Sampaikan Walau Satu Ayat!
Kamis, 10 Juni 2021 - 18:21 WIB
loading...
Ustaz Ahmad Sarwat, pengasuh Rumah Fiqih Indonesia. Foto/Ist
A
A
A
Ustaz Ahmad Sarwat Lc MA
Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia
Lepas dari urusan kekuatan sanadnya, namun dari segi matan (konten) isi hadis memang sering menimbulkan banyak penafsiran. Yang paling sering hadis ini ditafsirkan seolah-olah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam perintahkan orang yang ilmunya cuma satu ayat doang untuk segera berdakwah dan mengajarkan ilmunya.
Kesannya Nabi lagi tekor dan kekurangan kader, sehingga kader yang masih mentah pun dikirim juga, walau pun tidak lulus kualifikasi. Kuat sekali kesan seperti itu.
Pemahaman seperti ini yang rasanya paling sering dijadikan modal untuk berdakwah dan berceramah. Seolah-olah dipahami walaupun cuma punya modal ilmu seuprit, sudah berhak ceramah apapun.
Ibarat orang naik motor, asalkan tahu sedikit sekali tentang motor, ya sudah boleh naik motor di jalan raya, keluar kota dan kemana saja.
Sehingga hadits ini lalu ditafsirkan secara unik dan liberal menjadi : walaupun baru tahu satu ayat, silakan bahas 6.236 ayat lainnya. Satu ayat adalah representasi dari semua ayat. Bahkan silakan bahas apapun sesuka hati.
Logikanya unik sekali. Bayangkan, asalkan sudah tahu satu ayat berarti otomatis sudah tahu semuanya.
Semudah itu kah Al-Quran? Mereka jawab iya memang semudah itu. Pakai dalil pula.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS Al-Qamar: 17)
Lucunya, dahulu para sahabat belajar Qur'an dengan tekun langsung di bawah asuhan Nabi Muhammad SAW. Mereka butuh bertahun-tahun proses, tidak ujug-ujug langsung berangkat ceramah.
Tapi, umat di akhir zaman ini canggih banget. Cukup kuasai satu ayat, otomatis tahu semua ayat. Bahkan cukup ngarang sendiri tafsir satu ayat, maka dianggap sebagai ahli Qur'an.
Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia
Lepas dari urusan kekuatan sanadnya, namun dari segi matan (konten) isi hadis memang sering menimbulkan banyak penafsiran. Yang paling sering hadis ini ditafsirkan seolah-olah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam perintahkan orang yang ilmunya cuma satu ayat doang untuk segera berdakwah dan mengajarkan ilmunya.
Kesannya Nabi lagi tekor dan kekurangan kader, sehingga kader yang masih mentah pun dikirim juga, walau pun tidak lulus kualifikasi. Kuat sekali kesan seperti itu.
Pemahaman seperti ini yang rasanya paling sering dijadikan modal untuk berdakwah dan berceramah. Seolah-olah dipahami walaupun cuma punya modal ilmu seuprit, sudah berhak ceramah apapun.
Ibarat orang naik motor, asalkan tahu sedikit sekali tentang motor, ya sudah boleh naik motor di jalan raya, keluar kota dan kemana saja.
Sehingga hadits ini lalu ditafsirkan secara unik dan liberal menjadi : walaupun baru tahu satu ayat, silakan bahas 6.236 ayat lainnya. Satu ayat adalah representasi dari semua ayat. Bahkan silakan bahas apapun sesuka hati.
Logikanya unik sekali. Bayangkan, asalkan sudah tahu satu ayat berarti otomatis sudah tahu semuanya.
Semudah itu kah Al-Quran? Mereka jawab iya memang semudah itu. Pakai dalil pula.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS Al-Qamar: 17)
Lucunya, dahulu para sahabat belajar Qur'an dengan tekun langsung di bawah asuhan Nabi Muhammad SAW. Mereka butuh bertahun-tahun proses, tidak ujug-ujug langsung berangkat ceramah.
Tapi, umat di akhir zaman ini canggih banget. Cukup kuasai satu ayat, otomatis tahu semua ayat. Bahkan cukup ngarang sendiri tafsir satu ayat, maka dianggap sebagai ahli Qur'an.
Lihat Juga :