Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku
Senin, 01 Juni 2020 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Umar sering dipercaya sebagai juru damai apabila terjadi peperangan antar sesama kaum Quraisy atau antara suku Quraisy dengan yang lain. Ketika Umar bersyahadat di depan Nabi Muhammad shalllallahu 'alaihi wa sallam, penduduk Makkah gempar. Kaum musyrikin tiba-tiba ketakutan dan terpojok. Allah Ta'ala menguatkan dakwah Islam dengan keberadaan sosok Umar yang gagah dan bijaksana.
Ketika diangkat menjadi Khalifah kedua menggantikan Abu Bakar, kepemimpinan Umar dikenal adil dan tegas. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat. Beliau berhasil mensejahterakan kaum muslimin. Selama 10 tahun memimpin (13 H/634 M - 23 H/644 M), Umar juga berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan Imperium Romawi dan Persia. Beliau merebut Baitul Maqdis Palestina dari kekuasaan Romawi.
Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan setan pun takut apabila bertemu Umar bin Khattab . Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Ibnul Khatthab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui."
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sungguh aku melihat setan dari kalangan manusia dan jin lari dari Umar ." (HR. Tirmidzi). Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, "Kami senantiasa merasakan izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) sejak Umar masuk Islam." (Baca Juga: Umar: Lari dari Takdir Allah, Menuju Takdir Allah yang Lain)
Dalam Sahih Al-Bukhari, Nabi berkata: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku di surga kemudian ada seorang wanita yang wudhu di sisi istana, aku berkata: ‘Istana siapakah ini?’ Wanita itu berkata: ‘Ini milik Umar .’ Aku teringat akan kecemburuan Umar dan aku berbalik untuk pergi. Kemudian, Uma r menangis dan berkata, ‘Mungkinkah aku cemburu padamu, Rasulullah ?
Akhir hayat Umar bin Khattab wafat pada Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 Hijriyah dalam usia 63 tahun. Beliau dibunuh saat memimpin salat Shubuh oleh seorang Majusi bernama Abu Lu'luah (Fairuz), seorang budak Al-Mughirah bin Syu'bah Fairuz. Penikaman Umar dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lu'luah terhadap Umar karena sakit hati. Jasad mulia Umar dimakamkan di samping makam Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar Shiddiq. Setelah beliau wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Utsman bin Affan. Semoga Allah meridhainya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Allah telah menempatkan kebenaran di lidah Umar dan di dalam hatinya". (HR At-Tirmidzi)
Beliau SAW juga bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya." (Hadis Jami' At-Tirmidzi No. 3797).(Baca Juga: Kisah Umar dan Wabah Penyakit Tho'un di Syam)
Wallahu Subhanahu wa Ta'ala A'lam
Ketika diangkat menjadi Khalifah kedua menggantikan Abu Bakar, kepemimpinan Umar dikenal adil dan tegas. Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat. Beliau berhasil mensejahterakan kaum muslimin. Selama 10 tahun memimpin (13 H/634 M - 23 H/644 M), Umar juga berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan Imperium Romawi dan Persia. Beliau merebut Baitul Maqdis Palestina dari kekuasaan Romawi.
Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan setan pun takut apabila bertemu Umar bin Khattab . Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Ibnul Khatthab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui."
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sungguh aku melihat setan dari kalangan manusia dan jin lari dari Umar ." (HR. Tirmidzi). Dari Abdullah bin Mas'ud berkata, "Kami senantiasa merasakan izzah (kemuliaan, kehormatan, harga diri) sejak Umar masuk Islam." (Baca Juga: Umar: Lari dari Takdir Allah, Menuju Takdir Allah yang Lain)
Dalam Sahih Al-Bukhari, Nabi berkata: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku di surga kemudian ada seorang wanita yang wudhu di sisi istana, aku berkata: ‘Istana siapakah ini?’ Wanita itu berkata: ‘Ini milik Umar .’ Aku teringat akan kecemburuan Umar dan aku berbalik untuk pergi. Kemudian, Uma r menangis dan berkata, ‘Mungkinkah aku cemburu padamu, Rasulullah ?
Akhir hayat Umar bin Khattab wafat pada Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 Hijriyah dalam usia 63 tahun. Beliau dibunuh saat memimpin salat Shubuh oleh seorang Majusi bernama Abu Lu'luah (Fairuz), seorang budak Al-Mughirah bin Syu'bah Fairuz. Penikaman Umar dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lu'luah terhadap Umar karena sakit hati. Jasad mulia Umar dimakamkan di samping makam Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar Shiddiq. Setelah beliau wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Utsman bin Affan. Semoga Allah meridhainya.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Allah telah menempatkan kebenaran di lidah Umar dan di dalam hatinya". (HR At-Tirmidzi)
Beliau SAW juga bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya." (Hadis Jami' At-Tirmidzi No. 3797).(Baca Juga: Kisah Umar dan Wabah Penyakit Tho'un di Syam)
Wallahu Subhanahu wa Ta'ala A'lam
(rhs)
Lihat Juga :