Amalan Wanita Haid yang Sayang Bila Dilewatkan
Selasa, 01 Juni 2021 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
4. Masuk masjid
Namun ada perbedaan pendapat ulama soal ini. Namun ada dalil yang cukup kuat yang dikemukakan ulama-ulama yang membolehkan perempuan haid boleh masuk masjid adalah sikap Rasulullah SAW yang membolehkan istrinya Aisyah masuk masjid saat sedang haid. Beliau hanya melarangnya melakukan thawaf. Dalil lainnya adalah kaksus wanita hitam yang diizinkan tinggal di dalam masjid dan selama itu Rasulullah SAW tidak mennyuruhnya meninggalkan masjid saat haid.
5. Melayani keperluan suaminya
Selama bukan untuk berhubungan intim, istri yang sedang haid tetap harus melayani keperluan suaminya sehari-hari.
Amalan di Bulan Istimewa
Bagaimana dengan amalan lain yang dianjurkan dilakukan pada saat bulan-bulan istimewa seperti Dzulhijjah atau Ramadhan?
Banyak dalil yang menyebutkan, perempuan yang sedang haid walaupun tidak bisa melaksanakan amalan shalat dan puasa, tetap diperbolehkan melakukan amalan-amalan yang bisa mendatangkan pahala baginya. Seperti, di antaranya:
Baca juga: Setelah Perang Berdarah 11 Hari, Hamas Ajak Israel Tukar Tawanan
1. Berbuat baik kepada sesama
“Tidak ada amalan saleh yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah)…” (HR. Bukhari).
Cakupan amal saleh sangatlah luas. Salah satunya adalah berbuat baik terhadap sesama. Melakukan perbuatan baik terhadap sesama manusia adalah perintah Allah Ta’ala. Selain itu juga dapat meningkatkan silaturahmi dan toleransi. MIsalnya saat harus melaksanakan puasa, perempuan yang haid bisa melakukan amalan memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa.
Diriwayatkan At-Tirmizi mengenai pahala orang yang menyediakan hidangan (iftar) untuk orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun” (H.R. At-Tirmidzi)
2. Bersedekah
Bersedakah tidak perlu menunggu kaya. Sebagai umat muslim sebaiknya kita memperbanyak bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Tidak perlu bersedekah dalam jumlah banyak. Tidak apa-apa sedikit asalkan ikhlas.
Baca juga: Kejar Net Zero Emission, Indonesia Kurangi PLTU 53 GW pada 2025- 2045
Namun ada perbedaan pendapat ulama soal ini. Namun ada dalil yang cukup kuat yang dikemukakan ulama-ulama yang membolehkan perempuan haid boleh masuk masjid adalah sikap Rasulullah SAW yang membolehkan istrinya Aisyah masuk masjid saat sedang haid. Beliau hanya melarangnya melakukan thawaf. Dalil lainnya adalah kaksus wanita hitam yang diizinkan tinggal di dalam masjid dan selama itu Rasulullah SAW tidak mennyuruhnya meninggalkan masjid saat haid.
5. Melayani keperluan suaminya
Selama bukan untuk berhubungan intim, istri yang sedang haid tetap harus melayani keperluan suaminya sehari-hari.
Amalan di Bulan Istimewa
Bagaimana dengan amalan lain yang dianjurkan dilakukan pada saat bulan-bulan istimewa seperti Dzulhijjah atau Ramadhan?
Banyak dalil yang menyebutkan, perempuan yang sedang haid walaupun tidak bisa melaksanakan amalan shalat dan puasa, tetap diperbolehkan melakukan amalan-amalan yang bisa mendatangkan pahala baginya. Seperti, di antaranya:
Baca juga: Setelah Perang Berdarah 11 Hari, Hamas Ajak Israel Tukar Tawanan
1. Berbuat baik kepada sesama
“Tidak ada amalan saleh yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah)…” (HR. Bukhari).
Cakupan amal saleh sangatlah luas. Salah satunya adalah berbuat baik terhadap sesama. Melakukan perbuatan baik terhadap sesama manusia adalah perintah Allah Ta’ala. Selain itu juga dapat meningkatkan silaturahmi dan toleransi. MIsalnya saat harus melaksanakan puasa, perempuan yang haid bisa melakukan amalan memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa.
Diriwayatkan At-Tirmizi mengenai pahala orang yang menyediakan hidangan (iftar) untuk orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun” (H.R. At-Tirmidzi)
2. Bersedekah
Bersedakah tidak perlu menunggu kaya. Sebagai umat muslim sebaiknya kita memperbanyak bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Tidak perlu bersedekah dalam jumlah banyak. Tidak apa-apa sedikit asalkan ikhlas.
Baca juga: Kejar Net Zero Emission, Indonesia Kurangi PLTU 53 GW pada 2025- 2045
Lihat Juga :