Kisah Arisa, Mualaf dari Jepang (2): Mulanya Pakaian Seksi, Berjilbab, Lalu Bercadar
Selasa, 02 November 2021 - 14:08 WIB
loading...
A
A
A
"Baiklah, itu semua untuk Allah. Inilah jawaban yang sering aku terima. Tetapi tetap, mengapa mereka ingin melakukan itu semua?" tanyanya.
Ini juga merupakan momen dirinya memakai hijab pertama kali. "Mengapa?" ujarnya. "Karena teman-teman Malaysia memberiku hijab sehingga aku pun memakainya. Saat itu aku merasa bahagia dan lega," jelasnya.
Pada Agustus 2014, Arisa memutuskan untuk belajar Islam di Malaysia selama satu bulan. Ia menginap di rumah salah seorang temannya dari Malaysia. Banyak hal yang bisa ia pelajari dari perjalanan kali ini.
"Aku pun mencoba tantangan 1 bulan yaitu berhijab dan menutup auratku dengan sempurna setiap hari selama 1 bulan. Kadang aku merasa kegerahan dan merasa tak kuat dengan panasnya. Tapi anehnya, di dalam hatiku rasanya begitu bahagia yang membuncah," tuturnya.
Ia pun mulai sholat setiap hari dan mencoba menghafal doa Iftitah, tahiyat awal dan akhir. "Kalau untuk surat Al Fatihah aku sudah hafal karena sebelum datang ke Malaysia, aku sudah menghafalkannya dibantu oleh ponselku setiap malam," terangnya.
Alhamdulillah, kata Arisa, banyak orang yang mendoakan dirinya. Tapi saat itu dirinya belum siap untuk mengucapkan syahadat sebagai syarat sahnya seseorang masuk Islam.
Dia mengakui masih mempunyai banyak masalah: keluarga, teman, pacar, dan pekerjaan. "Yang penting," katanya yakin. "Aku percaya pada Allah dan mengucap syahadat dalam hati saja. Aku juga berdoa agar semua masalahku dimudahkan-Nya," lanjutnya.
Tepat tanggal 17 Januari 2015, Arisa bersyahadat. Semua itu berawal ketika ia membaca Al-Quran dalam terjemahan Bahasa Jepang. Ia tak bisa berhenti menangis. Saat itulah ia merasa hidayah menyapanya.
"Aku belum tahu bagaimana cara mengucapkan syahadat secara resmi supaya aku benar-benar menjadi seorang muslim. Aku pun langsung berangkat ke masjid tanpa tahu apakah aku bisa bersyahadat hari itu atau tidak," ucapnya.
Semua orang di masjid menyambut Arisa dengan suka cita. Ada lebih dari 10 muslimah yang hadir di masjid untuk menyaksikan keislamannya.
Prof Misbah ur-Rahman Yousfi yang menuntun Arisa bersyahadat. Setelah bersyahadat, ia pun memilih Nur Arisa Maryam sebagai nama hijrahnya.
"Air mata tak henti mengalir tanda bahagia. Dan di malam itu pula, aku bisa mendirikan sholat Isya dengan kondisi diriku sudah muslim untuk pertama kalinya," ujarnya.
Baca juga: Sebelum Jadi Penghafal Al-Quran, Mualaf Cantik Ini Dulunya Benci Suara Adzan
Ini juga merupakan momen dirinya memakai hijab pertama kali. "Mengapa?" ujarnya. "Karena teman-teman Malaysia memberiku hijab sehingga aku pun memakainya. Saat itu aku merasa bahagia dan lega," jelasnya.
Pada Agustus 2014, Arisa memutuskan untuk belajar Islam di Malaysia selama satu bulan. Ia menginap di rumah salah seorang temannya dari Malaysia. Banyak hal yang bisa ia pelajari dari perjalanan kali ini.
"Aku pun mencoba tantangan 1 bulan yaitu berhijab dan menutup auratku dengan sempurna setiap hari selama 1 bulan. Kadang aku merasa kegerahan dan merasa tak kuat dengan panasnya. Tapi anehnya, di dalam hatiku rasanya begitu bahagia yang membuncah," tuturnya.
Ia pun mulai sholat setiap hari dan mencoba menghafal doa Iftitah, tahiyat awal dan akhir. "Kalau untuk surat Al Fatihah aku sudah hafal karena sebelum datang ke Malaysia, aku sudah menghafalkannya dibantu oleh ponselku setiap malam," terangnya.
Alhamdulillah, kata Arisa, banyak orang yang mendoakan dirinya. Tapi saat itu dirinya belum siap untuk mengucapkan syahadat sebagai syarat sahnya seseorang masuk Islam.
Dia mengakui masih mempunyai banyak masalah: keluarga, teman, pacar, dan pekerjaan. "Yang penting," katanya yakin. "Aku percaya pada Allah dan mengucap syahadat dalam hati saja. Aku juga berdoa agar semua masalahku dimudahkan-Nya," lanjutnya.
Tepat tanggal 17 Januari 2015, Arisa bersyahadat. Semua itu berawal ketika ia membaca Al-Quran dalam terjemahan Bahasa Jepang. Ia tak bisa berhenti menangis. Saat itulah ia merasa hidayah menyapanya.
"Aku belum tahu bagaimana cara mengucapkan syahadat secara resmi supaya aku benar-benar menjadi seorang muslim. Aku pun langsung berangkat ke masjid tanpa tahu apakah aku bisa bersyahadat hari itu atau tidak," ucapnya.
Semua orang di masjid menyambut Arisa dengan suka cita. Ada lebih dari 10 muslimah yang hadir di masjid untuk menyaksikan keislamannya.
Prof Misbah ur-Rahman Yousfi yang menuntun Arisa bersyahadat. Setelah bersyahadat, ia pun memilih Nur Arisa Maryam sebagai nama hijrahnya.
"Air mata tak henti mengalir tanda bahagia. Dan di malam itu pula, aku bisa mendirikan sholat Isya dengan kondisi diriku sudah muslim untuk pertama kalinya," ujarnya.
Baca juga: Sebelum Jadi Penghafal Al-Quran, Mualaf Cantik Ini Dulunya Benci Suara Adzan
(mhy)
Lihat Juga :