Musik Bisa Asyik untuk Maksiat, Gus Baha: Untuk Allah Masak Nggak Bisa
Kamis, 07 Oktober 2021 - 16:35 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi
Gus Baha mengaku pernah membaca kitab Matsnawi dan dia mengatakan masuk akal. "Tarian Rumi itu kan ada filosofinya," ujarnya.
Misalnya, tangan kanan menengadah ke langit, tangan kiri menyebar rahmat di bumi. Inti filosofinya itu tangan kanan mengambil rahmat dari langit, tangan kiri menyebar rahmat di bumi.
"Lha tapi kalau kata para pemuda," ujar Gus Baha. "Karek sing nari to Gus. Nek sing nari artis yo menarik, nek ora yo ora, hahahaha…”. Maksudnya, "Bergantung orang yang menari lah Gus. Kalau yang menari artis ya menarik, kalau tidak ya tidak, hahaha".
Karena, ketika tari Rumi diperagakan oleh orang yang berjenggot, tua-tua, tidak ada yang menonton, tapi pas waktu di kampus, diteatrikalkan, yang menari mahasiswi cantik-cantik, lalu orang-orang pada menonton semua.
"Lha menontonnya, karena filosofi cinta Allah atau karena cinta penarinya?! Yang bikin perkara kan itu," tutur Gus Baha tertawa. "Giliran yang menari orang yang cantik kan menarik. Lha yang menarik itu filosofi menarinya apa penarinya?"
Gus Baha menekankan bahwa nafsu itu memang bikin gara-gara. "Tapi, memang begitu," ujarnya.
Baca juga: Tahlilan Sesat dan Bikin Kafir? Begini Jawaban Gus Baha
Gus Baha mengaku pernah membaca kitab Matsnawi dan dia mengatakan masuk akal. "Tarian Rumi itu kan ada filosofinya," ujarnya.
Misalnya, tangan kanan menengadah ke langit, tangan kiri menyebar rahmat di bumi. Inti filosofinya itu tangan kanan mengambil rahmat dari langit, tangan kiri menyebar rahmat di bumi.
"Lha tapi kalau kata para pemuda," ujar Gus Baha. "Karek sing nari to Gus. Nek sing nari artis yo menarik, nek ora yo ora, hahahaha…”. Maksudnya, "Bergantung orang yang menari lah Gus. Kalau yang menari artis ya menarik, kalau tidak ya tidak, hahaha".
Karena, ketika tari Rumi diperagakan oleh orang yang berjenggot, tua-tua, tidak ada yang menonton, tapi pas waktu di kampus, diteatrikalkan, yang menari mahasiswi cantik-cantik, lalu orang-orang pada menonton semua.
"Lha menontonnya, karena filosofi cinta Allah atau karena cinta penarinya?! Yang bikin perkara kan itu," tutur Gus Baha tertawa. "Giliran yang menari orang yang cantik kan menarik. Lha yang menarik itu filosofi menarinya apa penarinya?"
Gus Baha menekankan bahwa nafsu itu memang bikin gara-gara. "Tapi, memang begitu," ujarnya.
Baca juga: Tahlilan Sesat dan Bikin Kafir? Begini Jawaban Gus Baha
(mhy)
Lihat Juga :