Hudzaifah bin al-Yaman (1): Pemegang Daftar Orang Munafik Zaman Nabi SAW
Minggu, 24 Oktober 2021 - 12:42 WIB
loading...
A
A
A
Hudzaifah bin al-Yaman memiliki nama lain (kunyah) Abu Abdallah, dia adalah termasuk di antara para sahabat Nabi yang masuk Islam pada masa awal-awal. Ayah Hudzaifah bernama al-Yaman bin Jabir, namun menurut al-Tabari nama asli ayah Hudzaifah adalah Husail bin Jabir.
Al-Tabari dalam kitabnya berjudul Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk memaparkan keluarga Husail berasal dari Yaman, namun karena keluarga itu terlibat pertikaian dengan sukunya di Yaman, akhirnya mereka mengungsi ke Madinah sebelum kebangkitan agama Islam. Di Madinah, keluarga mereka disebut dengan “al-Yaman”, yang bermakna “orang-orang dari selatan”.
Suatu waktu, Husail bersama kedua putranya, Hudzaifah dan Shafwan, datang menemui Nabi di Makkah. Setelah pertemuan tersebut, ketiganya memutuskan untuk masuk Islam. Setelah masuk Islam, bakat alamiah Hudzaifah untuk membaca watak asli seseorang semakin tajam karena didikan Rasulullah SAW.
Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Menurut Khalid Muhammad Khalid, terhadap Rasulullah, hati Hudzaifah benar-benar terbuka, tak ada satupun persoalan hidupnya yang dia sembunyikan. Bersama Rasulullah dia tumbuh menjadi orang yang jujur dan mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran. Sebaliknya, dia tidak menyukai orang-orang yang berbelit-belit, gemar riya, culas, dan bermuka dua.
Dia bergaul dan sangat dekat dengan Rasulullah, dan sungguh, tidak ada tempat lainnya yang dapat membuat kepribadian Hudzaifah dapat berkembang dengan pesat, yakni dalam pangkuan agama Islam, di hadapan Rasulullah dan di tengah-tengah banyak sahabat Rasulullah yang menjadi perintis dari ajaran ini.
Mengenai kedekatannya dengan Rasulullah, Hudzaifah berkisah, “Suatu waktu aku melaksanakan sholat dengan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan. Dia kemudian bangkit untuk mandi dan aku menutupinya.
“Ketika air tersisa di wadah, katanya, ‘Jika mau, engkau bisa menggunakannya untuk mandi, kalau tidak, kamu bisa menambahkan air lagi.’
‘Wahai Rasulullaah,’ aku menjawab, ‘Air sisa milikmu ini lebih kucintai daripada apa pun yang bisa aku tambahkan.’
“Ketika aku mulai mandi, Rasulullah menutupiku. ‘Engkau tidak perlu menutupiku,’ aku bilang. Dia menjawab, ‘Kenapa tidak? Aku harus menutupimu sebagaimana engkau menutupiku?’.” (Bersambung)
Baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Ketika Singa Allah Ditikam Lembing Wahsyi bin Harb
Al-Tabari dalam kitabnya berjudul Taʾrīkh al-Rusūl wa al-Mulūk memaparkan keluarga Husail berasal dari Yaman, namun karena keluarga itu terlibat pertikaian dengan sukunya di Yaman, akhirnya mereka mengungsi ke Madinah sebelum kebangkitan agama Islam. Di Madinah, keluarga mereka disebut dengan “al-Yaman”, yang bermakna “orang-orang dari selatan”.
Suatu waktu, Husail bersama kedua putranya, Hudzaifah dan Shafwan, datang menemui Nabi di Makkah. Setelah pertemuan tersebut, ketiganya memutuskan untuk masuk Islam. Setelah masuk Islam, bakat alamiah Hudzaifah untuk membaca watak asli seseorang semakin tajam karena didikan Rasulullah SAW.
Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Menurut Khalid Muhammad Khalid, terhadap Rasulullah, hati Hudzaifah benar-benar terbuka, tak ada satupun persoalan hidupnya yang dia sembunyikan. Bersama Rasulullah dia tumbuh menjadi orang yang jujur dan mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran. Sebaliknya, dia tidak menyukai orang-orang yang berbelit-belit, gemar riya, culas, dan bermuka dua.
Dia bergaul dan sangat dekat dengan Rasulullah, dan sungguh, tidak ada tempat lainnya yang dapat membuat kepribadian Hudzaifah dapat berkembang dengan pesat, yakni dalam pangkuan agama Islam, di hadapan Rasulullah dan di tengah-tengah banyak sahabat Rasulullah yang menjadi perintis dari ajaran ini.
Mengenai kedekatannya dengan Rasulullah, Hudzaifah berkisah, “Suatu waktu aku melaksanakan sholat dengan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan. Dia kemudian bangkit untuk mandi dan aku menutupinya.
“Ketika air tersisa di wadah, katanya, ‘Jika mau, engkau bisa menggunakannya untuk mandi, kalau tidak, kamu bisa menambahkan air lagi.’
‘Wahai Rasulullaah,’ aku menjawab, ‘Air sisa milikmu ini lebih kucintai daripada apa pun yang bisa aku tambahkan.’
“Ketika aku mulai mandi, Rasulullah menutupiku. ‘Engkau tidak perlu menutupiku,’ aku bilang. Dia menjawab, ‘Kenapa tidak? Aku harus menutupimu sebagaimana engkau menutupiku?’.” (Bersambung)
Baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Ketika Singa Allah Ditikam Lembing Wahsyi bin Harb
(mhy)
Lihat Juga :