Islam di Eropa, Bagian Sejarah dan Budaya Tak Terpisahkan dari Benua Biru
Rabu, 11 Agustus 2021 - 10:48 WIB
loading...
A
A
A
Ditanya tentang pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang Islam, Macaes yang saat ini menjadi penasihat senior di Flint Global, mengatakan, “Bukan urusan politisi untuk memutuskan apakah agama berada dalam krisis atau tidak, itu adalah nasib setiap agama."
Tahun lalu, Macron menuduh Muslim Prancis sebagai "separatisme" dan menggambarkan Islam sebagai "agama dalam krisis."
Macron juga membela diterbitkannya kartun yang menghina Nabi Muhammad. Sikap Macron itu memicu kemarahan Muslim di penjuru dunia karena menunjukkan ketidakpedulian Macron.
Tentang meningkatnya Islamofobia di Eropa, Macaes mengatakan, "Ya, itu masalah besar dan sangat memprihatinkan.”
Munculnya Islamofobia tidak terbatas di Prancis, tapi menunjuk pada rasisme dan kebencian terhadap minoritas Muslim di negara-negara lain seperti Austria.
“Di Austria, ada gagasan untuk memiliki undang-undang yang menentang Islam politik dan tidak ada yang tahu betul apa arti Islam politik dalam praktiknya,” tutur dia.
Dia menjelaskan, “Yang membuat saya khawatir, ini tidak terbatas pada insiden yang terisolasi, tetapi terkadang datang dari politisi itu sendiri.”
Islam adalah agama terbesar kedua di Eropa setelah Kristen. Meskipun mayoritas komunitas Muslim di Eropa Barat terbentuk baru-baru ini, ada masyarakat Muslim berusia berabad-abad di wilayah Balkan, Eropa Tenggara, Kaukasus, Krimea, dan Volga, seperti Muslim Slavia, populasi Muslim Albania, Yunani, Romani, Turki Balkan, Pomaks, Yoruks, Tatar Volga, dan Tatar Krimea.
Istilah "Muslim Eropa" digunakan untuk merujuk pada negara-negara mayoritas Muslim di Balkan yakni Bosnia dan Herzegovina, Albania, Kosovo.
“Muslim Eropa” juga digunakan untuk sebagian negara di Eropa Timur dengan minoritas Muslim yang cukup besar seperti Bulgaria, Montenegro, Makedonia Utara, dan beberapa republik Rusia yang merupakan populasi besar Muslim Eropa asli, meskipun mayoritas sekuler.
Tahun lalu, Macron menuduh Muslim Prancis sebagai "separatisme" dan menggambarkan Islam sebagai "agama dalam krisis."
Macron juga membela diterbitkannya kartun yang menghina Nabi Muhammad. Sikap Macron itu memicu kemarahan Muslim di penjuru dunia karena menunjukkan ketidakpedulian Macron.
Tentang meningkatnya Islamofobia di Eropa, Macaes mengatakan, "Ya, itu masalah besar dan sangat memprihatinkan.”
Munculnya Islamofobia tidak terbatas di Prancis, tapi menunjuk pada rasisme dan kebencian terhadap minoritas Muslim di negara-negara lain seperti Austria.
“Di Austria, ada gagasan untuk memiliki undang-undang yang menentang Islam politik dan tidak ada yang tahu betul apa arti Islam politik dalam praktiknya,” tutur dia.
Dia menjelaskan, “Yang membuat saya khawatir, ini tidak terbatas pada insiden yang terisolasi, tetapi terkadang datang dari politisi itu sendiri.”
Islam adalah agama terbesar kedua di Eropa setelah Kristen. Meskipun mayoritas komunitas Muslim di Eropa Barat terbentuk baru-baru ini, ada masyarakat Muslim berusia berabad-abad di wilayah Balkan, Eropa Tenggara, Kaukasus, Krimea, dan Volga, seperti Muslim Slavia, populasi Muslim Albania, Yunani, Romani, Turki Balkan, Pomaks, Yoruks, Tatar Volga, dan Tatar Krimea.
Istilah "Muslim Eropa" digunakan untuk merujuk pada negara-negara mayoritas Muslim di Balkan yakni Bosnia dan Herzegovina, Albania, Kosovo.
“Muslim Eropa” juga digunakan untuk sebagian negara di Eropa Timur dengan minoritas Muslim yang cukup besar seperti Bulgaria, Montenegro, Makedonia Utara, dan beberapa republik Rusia yang merupakan populasi besar Muslim Eropa asli, meskipun mayoritas sekuler.
Lihat Juga :