Abu Dzar Al-Ghifari (7-Habis): Akhir yang Pilu dan Nubuat Rasulullah SAW
Sabtu, 23 Oktober 2021 - 15:23 WIB
loading...
A
A
A
“Ya Allah! Abu Dzar adalah sahabat Nabi-Mu dan orang yang beriman terhadap kitab-Mu dan Nabi-Mu. Dia berjuang dengan sangat berani di jalan-Mu, tetap teguh pada hukum Islam-Mu dan tidak pernah mengubah atau menyimpangkan perintah-Mu.
Wahai Tuhanku! Ketika melihat beberapa pelanggaran Kitab Suci dan tradisi dia meninggikan suaranya dan menarik perhatian orang-orang yang bertanggung jawab atas umat untuk melakukan perbaikan, akibatnya mereka menyiksanya, membuatnya pergi dari satu tempat ke tempat lain, menghinanya, menyuruhnya pergi dari negeri Nabi terkasih dan membuatnya mengalami kesulitan yang sangat. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan kesepian di tempat yang sunyi.
Ya Allah! Berikan Abu Dzar sebagian besar dari berkah surgawi yang telah Engkau janjikan kepada orang-orang yang beriman….”
“Amiiin,” seru yang lainnya.
Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Setelah selesai upacara pemakaman, hari sudah sore, dan mereka memutuskan untuk menginap semalam. Keesokan paginya mereka sudah berangkat kembali. Atas keinginannya sendiri, putri Abu Dzar tetap tinggal di sana. Beberapa hari kemudian Khalifah Utsman memanggil dan mengirimnya pulang.
Putri Abu Dzar masih tinggal di sana, di dekat kuburan ayahnya selama beberapa hari, hingga suatu malam dia melihat ayahnya di dalam mimpi, dia sedang duduk dan membaca Al-Quran.
“Ayah! Apa yang terjadi denganmu, dan sampai sejauh mana engkau diberkahi oleh Allah yang maha penyayang?”
Abu Dzar menjawab, “Wahai anakku, Allah telah menganugerahkan kepadaku bantuan tanpa batas, telah memberiku segala penghiburan dan memberikan segalanya kepadaku. Aku sangat senang dengan kemurahan hati-Nya. Sekarang adalah tugasmu untuk sibuk dalam beribadah kepada Allah seperti biasanya, dan jangan biarkan kebanggaan dan kesombongan menghampirimu.”
Sarjana dan sejarawan sepakat Abu Dzar wafat pada tanggal 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah di Rabzah. Pada saat itu usianya sudah 85 tahun.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
Wahai Tuhanku! Ketika melihat beberapa pelanggaran Kitab Suci dan tradisi dia meninggikan suaranya dan menarik perhatian orang-orang yang bertanggung jawab atas umat untuk melakukan perbaikan, akibatnya mereka menyiksanya, membuatnya pergi dari satu tempat ke tempat lain, menghinanya, menyuruhnya pergi dari negeri Nabi terkasih dan membuatnya mengalami kesulitan yang sangat. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan kesepian di tempat yang sunyi.
Ya Allah! Berikan Abu Dzar sebagian besar dari berkah surgawi yang telah Engkau janjikan kepada orang-orang yang beriman….”
“Amiiin,” seru yang lainnya.
Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Setelah selesai upacara pemakaman, hari sudah sore, dan mereka memutuskan untuk menginap semalam. Keesokan paginya mereka sudah berangkat kembali. Atas keinginannya sendiri, putri Abu Dzar tetap tinggal di sana. Beberapa hari kemudian Khalifah Utsman memanggil dan mengirimnya pulang.
Putri Abu Dzar masih tinggal di sana, di dekat kuburan ayahnya selama beberapa hari, hingga suatu malam dia melihat ayahnya di dalam mimpi, dia sedang duduk dan membaca Al-Quran.
“Ayah! Apa yang terjadi denganmu, dan sampai sejauh mana engkau diberkahi oleh Allah yang maha penyayang?”
Abu Dzar menjawab, “Wahai anakku, Allah telah menganugerahkan kepadaku bantuan tanpa batas, telah memberiku segala penghiburan dan memberikan segalanya kepadaku. Aku sangat senang dengan kemurahan hati-Nya. Sekarang adalah tugasmu untuk sibuk dalam beribadah kepada Allah seperti biasanya, dan jangan biarkan kebanggaan dan kesombongan menghampirimu.”
Sarjana dan sejarawan sepakat Abu Dzar wafat pada tanggal 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah di Rabzah. Pada saat itu usianya sudah 85 tahun.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
Lihat Juga :