Beribadah 500 Tahun Tapi Diseret ke Neraka, Ini Penyebabnya

loading...
Beribadah 500 Tahun Tapi Diseret ke Neraka, Ini Penyebabnya
Ilustrasi hamba yang beribadah selama 500 tahun di puncak gunung yang dikelilingi oleh lautan. Allah mengeluarkan mata air segar dan buah delima kepadanya setiap hari sebagai makanannya. Foto/Ist
Berikut kisah seorang hamba yang beribadah selama 500 tahun tetapi diseret ke neraka karena takjub dengan amalannya. Untungnya, Allah yang Maha Pengasih berkenan menyelamatkannya sehingga ahli ibadah ini dikeluarkan dari neraka.

Apa yang menyebabkan ahli ibadah ini masuk neraka? Mari kita simak kisah berikut ini sebagaimana disampaikan Habib Jindan Bin Novel Salim Jindan (Pengasuh Ponpes Al-Facriyah Tangerang) dalam satu kajiannya. Kisah ini mengandung hikmah dan pelajaran berharga.

Baca Juga: Memetik Hikmah dari Kisah Hamba yang Beribadah 500 Tahun

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma: "Sesungguhnya Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam: "Demi Zat yang telah mengutus engkau (Muhammad) dengan sebenar-benarnya dengan kenabian, sesungguhnya Allah mempunyai seorang hamba dari hamba sekalian yang beribadah kepada Allah yang Mahaluhur selama 500 tahun di puncak gunung. Lebar dan panjangnya 30 dziro' (30x30 hasta) yang dikelilingi lautan seluas 4.000 farsakh dari setiap penjuru.

Allah memancarkan mata air yang segar sebesar jari untuknya. Air segar itu menggenang dari bawah gunung. Dan Allah menumbuhkan pohon delima dan sebutir buah delima tumbuh setiap hari untuknya. Maka ketika waktu sore hari dia turun dan mengambil wudhu dan mengambil buah delima lalu dia memakannya. Kemudian dia berdiri untuk mendirikan sholat dan meminta kepada Tuhannya agar mencabut nyawanya dalam keadaan sujud. Dan agar Allah tidak menjadikan bumi dan segala sesuatu untuk menghancurkan jasadnya, sehingga Allah membangkitkannya dalam keadaan sujud.



Maka Allah mengabulkan permohonan tersebut. Berkatalah Malaikat Jibril: "Maka ketika kami melewati kepadanya ketika kami turun dan naik ke langit dan dia dalam keadaan sujudnya."

Berkata Malaikat Jibril: "Kami mendapati di dalam ilmu-Nya Allah (Lauhil Mahfuzh) bahwa ia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan ditempatkan di hadapan Allah (dalam keadaan bersujud). Kemudian Allah berfirman: "Masukkanlah hamba-Ku ini ke dalam Surga dengan belas kasih sayang-Ku (karena rahmat-Ku)."

Hamba itu berkata: "Masukanlah aku dengan amalku". Kemudian Allah berfirman kepada Malaikatnya: "Hitunglah amal hamba-Ku ini dengan nikmat yang telah Kuberikan dengan amal yang dilakukannya."

Maka didapatilah nikmat melihat yang diberikan Allah kepadanya telah melebihi ibadahnya selama 500 tahun. Dan masih tersisa nikmat anggota badan lainnya (yang belum dihitung). Maka Allah berfirman: "Masukkanlah hamba-Ku ini ke dalam api neraka."

Kemudian diseretlah ke dalam api neraka lalu ia berseru: "Wahai Allah dengan belas kasih sayang-Mu (rahmat-Mu), masukkanlah aku ke dalam Surga".

Maka Allah berfirman: "Kembalikanlah dia". Kemudian dia ditempatkan di hadapan Allah, lalu Allah berfirman: "Hamba-Ku, siapa yang telah menciptakanmu dan engkau itu bukan siapa-siapa". Maka hamba itu menjawab: "Engkau ya Rabb".

Kemudian Allah berkata: "Apakah semua itu berkat amal-amalmu atau dengan belas kasih sayang-Ku?" Maka hamba itu berkata: "Dengan rahmat belas kasih-Mu Ya Rabb". Lalu Allah berkata: "Siapa yang memberikan kekuatan padamu untuk beribadah selama 500 tahun?" Hamba itu berkata: "Engakau ya Rabb".

Kemudian Allah berkata lagi: "Siapa yang menetapkan engkau pada gunung yang dikelilingi lautan, yang mengeluarkan mata air segar dari air lautan yang rasanya asin, dan yang mengeluarkan sebutir delima di setiap sorenya. Dan sesungguhnya kamu keluar pada satu tahun sekali, dan kamu meminta kepada-Ku agar Aku mencabut ruhmu dalam keadaan sujud maka aku kabulkan itu untukmu. Siapa yang melakukan itu semua?"

Maka hamba itu berkata: "Engkau ya Rabb". Dan Allah berkata: "Maka semua itu berkat rahmat kasih sayang-Ku. Engkau dimasukkan ke dalam Surga dengan rahmat-Ku".

Berkata Malaikat Jibril: "Sesungguhnya segala sesuatu itu sebab rahmat belas kasih sayang Allah".

Demikian kisah hamba yang beribadah 500 tahun diceritakan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW sebagai pelajaran berharga untuk kita. Al-Habib Jindan memberi nasihat yang indah. "Wahai saudaraku ! kenapa engkau tidak mengharapkan pengampunan dari Allah Yang Maha pengasih? Bagaimana engkau tidak menginginkan kasih sayang-Nya?

Dalam hadis sahih diriwayatkan sesungguhnya Allah sangat sayang terhadap hamba-Nya itu dari pada kasang ibu kepada anaknya. "Wahai orang yang berdosa, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Berapa banyak Allah membebaskan dari api neraka terhadap hamba-Nya seperti kisah di atas, maka berperasangka baiklah kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepadanya. Sesungguhnya seorang hamba tidak jauh kepada Allah terkecuali orang yang celaka."

Berkata para penyair: "Apabila tidak ada orang yang berharap kepada Engkau terkecuali yang taat. Lalu kepada siapa orang yang berlumuram dosa untuk berharap."

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
halaman ke-1
cover top ayah
هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتٰبَ مِنۡهُ اٰيٰتٌ مُّحۡكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الۡكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ‌ؕ فَاَمَّا الَّذِيۡنَ فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَةِ وَابۡتِغَآءَ تَاۡوِيۡلِهٖۚ وَمَا يَعۡلَمُ تَاۡوِيۡلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ؔ‌ۘ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِى الۡعِلۡمِ يَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ‌ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
Allah-lah yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (ayat yang mudah dipahami), itulah pokok-pokok Al-Qur'an dan yang lain mutasyabihat (ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepada Al-Qur'an, semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.

(QS. Ali 'Imran:7)
cover bottom ayah
preload video