Mungkinkah Indonesia Bernasib seperti Palestina? Ini Jawaban Hajriyanto
Senin, 31 Mei 2021 - 10:17 WIB
loading...
A
A
A
Dia menerangkan, di Indonesia, bisa juga antusiasme Islam tinggi, tapi nanti pada abad-abad tertentu turun. Maka dari itu, Hajri mengingatkan ada Muhammadiyah untuk berdakwah supaya tidak terjadi seperti itu.
Di Amerika, Hajri mengatakan Islam menjadi nomor dua setelah Kristen. Pahala sebelumnya Yahudi menduduki peringkat kedua. Tapi orang Islam di sana belum sekuat Yahudi, karena saat ini Yahudi masih kuat.
Baca juga: Kisah Panjang Mengubah Gereja Menjadi Masjid setelah Damsyik Takluk
Optimis Islam Menang
Menjawab pertanyaan ‘Apakah bisa orang Cina berkuasa di Indonesia’ dia mengarahkan untuk membalik pertanyaannya hingga terkesan optimis. “Apakah bisa umat Islam yang sekarang ini cuma menguasai porsi kecil perekonomian, ke depan berbalik menjadi yang mayoritas?”
Hajri mencontohkan, misal ada seribu orang terkaya, orang Islamnya cuma ada 16. Pertanyaan optimis selanjutnya, “Abad ke berapa nanti berbalik?”
Dia mengimbau tidak menanyakan kapan umat Islam kalah, melainkan fokus bertanya kapan umat Islam yang menang. “Islam itu kan optimis, Islam memberikan harapan,” tuturnya.
Sebagai pemimpin, lanjutnya, jangan membiasakan membuat pertanyaan-pertanyaan yang pesimistis. Coba kita buat pertanyaan-pertanyaan optimistis.
“Sekarang Muslim di Cina kurang, bisa saja nanti ke depan mereka banyak Muslim, daratan Cina dulu banyak Muslimnya,” ungkapnya.
Dia menegaskan, artinya, pada masa kekhalifahan Umayah dan Abasiyah pun umat beragama Kristen dibiarkan dengan kebebasan beragama. Umat Islam kalau berkuasa tidak pernah memaksa kebebasan agama untuk dianut.
“Ini menunjukkan perjalanan sejarah manusia bisa berubah-ubah dan sejarah menunjukkan kepada kita seperti itulah yang terjadi, oleh karena itu (mari) kita optimis,” tuturnya.
Baca juga: Ribuan Orang Penuhi Jalanan Washington, Desak AS Hentikan Bantuan pada Israel
Dihormati
Di sisi lain, Hajriyanto menjelaskan bahwa Indonesia sangat berpotensi dihormati. Mengingat, Indonesia oleh negara-negara Barat dan Amerika, dipandang lebih dari negara-negara Arab.
Di Amerika, Hajri mengatakan Islam menjadi nomor dua setelah Kristen. Pahala sebelumnya Yahudi menduduki peringkat kedua. Tapi orang Islam di sana belum sekuat Yahudi, karena saat ini Yahudi masih kuat.
Baca juga: Kisah Panjang Mengubah Gereja Menjadi Masjid setelah Damsyik Takluk
Optimis Islam Menang
Menjawab pertanyaan ‘Apakah bisa orang Cina berkuasa di Indonesia’ dia mengarahkan untuk membalik pertanyaannya hingga terkesan optimis. “Apakah bisa umat Islam yang sekarang ini cuma menguasai porsi kecil perekonomian, ke depan berbalik menjadi yang mayoritas?”
Hajri mencontohkan, misal ada seribu orang terkaya, orang Islamnya cuma ada 16. Pertanyaan optimis selanjutnya, “Abad ke berapa nanti berbalik?”
Dia mengimbau tidak menanyakan kapan umat Islam kalah, melainkan fokus bertanya kapan umat Islam yang menang. “Islam itu kan optimis, Islam memberikan harapan,” tuturnya.
Sebagai pemimpin, lanjutnya, jangan membiasakan membuat pertanyaan-pertanyaan yang pesimistis. Coba kita buat pertanyaan-pertanyaan optimistis.
“Sekarang Muslim di Cina kurang, bisa saja nanti ke depan mereka banyak Muslim, daratan Cina dulu banyak Muslimnya,” ungkapnya.
Dia menegaskan, artinya, pada masa kekhalifahan Umayah dan Abasiyah pun umat beragama Kristen dibiarkan dengan kebebasan beragama. Umat Islam kalau berkuasa tidak pernah memaksa kebebasan agama untuk dianut.
“Ini menunjukkan perjalanan sejarah manusia bisa berubah-ubah dan sejarah menunjukkan kepada kita seperti itulah yang terjadi, oleh karena itu (mari) kita optimis,” tuturnya.
Baca juga: Ribuan Orang Penuhi Jalanan Washington, Desak AS Hentikan Bantuan pada Israel
Dihormati
Di sisi lain, Hajriyanto menjelaskan bahwa Indonesia sangat berpotensi dihormati. Mengingat, Indonesia oleh negara-negara Barat dan Amerika, dipandang lebih dari negara-negara Arab.
Lihat Juga :