Rasulullah yang Gali Kubur Si Miskin Dzil Bijadain
Senin, 13 April 2020 - 15:00 WIB
loading...
Rasulullah sedang menggali kubur dan memberikan tanah kepada Abu Bakar dan Umar. Foto/ilustrasi: Ist
A
A
A
KISAH berikut ditulis Muhammad bin Hamid Abdul Wahab dalam "99 Kisah Orang Shalih". Ini adalah tentang Abdullah yang berjuluk Dzil Bijadain. Ketika ia sahid, Rasulullah SAW ikut menguburnya.
Lalu, siapa tokoh istimewa ini? Ibnu Ka’ab al-Qurthubi berkata, sesungguhnya Abdullah yang dijuluki Dzil Bijadain merupakan orang terpandang di kalangan kabilahnya. Hanya saja hatinya telah tertambat dengan Rasulullah dan lebih mencintai keimanan. Kemudian ia berencana pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Hanya saja, keluarga besar Abdullah tidak menghendaki itu terjadi. Ibu Abdullah pergi menuju pimpinan kabilah dan berkata, ‘Sesungguhnya Abdulullah telah pergi menemui Muhammad, susullah ia dan bawalah pulang. Ambil pakaian-pakaiannya, karena ia sangat pemalu. Jika kalian berhasil mengambil pakaiannya tentu ia tidak akan meneruskan keinginannya.’
Kemudian mereka mengambil pakaiannya dan membiarkannya telanjang. Ia tinggal di dalam rumah tanpa mau makan ataupun minum sebelum ia bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika Ibu Abdullah mengetahui anaknya mogok makan, dia kembali mendatangi kaumnya dan memberitahukan bahwa Abdullah bersumpah untuk melakukan mogok makan dan minum sebelum bertemu Muhammad. Ibunya berkata, ‘Tolong kembalikan pakaian Abdullah karena takut dia mati.’
Mereka enggan memberikan pakaian itu. Maka ibu Abdullah mengambil satu lembar kain kotak-kotak kasar dan dipotong menjadi dua lembar. Salah satu lembar diberikan agar dipakai sebagai sarung dan satu lembar lagi untuk penutup kepala. Sang Ibu berkata, ‘Sekarang pergilah!’
Kemudian Abdullah pergi, menempuh perjalanan dengan mendaki dan menuruni lembah, sehingga tiba di kota Madinah.
Di kota ini ia belajar al-Qur’an dan memperdalam agama. Dia dan para sahabat sering pergi dan istirahat di sebuah rumah milik seorang wanita Anshar yang biasa menyediakan makanan dan kebutuhan para sahabat.
Suatu hari, ada seorang sahabat berkata kepada Abdullah, “Bagaimana pendapatmu sekiranya engkau menikah dengan wanita itu?”
Kemudian ada sahabat yang memberitahukan kepada wanita itu. Serta merta wanita itu berkata, ‘Mengapa kamu tidak meninggalkan kebiasaanmu menyebut-nyebut namaku, hentikan kebiasaan itu atau jangan lagi kalian datang untuk beristirahat di rumahku!’
Lalu, siapa tokoh istimewa ini? Ibnu Ka’ab al-Qurthubi berkata, sesungguhnya Abdullah yang dijuluki Dzil Bijadain merupakan orang terpandang di kalangan kabilahnya. Hanya saja hatinya telah tertambat dengan Rasulullah dan lebih mencintai keimanan. Kemudian ia berencana pergi menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Hanya saja, keluarga besar Abdullah tidak menghendaki itu terjadi. Ibu Abdullah pergi menuju pimpinan kabilah dan berkata, ‘Sesungguhnya Abdulullah telah pergi menemui Muhammad, susullah ia dan bawalah pulang. Ambil pakaian-pakaiannya, karena ia sangat pemalu. Jika kalian berhasil mengambil pakaiannya tentu ia tidak akan meneruskan keinginannya.’
Kemudian mereka mengambil pakaiannya dan membiarkannya telanjang. Ia tinggal di dalam rumah tanpa mau makan ataupun minum sebelum ia bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika Ibu Abdullah mengetahui anaknya mogok makan, dia kembali mendatangi kaumnya dan memberitahukan bahwa Abdullah bersumpah untuk melakukan mogok makan dan minum sebelum bertemu Muhammad. Ibunya berkata, ‘Tolong kembalikan pakaian Abdullah karena takut dia mati.’
Mereka enggan memberikan pakaian itu. Maka ibu Abdullah mengambil satu lembar kain kotak-kotak kasar dan dipotong menjadi dua lembar. Salah satu lembar diberikan agar dipakai sebagai sarung dan satu lembar lagi untuk penutup kepala. Sang Ibu berkata, ‘Sekarang pergilah!’
Kemudian Abdullah pergi, menempuh perjalanan dengan mendaki dan menuruni lembah, sehingga tiba di kota Madinah.
Di kota ini ia belajar al-Qur’an dan memperdalam agama. Dia dan para sahabat sering pergi dan istirahat di sebuah rumah milik seorang wanita Anshar yang biasa menyediakan makanan dan kebutuhan para sahabat.
Suatu hari, ada seorang sahabat berkata kepada Abdullah, “Bagaimana pendapatmu sekiranya engkau menikah dengan wanita itu?”
Kemudian ada sahabat yang memberitahukan kepada wanita itu. Serta merta wanita itu berkata, ‘Mengapa kamu tidak meninggalkan kebiasaanmu menyebut-nyebut namaku, hentikan kebiasaan itu atau jangan lagi kalian datang untuk beristirahat di rumahku!’
Lihat Juga :