Ketika Abu Hanifah Kalah Berdebat dengan Bahlul
Minggu, 29 Agustus 2021 - 15:44 WIB
loading...
Bahlul yang bijaksana dan cerdas membuat Abu Hanifah malu. Ilustrasi/publika
A
A
A
Suatu hari, Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi) mengajar di sebuah perguruan tinggi. Bahlul duduk di sebuah sudut ruangan, mendengarkan pelajaran Abu Hanifah.
Baca juga: Ketika Abu Nawas dengan Sukarela Masuk ke Penjara
Di tengah-tengah pelajarannya, Abu Hanifah berkata, "Imam Ja'far Shadiq mengatakan tiga hal yang aku tidak menyetujuinya. Pertama, Imam berkata bahwa Iblis akan dihukum dalam api neraka. Karena Iblis terbuat dari api, maka bagaimana mungkin api akan menyakitinya? Suatu benda tidak dapat tersakiti oleh benda lain yang sejenis.
Kedua, beliau berkata bahwa kita tidak dapat melihat Allah (dengan mata fisik). Namun, suatu keberadaan pastilah dapat dilihat. Oleh karena itu, Allah dapat dilihat dengan mata kita.
Ketiga, beliau berkata bahwa siapapun yang berbuat maka dirinya sendiri yang akan bertanggung jawab, dan akan ditanya tentang hal itu. Tetapi hal ini tidak terbukti. Maksudnya, apapun yang dilakukan oleh manusia adalah kehendak Allah dan manusia tidak dapat mengusahakan apa yang ia lakukan".
Segera setelah Abu Hanifah berkata demikian, Bahlul mengambil gumpalan tanah dan melemparkannya ke arah Abu Hanifah. Lemparan itu mengenai dahi Abu Hanifah dan membuatnya sangat kesakitan. Kemudian Bahlul lari. Murid-murid Abu Hanifah segera mengejar Bahlul dan menangkapnya. Karena Bahlul berhubungan dekat dengan Khalifah, mereka membawanya dan menceritakan seluruh kejadiannya.
Baca juga: Duluan Mana Telur atau Ayam? Begini Jawaban Cerdas Abu Nawas
Bahlul berkata, "Panggil Abu Hanifah, agar aku dapat memberikan jawabanku padanya."
Abu Hanifah pun dipanggil dan Bahlul lalu berkata padanya, "Apa kesalahan yang aku lakukan padamu?"
Abu Hanifah menjawab, "Kau melempar dahiku dengan gumpalan tanah, sehingga dahi dan kepalaku menjadi sakit sekali."
Baca juga: Ketika Abu Nawas dengan Sukarela Masuk ke Penjara
Di tengah-tengah pelajarannya, Abu Hanifah berkata, "Imam Ja'far Shadiq mengatakan tiga hal yang aku tidak menyetujuinya. Pertama, Imam berkata bahwa Iblis akan dihukum dalam api neraka. Karena Iblis terbuat dari api, maka bagaimana mungkin api akan menyakitinya? Suatu benda tidak dapat tersakiti oleh benda lain yang sejenis.
Kedua, beliau berkata bahwa kita tidak dapat melihat Allah (dengan mata fisik). Namun, suatu keberadaan pastilah dapat dilihat. Oleh karena itu, Allah dapat dilihat dengan mata kita.
Ketiga, beliau berkata bahwa siapapun yang berbuat maka dirinya sendiri yang akan bertanggung jawab, dan akan ditanya tentang hal itu. Tetapi hal ini tidak terbukti. Maksudnya, apapun yang dilakukan oleh manusia adalah kehendak Allah dan manusia tidak dapat mengusahakan apa yang ia lakukan".
Segera setelah Abu Hanifah berkata demikian, Bahlul mengambil gumpalan tanah dan melemparkannya ke arah Abu Hanifah. Lemparan itu mengenai dahi Abu Hanifah dan membuatnya sangat kesakitan. Kemudian Bahlul lari. Murid-murid Abu Hanifah segera mengejar Bahlul dan menangkapnya. Karena Bahlul berhubungan dekat dengan Khalifah, mereka membawanya dan menceritakan seluruh kejadiannya.
Baca juga: Duluan Mana Telur atau Ayam? Begini Jawaban Cerdas Abu Nawas
Bahlul berkata, "Panggil Abu Hanifah, agar aku dapat memberikan jawabanku padanya."
Abu Hanifah pun dipanggil dan Bahlul lalu berkata padanya, "Apa kesalahan yang aku lakukan padamu?"
Abu Hanifah menjawab, "Kau melempar dahiku dengan gumpalan tanah, sehingga dahi dan kepalaku menjadi sakit sekali."
Lihat Juga :