Al-Qur'an Kitab Mulia (1): Makna Alif Lam Mim yang Jarang Diketahui
Jum'at, 28 Mei 2021 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
Tidak mengherankan banyak sekali ayat-ayat yang diujung kalimat menantang pembacanya untuk berpikir, merenung dan sebagainya. Anda tidak perlu mondok puluhan tahun, atau belajar nahwu-sharaf —meskipun ini sangat diperlukan bagi tafsir untuk referensi umat, katakanlah seperti tafsir yang ditulis oleh mufassir berkualitas tinggi seperti, tafsir Al-Misbah, tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Abbas dan lainnya— untuk bisa memaknai secara pribadi ayat-ayat Al-Qur'an.
Paling tidak, baca dan tafsirkanlah Qur'an untuk keperluan anda diri sendiri. Sebab Al-Qur'an ini bukan kitabnya orang Islam saja, ia juga disuguhkan Allah bagi manusia, jin, dan alam semesta, apapun agamanya. Disitulah nilai ibadahnya bagi muslim dan kita akan dihisab berdasarkan pemahaman kita masing-masing terhadap Qur'an kelak di hari pembalasan.
Jangan sampai kita taklid buta, minimal paham meskipun tidak bisa menemukan maknanya sendiri. Batasan paling aman untuk menafsirkan Quran secara mandiri menurut saya cuma satu; bila anda terkena penyakit setan "Ana khairun minhu", maka disitulah kesesatan akan muncul di kemudian hari.
Sebab prinsip anda lebih baik dari orang lain itulah pokok dari segala macam kejahatan di dunia, yang membuat Iblis dikutuk Allah. Artinya, bacalah juga tafsir-tafsir lain dan juga semua ilmu pengetahuan sebagai pembanding pemahaman anda.
Subhanallah, Anda bisa tiba-tiba menangis, bila memahami hakikat-hakikat yang tersembunyi di dalamnya, misalnya mengapa kucing bisa memiliki keahlian yang sama saat buang hajat, meski tidak pernah belajar atau bahkan dididik oleh induknya. Mereka pasti sebisa mungkin mencari tempat yang tersembunyi, mengais-ngais, dan menutup kotorannya. Itu namanya insting yang diberikan Allah satu paket dalam ruh kucing. Insting juga diberikan kepada manusia, namanya reflek].
(ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, [Hanya orang yang takut akan larangan dan taat perintah Allah yang bisa menjadikan Qur'an sebagai petunjuk dalam kehidupan, mencari dan bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Karena itu tidak mengherankan bila sudah sangat banyak sarjana non-muslim di dunia barat yang mempelajari Quran tidak mendapat hidayah masuk Islam, karena memang tujuannya untuk pengetahuan semata.
Sebaliknya ada Muallaf yang masuk Islam hanya gara-gara mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, itulah dahsyatnya Qur'an, maknanya bisa sangat personal sekaligus universal. Untuk itu, modal utama mempelajari Quran adalah niat yang luhur, untuk mendapatkan ilmu Allah, hanya ini yang dibutuhkan --dimana ada niat disitu ada jalan--.
(Bersambung)!
Baca Juga: Sejarah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, Pengertian dan Jenisnya (2)
Paling tidak, baca dan tafsirkanlah Qur'an untuk keperluan anda diri sendiri. Sebab Al-Qur'an ini bukan kitabnya orang Islam saja, ia juga disuguhkan Allah bagi manusia, jin, dan alam semesta, apapun agamanya. Disitulah nilai ibadahnya bagi muslim dan kita akan dihisab berdasarkan pemahaman kita masing-masing terhadap Qur'an kelak di hari pembalasan.
Jangan sampai kita taklid buta, minimal paham meskipun tidak bisa menemukan maknanya sendiri. Batasan paling aman untuk menafsirkan Quran secara mandiri menurut saya cuma satu; bila anda terkena penyakit setan "Ana khairun minhu", maka disitulah kesesatan akan muncul di kemudian hari.
Sebab prinsip anda lebih baik dari orang lain itulah pokok dari segala macam kejahatan di dunia, yang membuat Iblis dikutuk Allah. Artinya, bacalah juga tafsir-tafsir lain dan juga semua ilmu pengetahuan sebagai pembanding pemahaman anda.
Subhanallah, Anda bisa tiba-tiba menangis, bila memahami hakikat-hakikat yang tersembunyi di dalamnya, misalnya mengapa kucing bisa memiliki keahlian yang sama saat buang hajat, meski tidak pernah belajar atau bahkan dididik oleh induknya. Mereka pasti sebisa mungkin mencari tempat yang tersembunyi, mengais-ngais, dan menutup kotorannya. Itu namanya insting yang diberikan Allah satu paket dalam ruh kucing. Insting juga diberikan kepada manusia, namanya reflek].
(ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, [Hanya orang yang takut akan larangan dan taat perintah Allah yang bisa menjadikan Qur'an sebagai petunjuk dalam kehidupan, mencari dan bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Karena itu tidak mengherankan bila sudah sangat banyak sarjana non-muslim di dunia barat yang mempelajari Quran tidak mendapat hidayah masuk Islam, karena memang tujuannya untuk pengetahuan semata.
Sebaliknya ada Muallaf yang masuk Islam hanya gara-gara mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, itulah dahsyatnya Qur'an, maknanya bisa sangat personal sekaligus universal. Untuk itu, modal utama mempelajari Quran adalah niat yang luhur, untuk mendapatkan ilmu Allah, hanya ini yang dibutuhkan --dimana ada niat disitu ada jalan--.
(Bersambung)!
Baca Juga: Sejarah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, Pengertian dan Jenisnya (2)
(rhs)
Lihat Juga :