Begini Kondisi Maju Pesatnya Dinasti Abbasiyah di Era Abu Nawas
Selasa, 01 Juni 2021 - 14:07 WIB
loading...
Kota Baghdad pada masa Abbasiyah berbentuk bundar/Foto/BBC.co.uk
A
A
A
Al-Hasan bin Hani' alias Abu Nuwas (dengan Vokal “u”)—yang dalam dialek kita menjadi Abu Nawas —dilahirkan di desa Suug al-Ahwaz, sebuah desa di kawasan Khurdistan, sebelah barat laut Baghdad, pada tahun 140 H (757 M). Sang ayah, dari bangsa Arab sedangkan ibunya dari Persia.
Baca juga: Ketika Abu Nawas dengan Sukarela Masuk ke Penjara
Kala itu, Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Berbagai aktivitas di sektor politik, sosial, dan ekonomi bergerak begitu mengagumkan. Hal ini memberi pengaruh besar terhadap pola pikir bangsa Arab dalam membenahi kebudayaan mereka di satu sisi, dan terhadap perkembangan syair maupun genre sastra lain—di sisi yang lain.
Berbaurnya berbagai bangsa dengan kebudayaan masing-masing di bumi kaum muslim merupakan penyebab utama pesatnya kemajuan kebudayaan.
Wilayah Islam ketika itu mencakup Khurasan, India, Iran, Irak, Semenanjung Arabia, Syria, Mesir, Maroko, dan lain lain. Setiap teritorial memiliki ciri khas kebudayaan masing masing. Dengan demikian, ketika berbagai negeri itu berada dalam tatanan kaum muslimin, dengan sendirinya kebudayaan mereka pun berbaur dengan unsur utama, yakni kebudayaan Arab yang berasaskan Al-Qur'an. Percampuran ini benar benar membaur menjadi satu, bukan sekadar pertukaran lagi.
Yang membanggakan lagi, perbedaan bahasa, latar belakang sejarah, dan kebudayaan berbagai bangsa itu tidak menjadi penghalang untuk menyatu dan melebur diri menjadi ummatan wahidatan (umat yang bersatu) di bawah panji-panji Islam.
Mereka menjunjung bahasa yang satu, yaitu bahasa Al-Qur'an, meski teritorial mereka berbeda-beda dan saling berjauhan. Pada akhirnya, bahasa Al-Qur'an ini bisa menggerakkan daya pikir dan kebudayaan pada taraf yang sangat mengagumkan.
Akibat percampuran berbagai bangsa itulah timbul berbagai kompetisi dalam budaya sehingga banyak sekali buku dari Persia dan negeri-negeri yang jauh bisa diserap dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Baca juga: Duluan Mana Telur atau Ayam? Begini Jawaban Cerdas Abu Nawas
Kendatipun kita tidak mengetahui apakah syair-syair Persia juga diterjemahkan mentah-mentah ke dalam bahasa Arab, namun semua itu telah membawa perubahan dan pengaruh yang signifikan dalam memberi jiwa syair-syair bahasa Arab.
Pada periode itu pula muncul tokoh-tokoh besar dan ulama kenamaan serta buku-buku yang tidak ternilai harganya, yang semuanya telah mengantarkan kemuliaan bahasa Al-Qur'an itu sendiri.
Abu Hanifah dan murid-muridnya muncul sebagai tokoh dalam ilmu Syari'at, Imam Sibawaih terkenal dengan bidang pembukuan gramatika (nahwu), Ibnul Muqaffa' di bidang prosa, dan Bisyar serta tentu saja—Abu Nawas di bidang syair.
Dari sini pula berkembang ilmu ilmu yang lain, seperti filsafat, kedokteran, metafisika, fisika, dan lain-lain sehingga menjadi sebuah warisan adiluhung yang berlangsung sampai beberapa abad selanjutnya.
Baca juga: Ketika Abu Nawas dengan Sukarela Masuk ke Penjara
Kala itu, Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Berbagai aktivitas di sektor politik, sosial, dan ekonomi bergerak begitu mengagumkan. Hal ini memberi pengaruh besar terhadap pola pikir bangsa Arab dalam membenahi kebudayaan mereka di satu sisi, dan terhadap perkembangan syair maupun genre sastra lain—di sisi yang lain.
Berbaurnya berbagai bangsa dengan kebudayaan masing-masing di bumi kaum muslim merupakan penyebab utama pesatnya kemajuan kebudayaan.
Wilayah Islam ketika itu mencakup Khurasan, India, Iran, Irak, Semenanjung Arabia, Syria, Mesir, Maroko, dan lain lain. Setiap teritorial memiliki ciri khas kebudayaan masing masing. Dengan demikian, ketika berbagai negeri itu berada dalam tatanan kaum muslimin, dengan sendirinya kebudayaan mereka pun berbaur dengan unsur utama, yakni kebudayaan Arab yang berasaskan Al-Qur'an. Percampuran ini benar benar membaur menjadi satu, bukan sekadar pertukaran lagi.
Yang membanggakan lagi, perbedaan bahasa, latar belakang sejarah, dan kebudayaan berbagai bangsa itu tidak menjadi penghalang untuk menyatu dan melebur diri menjadi ummatan wahidatan (umat yang bersatu) di bawah panji-panji Islam.
Mereka menjunjung bahasa yang satu, yaitu bahasa Al-Qur'an, meski teritorial mereka berbeda-beda dan saling berjauhan. Pada akhirnya, bahasa Al-Qur'an ini bisa menggerakkan daya pikir dan kebudayaan pada taraf yang sangat mengagumkan.
Akibat percampuran berbagai bangsa itulah timbul berbagai kompetisi dalam budaya sehingga banyak sekali buku dari Persia dan negeri-negeri yang jauh bisa diserap dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Baca juga: Duluan Mana Telur atau Ayam? Begini Jawaban Cerdas Abu Nawas
Kendatipun kita tidak mengetahui apakah syair-syair Persia juga diterjemahkan mentah-mentah ke dalam bahasa Arab, namun semua itu telah membawa perubahan dan pengaruh yang signifikan dalam memberi jiwa syair-syair bahasa Arab.
Pada periode itu pula muncul tokoh-tokoh besar dan ulama kenamaan serta buku-buku yang tidak ternilai harganya, yang semuanya telah mengantarkan kemuliaan bahasa Al-Qur'an itu sendiri.
Abu Hanifah dan murid-muridnya muncul sebagai tokoh dalam ilmu Syari'at, Imam Sibawaih terkenal dengan bidang pembukuan gramatika (nahwu), Ibnul Muqaffa' di bidang prosa, dan Bisyar serta tentu saja—Abu Nawas di bidang syair.
Dari sini pula berkembang ilmu ilmu yang lain, seperti filsafat, kedokteran, metafisika, fisika, dan lain-lain sehingga menjadi sebuah warisan adiluhung yang berlangsung sampai beberapa abad selanjutnya.
Lihat Juga :