Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah
Selasa, 02 Juni 2020 - 16:05 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Penyerangan Kabah: Abrahah Binasa oleh Virus Mematikan
Dengan kedudukannya itu Hantamah adalah perempuan yang selalu dekat di mata suaminya dan lebih diutamakan dari istri-istrinya yang lain. Setelah Umar lahir sang ayah merasa sangat gembira dan dibawanya kepada berhala-berhala sebagai tanda kegembiraannya. Kaum fakir miskin di kalangan Banu Adi yang banyak jumlahnya ketika itu diberi santunan berupa makanan.
Masa kecil dan remaja
Soal kapan Umar dilahirkan, tidak mudah dapat dipastikan. Pastinya ia meninggal sekitar tiga hari terakhir bulan Zulhijah 23 tahun setelah hijrah. Tetapi yang masih diperselisihkan mengenai umurnya ketika ia wafat: ada yang mengatakan dalam usia 50 tahun, ada yang menyebutkan dalam usia 57 tahun, yang lain mengatakan 60 tahun, ada lagi yang mengatakan 63 tahun dan sebagainya. Besar dugaan ia meninggal sekitar umur 60an. Kalau benar demikian berarti ketika ia hijrah umurnya belum mencapai empat puluh tahun. Dan kepastian dugaan ini tak dapat kita jadikan pegangan.
Menurut Haekal, semasa anak-anak, Umar dibesarkan seperti layaknya anak-anak Quraisy. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain, ia sempat belajar baca-tulis, hal yang jarang sekali terjadi di kalangan mereka.
Baca juga: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Dari semua suku Quraisy ketika Nabi diutus hanya tujuh belas orang yang pandai baca-tulis. Umar termasuk istimewa di antara teman-teman sebayanya. Orang-orang Arab masa itu, menurut Haekal, tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari belajar.
Sesudah Umar beranjak remaja ia bekerja sebagai gembala unta ayahnya di Dajnan atau di tempat lain di pinggiran kota Makkah.
Menggembalakan unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan anak-anak Quraisy betapapun tingkat kedudukan mereka.
Beranjak dari masa remaja ke masa pemuda sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya, lebih tinggi dan lebih besar. Ketika Auf bin Malik melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh melebihi yang lain sehingga sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan siapa orang itu, dijawab: Dia Umar bin Khattab.
Baca juga: Kisah Leluhur Rasulullah dan Jabatan Pemegang Kunci Ka'bah
Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Sejak mudanya ia memang sudah mahir dalam berbagai olahraga: olahraga gulat dan menunggang kuda. Ketika ia sudah masuk Islam ada seorang gembala ditanya orang: Kau tahu si kidal itu sudah masuk Islam?
Gembala itu menjawab: “Yang beradu gulat di Pasar Ukaz?” Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu memekik: “Oh, mungkin ia membawa kebaikan buat mereka, mungkin juga bencana”.
Penunggang kuda
Dari antara berbagai macam olahraga, naik kuda itulah yang paling disukainya sepanjang hidupnya. Selama dalam pemerintahannya pernah ia datang dengan memacu kudanya sehingga hampir menabrak orang. Ketika mereka melihatnya, mereka heran. “Apa yang membuat kalian heran?” tanyanya. “Aku merasa cukup segar lalu kukeluarkan seekor kuda dan kupacu,” jelasnya. (Baca juga: Preman Pasar Ukaz yang Jago Gulat dan Pacuan Kuda Itu Bernama Umar )
Dalam perang, juga dia memegang peranan penting, yang diwarisinya dari pihak saudara-saudara ibunya Banu Makhzum. Ketika dalam sakitnya yang terakhir Abu Bakar sudah berkata: "Tatkala aku mengirim Khalid bin Walid ke Syam aku bermaksud mengirim Umar bin Khattab ke Irak. Ketika itu sudah kubentangkan kedua tanganku demi di jalan Allah."
Baca Juga: Perang Khaibar (1): Upaya Menaklukkan Kaum Yahudi di Jazirah Arab
Dengan kedudukannya itu Hantamah adalah perempuan yang selalu dekat di mata suaminya dan lebih diutamakan dari istri-istrinya yang lain. Setelah Umar lahir sang ayah merasa sangat gembira dan dibawanya kepada berhala-berhala sebagai tanda kegembiraannya. Kaum fakir miskin di kalangan Banu Adi yang banyak jumlahnya ketika itu diberi santunan berupa makanan.
Masa kecil dan remaja
Soal kapan Umar dilahirkan, tidak mudah dapat dipastikan. Pastinya ia meninggal sekitar tiga hari terakhir bulan Zulhijah 23 tahun setelah hijrah. Tetapi yang masih diperselisihkan mengenai umurnya ketika ia wafat: ada yang mengatakan dalam usia 50 tahun, ada yang menyebutkan dalam usia 57 tahun, yang lain mengatakan 60 tahun, ada lagi yang mengatakan 63 tahun dan sebagainya. Besar dugaan ia meninggal sekitar umur 60an. Kalau benar demikian berarti ketika ia hijrah umurnya belum mencapai empat puluh tahun. Dan kepastian dugaan ini tak dapat kita jadikan pegangan.
Menurut Haekal, semasa anak-anak, Umar dibesarkan seperti layaknya anak-anak Quraisy. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain, ia sempat belajar baca-tulis, hal yang jarang sekali terjadi di kalangan mereka.
Baca juga: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?
Dari semua suku Quraisy ketika Nabi diutus hanya tujuh belas orang yang pandai baca-tulis. Umar termasuk istimewa di antara teman-teman sebayanya. Orang-orang Arab masa itu, menurut Haekal, tidak menganggap pandai baca-tulis itu suatu keistimewaan, bahkan mereka malah menghindarinya dan menghindarkan anak-anaknya dari belajar.
Sesudah Umar beranjak remaja ia bekerja sebagai gembala unta ayahnya di Dajnan atau di tempat lain di pinggiran kota Makkah.
Menggembalakan unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan anak-anak Quraisy betapapun tingkat kedudukan mereka.
Beranjak dari masa remaja ke masa pemuda sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya, lebih tinggi dan lebih besar. Ketika Auf bin Malik melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh melebihi yang lain sehingga sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan siapa orang itu, dijawab: Dia Umar bin Khattab.
Baca juga: Kisah Leluhur Rasulullah dan Jabatan Pemegang Kunci Ka'bah
Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Sejak mudanya ia memang sudah mahir dalam berbagai olahraga: olahraga gulat dan menunggang kuda. Ketika ia sudah masuk Islam ada seorang gembala ditanya orang: Kau tahu si kidal itu sudah masuk Islam?
Gembala itu menjawab: “Yang beradu gulat di Pasar Ukaz?” Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu memekik: “Oh, mungkin ia membawa kebaikan buat mereka, mungkin juga bencana”.
Penunggang kuda
Dari antara berbagai macam olahraga, naik kuda itulah yang paling disukainya sepanjang hidupnya. Selama dalam pemerintahannya pernah ia datang dengan memacu kudanya sehingga hampir menabrak orang. Ketika mereka melihatnya, mereka heran. “Apa yang membuat kalian heran?” tanyanya. “Aku merasa cukup segar lalu kukeluarkan seekor kuda dan kupacu,” jelasnya. (Baca juga: Preman Pasar Ukaz yang Jago Gulat dan Pacuan Kuda Itu Bernama Umar )
Dalam perang, juga dia memegang peranan penting, yang diwarisinya dari pihak saudara-saudara ibunya Banu Makhzum. Ketika dalam sakitnya yang terakhir Abu Bakar sudah berkata: "Tatkala aku mengirim Khalid bin Walid ke Syam aku bermaksud mengirim Umar bin Khattab ke Irak. Ketika itu sudah kubentangkan kedua tanganku demi di jalan Allah."
Baca Juga: Perang Khaibar (1): Upaya Menaklukkan Kaum Yahudi di Jazirah Arab
Lihat Juga :