Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan
Minggu, 31 Mei 2020 - 14:05 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Lalu, orang itu pun berkeliling mencari sebuah kandang. Akhirnya, ia bertemu dengan seorang tukang kayu, yang berkata, "Ya, saya bisa membuatkan Saudara sebuah kandang. Katakan saja ukurannya, sebab saya tak tertarik mendengarkan lebih jauh tentang permadani, pengetahuan, atau semacamnya. Namun, saya mempunyai sebuah keinginan, dan Saudara harus terlebih dahulu menolong saya memperolehnya; kalau tidak, saya tidak bersedia menolong Saudara."
"Apa keinginanmu itu?" tanya Si Pencari.
"Saya ingin menikah, namun tampaknya tak ada orang yang mau kunikahi. Mungkin Saudara bisa mencarikanku seorang calon istri, baru kemudian kita akan bicara tentang masalah tadi."
Orang itu pun melaksanakan permintaan tersebut, dan setelah mencari-cari, didapatinya seorang wanita yang berkata, "Saya kenal seorang gadis muda yang tak punya keinginan lain kecuali menikahi seorang tukang kayu seperti yang Saudara katakan. Malahan, seumur hidupnya ia memikirkan calon suaminya itu. Hal ini pasti semacam keajaiban bahwa tukang kayu idamannya itu sungguh ada dan bahwa gadis itu bisa mendengarnya lewat Saudara dan saya. Tetapi, bagaimana pula dengan saya? Semua orang menginginkan keinginannya terwujud, dan orang-orang tampaknya memerlukan sesuatu, atau menginginkannya, atau membayangkan bahwa mereka membutuhkan pertolongan, atau betul-betul membutuhkannya, namun tak ada yang mengatakan apa pun mengenai keperluanku."
"Dan, apa gerangan keperluanmu?" tanya orang itu.
"Saya hanya menginginkan satu hal," kata wanita itu, "dan sudah kuinginkan sepanjang hidupku. Tolonglah saya untuk mendapatkannya, dan Saudara bisa mengambil apa saja kepunyaanku. Hal yang kuinginkan itu, karena saya telah mengalami segala sesuatu kecuali yang satu ini, adalah pengetahuan."
"Tetapi, kita tidak bisa mendapat pengetahuan tanpa selembar permadani," kata lelaki itu. "Saya tidak tahu pengetahuan itu apa, tetapi saya yakin itu bukan selembar permadani," kata wanita itu.
"Memang bukan," kata Si Pencari, yang sadar bahwa ia mesti bersabar, "namun dengan seorang wanita bagi tukang kayu kita bisa memperoleh kandang untuk kambing. Dengan kandang kambing, kita bisa menyediakan bulu kambing bagi pemintal. Dengan bulu itu, kita memiliki benang. Dengan benang, kita bisa membuat permadani. Dengan permadani, kita bisa mendapat pengetahuan."
"Hal itu kedengarannya tak masuk akal," kata wanita itu, "dan saya tidak akan melakukan semua itu untuk mendapatkan pengetahuan."
Meskipun orang itu memohon dengan sangat, wanita tersebut tetap menyuruhnya pergi.
Berbagai kesulitan dan kebingungan yang muncul ini membuat Si Pencari itu hampir patah arang. Ia ragu apakah ia bisa mempergunakan pengetahuan kalau ia mendapatkannya, dan ia juga bertanya-tanya mengapa semua orang yang ditemuinya tadi hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Dan, perlahan-lahan ia mulai hanya memikirkan tentang permadani.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Pada suatu hari, orang itu berjalan-jalan lewat jalan-jalan di pasar, berkomat-kamit sendiri.
Lalu, orang itu pun berkeliling mencari sebuah kandang. Akhirnya, ia bertemu dengan seorang tukang kayu, yang berkata, "Ya, saya bisa membuatkan Saudara sebuah kandang. Katakan saja ukurannya, sebab saya tak tertarik mendengarkan lebih jauh tentang permadani, pengetahuan, atau semacamnya. Namun, saya mempunyai sebuah keinginan, dan Saudara harus terlebih dahulu menolong saya memperolehnya; kalau tidak, saya tidak bersedia menolong Saudara."
"Apa keinginanmu itu?" tanya Si Pencari.
"Saya ingin menikah, namun tampaknya tak ada orang yang mau kunikahi. Mungkin Saudara bisa mencarikanku seorang calon istri, baru kemudian kita akan bicara tentang masalah tadi."
Orang itu pun melaksanakan permintaan tersebut, dan setelah mencari-cari, didapatinya seorang wanita yang berkata, "Saya kenal seorang gadis muda yang tak punya keinginan lain kecuali menikahi seorang tukang kayu seperti yang Saudara katakan. Malahan, seumur hidupnya ia memikirkan calon suaminya itu. Hal ini pasti semacam keajaiban bahwa tukang kayu idamannya itu sungguh ada dan bahwa gadis itu bisa mendengarnya lewat Saudara dan saya. Tetapi, bagaimana pula dengan saya? Semua orang menginginkan keinginannya terwujud, dan orang-orang tampaknya memerlukan sesuatu, atau menginginkannya, atau membayangkan bahwa mereka membutuhkan pertolongan, atau betul-betul membutuhkannya, namun tak ada yang mengatakan apa pun mengenai keperluanku."
"Dan, apa gerangan keperluanmu?" tanya orang itu.
"Saya hanya menginginkan satu hal," kata wanita itu, "dan sudah kuinginkan sepanjang hidupku. Tolonglah saya untuk mendapatkannya, dan Saudara bisa mengambil apa saja kepunyaanku. Hal yang kuinginkan itu, karena saya telah mengalami segala sesuatu kecuali yang satu ini, adalah pengetahuan."
"Tetapi, kita tidak bisa mendapat pengetahuan tanpa selembar permadani," kata lelaki itu. "Saya tidak tahu pengetahuan itu apa, tetapi saya yakin itu bukan selembar permadani," kata wanita itu.
"Memang bukan," kata Si Pencari, yang sadar bahwa ia mesti bersabar, "namun dengan seorang wanita bagi tukang kayu kita bisa memperoleh kandang untuk kambing. Dengan kandang kambing, kita bisa menyediakan bulu kambing bagi pemintal. Dengan bulu itu, kita memiliki benang. Dengan benang, kita bisa membuat permadani. Dengan permadani, kita bisa mendapat pengetahuan."
"Hal itu kedengarannya tak masuk akal," kata wanita itu, "dan saya tidak akan melakukan semua itu untuk mendapatkan pengetahuan."
Meskipun orang itu memohon dengan sangat, wanita tersebut tetap menyuruhnya pergi.
Berbagai kesulitan dan kebingungan yang muncul ini membuat Si Pencari itu hampir patah arang. Ia ragu apakah ia bisa mempergunakan pengetahuan kalau ia mendapatkannya, dan ia juga bertanya-tanya mengapa semua orang yang ditemuinya tadi hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Dan, perlahan-lahan ia mulai hanya memikirkan tentang permadani.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Pada suatu hari, orang itu berjalan-jalan lewat jalan-jalan di pasar, berkomat-kamit sendiri.
Lihat Juga :