Jangan Bergembira Berlebihan, Waspada Pada Ajal yang Kian Dekat
Senin, 31 Mei 2021 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Hasan Al Bashri mengatakan: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148).
Baca juga: Bus Peziarah Adu Banteng dengan Truk di Pantura Demak, 1 Penumpang Tewas
Artinya jangan bergembira berlebihan, ingatlah bahwa hidup di dunia adalah sementara. Bukankah yang Islam mengajarkan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk Akhirat. Berbekal untuk kematian.
Ibnu ‘Umar pernah berkata:
*إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ*
“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416).
Baca juga: Budi Daya Bunga Kuliner, Bisa Kantongi Omzet Puluhan Juta
Hadis ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bermewah-mewahan dan mengira bahwa kehidupan dunia akan abadi. Padahal hidup di dunia tidak lama.
Aun bin ‘Abdullah berkata: “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.”
Baca juga: Peringati Hari Lanjut Usia, Risma Tegaskan Lansia Bukan Beban Negara
Baca juga: Bus Peziarah Adu Banteng dengan Truk di Pantura Demak, 1 Penumpang Tewas
Artinya jangan bergembira berlebihan, ingatlah bahwa hidup di dunia adalah sementara. Bukankah yang Islam mengajarkan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun beramallah demi persiapan bekal untuk Akhirat. Berbekal untuk kematian.
Ibnu ‘Umar pernah berkata:
*إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ*
“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416).
Baca juga: Budi Daya Bunga Kuliner, Bisa Kantongi Omzet Puluhan Juta
Hadis ini mengajarkan untuk tidak panjang angan-angan, bermewah-mewahan dan mengira bahwa kehidupan dunia akan abadi. Padahal hidup di dunia tidak lama.
Aun bin ‘Abdullah berkata: “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur, ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang angan-angan.”
Baca juga: Peringati Hari Lanjut Usia, Risma Tegaskan Lansia Bukan Beban Negara
Lihat Juga :