Abu Dzar Al-Ghifari (7-Habis): Akhir yang Pilu dan Nubuat Rasulullah SAW

Sabtu, 23 Oktober 2021 - 15:23 WIB
loading...
Abu Dzar Al-Ghifari...
Abu Dzar wafat di padang pasir Rabzah sebatang kara (Foto/Ilustrasi: Ist)
A A A
Abu Dzar Al-Ghifari meninggal di pengasingan pada era pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan . Ia menyusul istri dan putranya yang meninggal terlebih dahulu. Tinggal putrinya seorang yang bertahan. Akhir Abu Dzar sesuai dengan nubuat Rasulullah SAW yang pada suatu ketika berdoa:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Dia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (6): Menyusul Anak, Istri, Meninggal di Pengasingan

Akhir kisah Abu Dzar Ghifari diceritakan buku The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr (ra) berdasar cerita anak perempuan Abu Dzar sbb:

Ketika Ayahku meninggal, aku berlari sambil menangis ke arah jalan yang menuju ke Irak. Aku duduk di sana menunggu rombongan yang akan datang. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa jenazah Ayah terbaring sendirian. Lalu aku berlari ke Ayah. Kemudian kembali lagi ke sisi lain dari jalan yang seharusnya mereka akan lewati. Aku datang dan pergi beberapa kali.

Sekarang tiba-tiba aku melihat beberapa orang datang dengan unta. Ketika mereka mendekat, aku mendekati mereka juga dengan air mata di mataku dan berkata kepada mereka, ‘Wahai sahabat Nabi! Seorang sahabat Nabi telah meninggal.’

Mereka bertanya kepadaku, "siapa dia?"

Aku menjawab, "Ayahku, Abu Dzar al-Ghifari."

Begitu mereka mendengarnya, mereka turun dari unta dan menemaniku yang menangis. Ketika mereka sampai di tempat, mereka menangis dan sangat terkejut dengan kematiannya yang menyedihkan dan segera menyibukkan diri dengan upacara pemakamannya.

Sejarawan A’tham Kufi mengatakan bahwa rombongan yang akan pergi ke Irak terdiri dari Ahnaf bin Qays Tamim, Sa’sa’ah bin Sauhan al ‘Abdi, Kharijah bin Salat Tamimi, Abdullah bin Muslimah Tamimi, Hilal bin Malik Nazle, Jarir bin Abdullah Bajali, Malik bin Ashtar bin Harits, dan lain-lain.

Orang-orang ini memandikan dan memasangkan kain kafan kepada Abu Dzar. Setelah pemakaman, Malik bin Ashtar berdiri di samping kuburan dan menyampaikan pidato mengenai masa hidup Abu Dzar dan mendoakannya. Setelah memuji Allah SWT dia berkata:

“Ya Allah! Abu Dzar adalah sahabat Nabi-Mu dan orang yang beriman terhadap kitab-Mu dan Nabi-Mu. Dia berjuang dengan sangat berani di jalan-Mu, tetap teguh pada hukum Islam-Mu dan tidak pernah mengubah atau menyimpangkan perintah-Mu.

Wahai Tuhanku! Ketika melihat beberapa pelanggaran Kitab Suci dan tradisi dia meninggikan suaranya dan menarik perhatian orang-orang yang bertanggung jawab atas umat untuk melakukan perbaikan, akibatnya mereka menyiksanya, membuatnya pergi dari satu tempat ke tempat lain, menghinanya, menyuruhnya pergi dari negeri Nabi terkasih dan membuatnya mengalami kesulitan yang sangat. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan kesepian di tempat yang sunyi.

Ya Allah! Berikan Abu Dzar sebagian besar dari berkah surgawi yang telah Engkau janjikan kepada orang-orang yang beriman….”

“Amiiin,” seru yang lainnya.

Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein

Setelah selesai upacara pemakaman, hari sudah sore, dan mereka memutuskan untuk menginap semalam. Keesokan paginya mereka sudah berangkat kembali. Atas keinginannya sendiri, putri Abu Dzar tetap tinggal di sana. Beberapa hari kemudian Khalifah Utsman memanggil dan mengirimnya pulang.

Putri Abu Dzar masih tinggal di sana, di dekat kuburan ayahnya selama beberapa hari, hingga suatu malam dia melihat ayahnya di dalam mimpi, dia sedang duduk dan membaca Al-Quran.

“Ayah! Apa yang terjadi denganmu, dan sampai sejauh mana engkau diberkahi oleh Allah yang maha penyayang?”

Abu Dzar menjawab, “Wahai anakku, Allah telah menganugerahkan kepadaku bantuan tanpa batas, telah memberiku segala penghiburan dan memberikan segalanya kepadaku. Aku sangat senang dengan kemurahan hati-Nya. Sekarang adalah tugasmu untuk sibuk dalam beribadah kepada Allah seperti biasanya, dan jangan biarkan kebanggaan dan kesombongan menghampirimu.”

Sarjana dan sejarawan sepakat Abu Dzar wafat pada tanggal 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah di Rabzah. Pada saat itu usianya sudah 85 tahun.

Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya

Nubuat Rasulullah
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah menceritakan pada waktu perang Tabuk, tahun 9 Hijriyah, Rasulullah beserta sahabat sedang dalam perjalanan dalam rangka menghadang pasukan Romawi yang telah berkumpul di suatu tempat. Karena medan yang sulit dan cuaca yang teramat panas terik, dan ada beberapa Muslim yang pergi belakangan, maka rombongan pasukan Muslim menjadi terpisah-pisah.

Begitu pula dengan Abu Dzar, dia terpisah dari rombongan utama karena keledainya melambat. Keledai tersebut kelelahan karena perjalanan yang panjang ditambah terik matahari membuatnya kelaparan dan kehausan. Maka Abu Dzar memutuskan untuk berjalan kaki saja, lalu dipikulnya sendiri barang-barangnya. Dia mempercepat langkahnya agar dapat segera menyusul Rasulullah SAW.

Di suatu pagi, kaum Muslimin tengah beristirahat di suatu tempat, tiba-tiba salah seorang melihat kepulan debu di kejauhan, sedang di depannya terlihat seorang lelaki yang berjalan cepat. “Wahai Rasulullah, itu ada seorang lelaki berjalan seorang diri!” serunya.

“Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar,” kata Rasulullah.

Setelah dia dekat dengan rombongan, seseorang berseru, “Wahai Rasulullah! Demi Allah dia Abu Dzar!”

Tibalah Abu Dzar di hadapan Rasulullah dengan wajah gembira. Maka tersenyumlah Rasulullah, senyuman yang menyiratkan kesantunan dan belas kasihan, seraya berkata:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Dia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Setelah lebih dari 20 tahun lalu sejak kejadian tersebut, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabzah sebatang kara, setelah sebatang kara dia menempuh hidup yang luar biasa yang seorangpun tidak dapat menyamainya.

Dan dalam lembaran sejarah, dia muncul hanya sebatang kara—yakni orang satu-satunya—baik dalam keagungan zuhud maupun keluhuran cita, dan kemudian dia akan dibangkitkan di sisi Allah sebagai tokoh satu-satunya juga, karena dengan segala amalannya, tidak ada seorang pun yang memadai untuk berdampingan dengannya.

Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Utsman bin Affan...
Kisah Utsman bin Affan Merobohkan Masjid Nabawi, Bangun Ulang Menjadi Megah
Menjadikan Rasulullah...
Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Kiblat Ekonomi Umat
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Jejak Sejarah Ibadah...
Jejak Sejarah Ibadah Umrah Rasulullah SAW, Hanya 4 Kali Seumur Hidup
Diplomasi Perang ala...
Diplomasi Perang ala Rasulullah SAW: Strategi Cerdas di Balik Kemenangan
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Rekomendasi
Di Balik Perintah dan...
Di Balik Perintah dan Makna Ibadah Haji : Pelajaran dari Perjalanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya
Ini Prakiraan Cuaca...
Ini Prakiraan Cuaca 31 Provinsi di Indonesia yang Dilintasi Gerhana Matahari
Racun di Danau Laguna...
Racun di Danau Laguna Verde Diklaim seperti Air di Mars
Artikel Terkini
Kenali 7 Ciri Wanita...
Kenali 7 Ciri Wanita yang Tertipu Fitnah Dajjal di Akhir Zaman
Kumpulan Doa Menghadapi...
Kumpulan Doa Menghadapi Fitnah Akhir Zaman, Kaum Muslim Wajib Tahu
Pesugihan untuk Cepat...
Pesugihan untuk Cepat Kaya, Benarkah Bisa Mendatangkan Rezeki? Ini Penjelasan Islam
Pejabat yang Menyesal...
Pejabat yang Menyesal di Hari Kiamat, Siapa Saja Mereka?
Bolehkah Mengejar Jabatan...
Bolehkah Mengejar Jabatan dalam Islam? Ini Penjelasan Hadis dan Kisah Nabi Yusuf AS
Fitnah Kekuasaan: Bahaya...
Fitnah Kekuasaan: Bahaya Jabatan, Mengejar Dunia yang Tiada Akhir
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved