Kisah Inspiratif: Abaikan Pembesar, Sang Qadhi Pilih Menantu yang Jujur
Senin, 01 November 2021 - 21:12 WIB
loading...
A
A
A
"Wahai tuanku, sungguh aku tak tahu, mana anggur yang manis dan mana anggur yang masam," kata Mubarok.
"Subhanallah, engkau hidup satu bulan penuh dalam kebun anggur tetapi engkau belum bisa membedakan mana anggur yang manis dan mana yang masam?"
"Benar wahai tuanku, aku tidak bisa membedakannya," kata Mubarok.
"Kenapa engkau tidak mencicipi anggur itu agar tahu rasanya?" kata Syekh Nuh bin Maryam.
"Engkau hanya memerintahkan aku untuk menjaganya, dan tidak memerintahkan aku untuk mencicipinya, bagaimana bisa aku mengkhianatimu wahai tuanku?" jawab Mubarok.
Mendengar ucapan itu, Al-Qadhi Syekh Nuh merasa takjub akan kejujuran pemuda ini, lalu berkata: "Semoga Allah menjagamu atas amanah yang engkau emban wahai anak muda."
Syekh Nuh sekarang tahu, bahwa pemuda yang berada di hadapannya adalah laki-laki yang jujur dan memiliki akal cerdas. Syekh Nuh pun berkata: "Wahai anak muda, sungguh hatiku saat ini sangat senang padamu, dan aku ingin engkau melaksanakan perintahku berikutnya."
"Aku selalu mentaati Allah Ta'ala dan perintahmu wahai Syekh," kata Mubarok.
Syekh Nuh berkata: "Sesungguhnya aku memiliki seorang putri yang sangat cantik dan sudah pernah dikhitbah (dilamar) oleh banyak para pembesar dan orang-orang penting, tetapi aku masih belum tau. Siapa di antara mereka yang harus aku jadikan menantu, apa saranmu atas masalahku ini?"
Mubarok berkata: "Orang-orang kafir zaman jahiliyyah, mereka lebih mengutamakan keturunan, nasab, kemasyhuran keluarga, juga kedudukan."
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih mengutamakan keelokan dan kecantikan. Pada masa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Para sahabat lebih mengutamakan kebaikan agama juga ketakwaan."
"Sedangkan di zaman kita sekarang, dalam masalah mencari mantu, para orang tua lebih mengutamakan banyaknya harta benda. Oleh karena itu wahai Syekh, Anda bebas menentukan pilihan anda dari empat hal ini."
"Subhanallah, engkau hidup satu bulan penuh dalam kebun anggur tetapi engkau belum bisa membedakan mana anggur yang manis dan mana yang masam?"
"Benar wahai tuanku, aku tidak bisa membedakannya," kata Mubarok.
"Kenapa engkau tidak mencicipi anggur itu agar tahu rasanya?" kata Syekh Nuh bin Maryam.
"Engkau hanya memerintahkan aku untuk menjaganya, dan tidak memerintahkan aku untuk mencicipinya, bagaimana bisa aku mengkhianatimu wahai tuanku?" jawab Mubarok.
Mendengar ucapan itu, Al-Qadhi Syekh Nuh merasa takjub akan kejujuran pemuda ini, lalu berkata: "Semoga Allah menjagamu atas amanah yang engkau emban wahai anak muda."
Syekh Nuh sekarang tahu, bahwa pemuda yang berada di hadapannya adalah laki-laki yang jujur dan memiliki akal cerdas. Syekh Nuh pun berkata: "Wahai anak muda, sungguh hatiku saat ini sangat senang padamu, dan aku ingin engkau melaksanakan perintahku berikutnya."
"Aku selalu mentaati Allah Ta'ala dan perintahmu wahai Syekh," kata Mubarok.
Syekh Nuh berkata: "Sesungguhnya aku memiliki seorang putri yang sangat cantik dan sudah pernah dikhitbah (dilamar) oleh banyak para pembesar dan orang-orang penting, tetapi aku masih belum tau. Siapa di antara mereka yang harus aku jadikan menantu, apa saranmu atas masalahku ini?"
Mubarok berkata: "Orang-orang kafir zaman jahiliyyah, mereka lebih mengutamakan keturunan, nasab, kemasyhuran keluarga, juga kedudukan."
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih mengutamakan keelokan dan kecantikan. Pada masa Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Para sahabat lebih mengutamakan kebaikan agama juga ketakwaan."
"Sedangkan di zaman kita sekarang, dalam masalah mencari mantu, para orang tua lebih mengutamakan banyaknya harta benda. Oleh karena itu wahai Syekh, Anda bebas menentukan pilihan anda dari empat hal ini."
Lihat Juga :