Fatimah al-Fihri: Janda Kaya Pendiri Universitas Pertama di Dunia
Sabtu, 23 Oktober 2021 - 13:59 WIB
loading...
A
A
A
Lokasi Fes, sebagaimana Qairouan, adalah lokasi yang ideal bagi perdagangan. Fes berada di dataran yang menjadi perlintasan antara daerah barat menuju Samudra Atlantik, dan daerah Utara menuju Laut Mediterania. Kota Fes dibangun di celah yang membentang melalui Pegunungan Atlas Tengah.
Ayah Fatimah—yang hanya dalam waktu 10 tahun menetap di Ibu Kota baru tersebut—telah berhasil sukses kembali, dan saat dia meninggal, Fatimah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang sangat besar.
Fatimah bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan dengan kekayaan baru ini? Ayah Fatimah telah membesarkan Fatimah—dan saudara perempuannya yang bernama Mariam—untuk mendapatkan pendidikan terbaik.
Fatimah dan Mariam memutuskan untuk menggunakan harta mereka untuk membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qairouan karena dibangun di bagian Fes yang dihuni sebagian besar pengungsi dari Qairouan, Tunisia.
Awalnya, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.
Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (3): Pandangan dan Jalan Pikirannya
Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekadar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.
Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ.
Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi sekarang secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan Muslim Timur Tengah yang lebih luas.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (2): Obrak-abrik Tempat Mabuk-mabukan dan Perang Melawan Tartar
Ayah Fatimah—yang hanya dalam waktu 10 tahun menetap di Ibu Kota baru tersebut—telah berhasil sukses kembali, dan saat dia meninggal, Fatimah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang sangat besar.
Fatimah bertanya-tanya, apa yang harus dilakukan dengan kekayaan baru ini? Ayah Fatimah telah membesarkan Fatimah—dan saudara perempuannya yang bernama Mariam—untuk mendapatkan pendidikan terbaik.
Fatimah dan Mariam memutuskan untuk menggunakan harta mereka untuk membangun masjid dan sekolah bagi masyarakat setempat. Kompleks ini kemudian dikenal sebagai masjid dan sekolah Qairouan karena dibangun di bagian Fes yang dihuni sebagian besar pengungsi dari Qairouan, Tunisia.
Awalnya, Qairouan memiliki fungsi keagamaan yang sama dengan masjid dan madrasah-madrasah lainnya, yaitu pengajaran tentang ilmu-ilmu tradisional Islam yang menjadi landasan ajaran Islam di mana pun. Tiga bidang studi utama bagi siapa saja yang sedang mempelajari ajaran Islam adalah Studi Ilmu Tafsir Al-Quran, Studi Ilmu Hadis, dan Studi Ilmu Fiqh.
Namun, pada perkembangannya sekolah Qairouan juga menawarkan pelajaran non-Islam sebagai bagian dari pendidikan yang lebih luas, termasuk matematika, astronomi, astrologi, fisika, puisi, dan sastra.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (3): Pandangan dan Jalan Pikirannya
Inovasi ini merupakan hal yang penting bagi Qairouan untuk menjadi lebih dari sekadar sekolah keagamaan. Hal itu juga yang merupakan titik balik dalam sejarah Universitas Qairouan—dan untuk masa depan pendidikan tinggi di seluruh dunia.
Pada perkembangan lebih lanjut, pendidikan di Qairouan tidak lagi mewajibkan pelajaran agama, dalam artian non-muslim pun bisa saja sekolah di situ.
Mata pelajaran pendidikan tingkat tinggi sekarang secara teknis terbuka bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar. Pada akhirnya, yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Qairouan terbukti menjadi momen revolusioner bagi masyarakat manusia, berkembang melampaui zamannya, dan tidak terbatas pada penduduk Afrika Utara saja, tapi merambah ke kalangan Muslim Timur Tengah yang lebih luas.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (2): Obrak-abrik Tempat Mabuk-mabukan dan Perang Melawan Tartar
(mhy)
Lihat Juga :