2 Perempuan Beriman yang Bisa Jadi Contoh di Masa Kini
Sabtu, 14 Agustus 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Panduan Berteman untuk Seorang Muslim
Pada diri Asiyah dan Maryam, ada permisalan yang indah bagi para istri yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wata’ala yang dan hari akhir. Keduanya dijadikan contoh untuk mendorong kaum mukminin dan mukminat agar berpegang teguh dengan ketaatan dan kokoh di atas agama. (Al-Jami’ li Ahkamil Quran/ Tafsir Al-Qurthubi)
Seorang istri yang shalihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain, apalagi mengghibah suami, menceritakan aib/ cacat dan kekurangan sang suami.
Bagaimana pun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan lelaki muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya.
Baca juga: Kosmetik Lokal Makin Digandrungi di Tengah Pandemi
Istri yang shalihah akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana. Sehingga ia tidak keluar rumah kecuali karena darurat, dengan izin suaminya. Kalaupun keluar rumah, ia memperhatikan adab-adab syar‘i. Dia menjaga diri dari bercampur baur apalagi khalwat (bersepi-sepi/ berdua-duaan) dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Ia tidak berbicara dengan lelaki ajnabi (non mahram) kecuali karena terpaksa dengan tidak melembut-lembutkan suara. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia ingat bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memuji Maryam yang sangat menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril alaihissalam bahwa dia akan mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah subhanahu wa ta’ala, Maryam berkata dengan heran:
“Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina.” (QS Maryam: 20).
Baca juga: Inggris Nyatakan akan Kerahkan Pasukan ke Afghanistan Jika Al-Qaeda Kembali Muncul
Ustadzah Zulfa Husein Al-Atsariyyah menambahkan, perempuan shalihah akan mengingat bagaimana keimanan Maryam kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bagaimana ketekunannya dalam beribadah, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memilihnya dan mengutamakannya di atas seluruh perempuan.
Pada diri Asiyah dan Maryam, ada permisalan yang indah bagi para istri yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wata’ala yang dan hari akhir. Keduanya dijadikan contoh untuk mendorong kaum mukminin dan mukminat agar berpegang teguh dengan ketaatan dan kokoh di atas agama. (Al-Jami’ li Ahkamil Quran/ Tafsir Al-Qurthubi)
Seorang istri yang shalihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain, apalagi mengghibah suami, menceritakan aib/ cacat dan kekurangan sang suami.
Bagaimana pun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan lelaki muslim yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya.
Baca juga: Kosmetik Lokal Makin Digandrungi di Tengah Pandemi
Istri yang shalihah akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana. Sehingga ia tidak keluar rumah kecuali karena darurat, dengan izin suaminya. Kalaupun keluar rumah, ia memperhatikan adab-adab syar‘i. Dia menjaga diri dari bercampur baur apalagi khalwat (bersepi-sepi/ berdua-duaan) dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Ia tidak berbicara dengan lelaki ajnabi (non mahram) kecuali karena terpaksa dengan tidak melembut-lembutkan suara. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia ingat bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala memuji Maryam yang sangat menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril alaihissalam bahwa dia akan mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah subhanahu wa ta’ala, Maryam berkata dengan heran:
“Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina.” (QS Maryam: 20).
Baca juga: Inggris Nyatakan akan Kerahkan Pasukan ke Afghanistan Jika Al-Qaeda Kembali Muncul
Ustadzah Zulfa Husein Al-Atsariyyah menambahkan, perempuan shalihah akan mengingat bagaimana keimanan Maryam kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bagaimana ketekunannya dalam beribadah, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala memilihnya dan mengutamakannya di atas seluruh perempuan.
Lihat Juga :