Khaizuran, Perempuan Pelopor Peringatan Maulid Nabi dalam Pusaran Politik Berdarah
Rabu, 13 Oktober 2021 - 16:41 WIB
loading...
Khaizuran adalah perempuan berpengaruh pada kekuasaan tiga khalifah era Dinasti Abbasiyah. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Khaizuran (170 H/786 M) adalah sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah. Ibunda Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan Harun al-Rasyid ini adalah pelopor perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW . Lebih dari itu, istri Khalifah Al-Mahdi ini terlibat dalam sengkarut politik berdarah Dinasti Abbasiyah .
Baca juga: Pergeseran Libur Maulid Diprotes MUI, DPR Sebut Bisa Diperingati Kapan Saja
Tentang kepeloporan Khaizuran dalam perayaan Maulid Nabi SAW ini dicatat oleh Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa. Khaizuran datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.
Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka.
Sosok Berpengaruh
Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra).
Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat Muslim di Arab. Perayaan Maulid Nabi dilakukan agar teladan ajaran dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, pembaruan pemikiran memang banyak terjadi di semua sektor kehidupan, dari perkembangan ilmu-ilmu umum, arsitektur, hingga situs-situs sejarah.
Khaizuran merupakan salah satu sosok yang mempunyai perhatian besar terhadap Nabi Muhammad beserta situs-situs sejarah peninggalan Nabi. Termasuk memprakarsai penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah SAW.
Baca juga: Maulid Nabi: Barzanji, Kitab Paling Populer Setelah Al-Qur'an
Catatan Kelam
Hanya saja, Khaizuran juga punya catatan kelam dalam dunia politik. Tabari dalam The History of al-Tabari menyebutkan Khairuzan adalah budak wanita yang sangat disayangi oleh Khalifah Al-Mahdi. Ketika masa pemerintahan Al-Mahdi, Khairuzan banyak mencampuri urusan pemerintahan. Dia bahkan ikut memberikan perintah dan larangan tentang situasi yang terjadi selama masa pemerintahan Al-Mahdi.
Tak ayal dia memiliki pengaruh yang besar, dan mengetahui sistem pemerintahan sedemikian rupa. Ketika Al-Mahdi wafat, dan diganti putranya, Al-Hadi, Khiruzan tidak menghentikan kebiasaannya. Dia masih aktif mengatur pemerintahan, bahkan mengundang para amir dari berbagai daerah, dan memberi perintah pada para pejabat tinggi, bahkan kepada khalifah. Inilah yang membuat Al-Hadi, demikian marah.
Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, (Qisthi Press, 2017) menyebut hubungan Khiruzan dengan Al-Hadi sangat buruk.
Al-Hadi sempat menegur ibunya dengan sangat keras. “Kalau kulihat ada Amir yang keluar dari pintu rumah ibu, akan ku penggal kepalanya! Tidak punyakah ibu alat pemintal untuk menyibukkan diri atau Kitabullah yang bisa memberi ibu pengetahuan? Atau tidak kah ibu disibukkan dengan tasbih-tasbih?”
Baca juga: Pergeseran Libur Maulid Diprotes MUI, DPR Sebut Bisa Diperingati Kapan Saja
Tentang kepeloporan Khaizuran dalam perayaan Maulid Nabi SAW ini dicatat oleh Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa. Khaizuran datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.
Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka.
Sosok Berpengaruh
Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra).
Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat Muslim di Arab. Perayaan Maulid Nabi dilakukan agar teladan ajaran dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, pembaruan pemikiran memang banyak terjadi di semua sektor kehidupan, dari perkembangan ilmu-ilmu umum, arsitektur, hingga situs-situs sejarah.
Khaizuran merupakan salah satu sosok yang mempunyai perhatian besar terhadap Nabi Muhammad beserta situs-situs sejarah peninggalan Nabi. Termasuk memprakarsai penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah SAW.
Baca juga: Maulid Nabi: Barzanji, Kitab Paling Populer Setelah Al-Qur'an
Catatan Kelam
Hanya saja, Khaizuran juga punya catatan kelam dalam dunia politik. Tabari dalam The History of al-Tabari menyebutkan Khairuzan adalah budak wanita yang sangat disayangi oleh Khalifah Al-Mahdi. Ketika masa pemerintahan Al-Mahdi, Khairuzan banyak mencampuri urusan pemerintahan. Dia bahkan ikut memberikan perintah dan larangan tentang situasi yang terjadi selama masa pemerintahan Al-Mahdi.
Tak ayal dia memiliki pengaruh yang besar, dan mengetahui sistem pemerintahan sedemikian rupa. Ketika Al-Mahdi wafat, dan diganti putranya, Al-Hadi, Khiruzan tidak menghentikan kebiasaannya. Dia masih aktif mengatur pemerintahan, bahkan mengundang para amir dari berbagai daerah, dan memberi perintah pada para pejabat tinggi, bahkan kepada khalifah. Inilah yang membuat Al-Hadi, demikian marah.
Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa’; Sejarah Para Khalifah, (Qisthi Press, 2017) menyebut hubungan Khiruzan dengan Al-Hadi sangat buruk.
Al-Hadi sempat menegur ibunya dengan sangat keras. “Kalau kulihat ada Amir yang keluar dari pintu rumah ibu, akan ku penggal kepalanya! Tidak punyakah ibu alat pemintal untuk menyibukkan diri atau Kitabullah yang bisa memberi ibu pengetahuan? Atau tidak kah ibu disibukkan dengan tasbih-tasbih?”
Lihat Juga :