy-Syura:17)
cover bottom ayah
preload video