3 Tahap Proses Pensyariatan Puasa, Mirip dengan Kewajiban Sholat
Kamis, 31 Maret 2022 - 21:07 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kesempatan lainnya, Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim juga menjelaskan bahwa sebenarnya proses pensyariatan puasa Ramadhan ini mempunyai kemiripan dengan proses pensyaraitan sholat. Keduanya melalui tiga tahapan pensyariatan.
Penjelasan ini didapat lewat riwayat Imam Ahmad melalui jalur Muadz bin Jabal, menceritakan: Bahwa pensyariatan sholat itu melalui tiga tahapan dan pensyariatan puasa juga melalui tiga tahapan. Adapun pensyaritan sholat, pada mulanya ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah beliau sholat selama lebih kurang tujuh belas bulan menghadap arah Baitul Maqdis, hingga akhirnya Allah menurunkan ayatNya: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai” (QS Al-Baqarah: 144)
Sehingga terjadi perubahan arah kiblat dengan menghadap ke arah Masjid Haram , dan ini dinilai sebagai tahapan pertama dalam pensyariatan salat.
Muadz melanjutkan, tatkala mereka berkumpul di masjid untuk sholat maka satu dengan yang lainnya saling memanggil untuk sholat, hampir-hampir di antara mereka ada yang membunyikan suara lonceng agar dengan mudah mengumpulkan jamaah untuk sholat.
Kemudian datanglah Abdullah bin Zaid, laki-laki dari kalangan Anshar kepada Rasulullah SAW sambil menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi, bahwa dia melihat seorang laki-laki dengan memakai kain hijau berdiri menghadap kiblat dan meneriakkan: Allahu Akbar… Allahu Akbar… dst (lafazh adzan sekarang), lalu setelah selesai tidak berapa lama dari sana laki-laki tadi kembali melafalkan lafazh tersebut, hanya saja kali ini dia menambahkan lafazh seperti lafazh Iqamah sekarang.
Baca juga: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadhan Ternyata Lewat 3 Tahapan
Lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar lafazh itu diajarkan kepada Bilal untuk selanjutnya agar Bilal bisa menyeru dengan lafazh itu untuk setiap salat. Tidak lama setelah itu datang juga Umar bin Khattab yang juga menceritakan perihal mimpi yang sama tentang adzan dan iqamah.
Dan cerita tentang adzan serta iqamah ini dinilai sebagai tahapan kedua dalam pensyariatan salat.
Muadz melanjutkan, bahwa tatkala salat sudah berlangsung sebagian dari sahabat ketinggalan jamaah, maka sebagian sahabat berijtihad sendiri dengan mempercepat salat hingga pada akhirnya bisa menyusul rokaat imam, dan pada akhirnya bisa salam bersama imam.
Namun berbeda dengan apa yang dilakuakan oleh Muadz, beliau tidak melakukan seperti itu. Ketika datang Muadz langsung mengikuti gerak Imam hingga akhir, tatkala imam salam, Muadz berdiri kembali menyempurnakan rakaat yang tertinggal, atas perilaku Muazd ini akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan: “Sesungguhnya Muadz telah melakukan yang benar untuk kalian, maka perbuatlah seperti apa yang diperbuat Muadz”
Penjelasan ini didapat lewat riwayat Imam Ahmad melalui jalur Muadz bin Jabal, menceritakan: Bahwa pensyariatan sholat itu melalui tiga tahapan dan pensyariatan puasa juga melalui tiga tahapan. Adapun pensyaritan sholat, pada mulanya ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah beliau sholat selama lebih kurang tujuh belas bulan menghadap arah Baitul Maqdis, hingga akhirnya Allah menurunkan ayatNya: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai” (QS Al-Baqarah: 144)
Sehingga terjadi perubahan arah kiblat dengan menghadap ke arah Masjid Haram , dan ini dinilai sebagai tahapan pertama dalam pensyariatan salat.
Muadz melanjutkan, tatkala mereka berkumpul di masjid untuk sholat maka satu dengan yang lainnya saling memanggil untuk sholat, hampir-hampir di antara mereka ada yang membunyikan suara lonceng agar dengan mudah mengumpulkan jamaah untuk sholat.
Kemudian datanglah Abdullah bin Zaid, laki-laki dari kalangan Anshar kepada Rasulullah SAW sambil menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi, bahwa dia melihat seorang laki-laki dengan memakai kain hijau berdiri menghadap kiblat dan meneriakkan: Allahu Akbar… Allahu Akbar… dst (lafazh adzan sekarang), lalu setelah selesai tidak berapa lama dari sana laki-laki tadi kembali melafalkan lafazh tersebut, hanya saja kali ini dia menambahkan lafazh seperti lafazh Iqamah sekarang.
Baca juga: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadhan Ternyata Lewat 3 Tahapan
Lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar lafazh itu diajarkan kepada Bilal untuk selanjutnya agar Bilal bisa menyeru dengan lafazh itu untuk setiap salat. Tidak lama setelah itu datang juga Umar bin Khattab yang juga menceritakan perihal mimpi yang sama tentang adzan dan iqamah.
Dan cerita tentang adzan serta iqamah ini dinilai sebagai tahapan kedua dalam pensyariatan salat.
Muadz melanjutkan, bahwa tatkala salat sudah berlangsung sebagian dari sahabat ketinggalan jamaah, maka sebagian sahabat berijtihad sendiri dengan mempercepat salat hingga pada akhirnya bisa menyusul rokaat imam, dan pada akhirnya bisa salam bersama imam.
Namun berbeda dengan apa yang dilakuakan oleh Muadz, beliau tidak melakukan seperti itu. Ketika datang Muadz langsung mengikuti gerak Imam hingga akhir, tatkala imam salam, Muadz berdiri kembali menyempurnakan rakaat yang tertinggal, atas perilaku Muazd ini akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan: “Sesungguhnya Muadz telah melakukan yang benar untuk kalian, maka perbuatlah seperti apa yang diperbuat Muadz”
Lihat Juga :