Catatan Emas Jihad Laut Daulah Thuluniyah Bendung Serangan Byzantium
Kamis, 04 November 2021 - 11:50 WIB
loading...
A
A
A
Dinasti Thuluniyah dan Ahmad bin Thulun
Dedi Supriyadi dalam bukunya berjudul Sejarah Peradaban Islam menjelaskan Dinasti Thuluniyah didirikan oleh Ahmad bin Thulun, seorang budak dari Asia Tengah yang dikirim oleh Panglima Thahir bin Al-Husain ke Baghdad sebagai persembahan untuk Khalifah Al-Makmun. Di Baghdad, Ahmad bin Thulun diangkat menjadi kepala pegawai istana.
Ahmad bin Thulun dikenal sebagai sosok yang gagah berani di medan perang, tetapi tetap dermawan, serta seorang hafidz, ahli sastra, dan ahli syariat. Ahmad bin Thulun kemudian diutus ke Mesir sebagai wakil Dinasti Abbasiyah.
Lalu dalam perkembangannya, ia naik tahta menjadi gubernur yang wilayah kekuasaannya hingga ke Palestina dan Suriah.
Pada masa Khalifah Al-Mu’taz, terjadi distabilitas politik di wilayah kekuasaan Abbasiyah. Hal itu lantas dimanfaatkan oleh Ahmad bin Thulun untuk mendeklarasikan kemerdekaan wilayah yang dipimpinnya. Akhirnya terbentuklah Dinasti Thuluniyah, yang wilayah kekuasaannya mencakup Mesir, Palestina, Siria, dan Hijaz.
Meskipun telah membentuk kekuasaannya secara independen, Dinasti Thuluniyah tetap berhubungan baik dengan pemerintahan pusat Dinasti Abbasiyah. Setiap tahunnya, Dinasti Thuluniyah membayar pajak kepada Dinasti Abbasiyah sebanyak 300.000 dinar.
Posisi Ahmad bin Thulun yang semakin kuat, membuat salah seorang kerabat khalifah, yaitu Al-Muwaffaq, merencanakan penyerangan terhadap Dinasti Thuluniyah, dengan cara memengaruhi Khalifah Al-Mu’tamid.
Ia merasa iri dengan keberhasilan Ahmad bin Thulun. Tetapi rencana tersebut gagal dilaksanakan karena Dinasti Thuluniyah memiliki pasukan yang tangguh dan terlatih, sehingga pasukan khalifah berhasil dihalau.
Setelah kejadian penyerangan itu, Ahmad bin Thulun menderita sakit hingga akhirnya wafat pada usia 50 tahun. Kekuasaannya kemudian digantikan oleh putranya, Al-Khumarwaihi.
Pada masa pemerintahan Al-Khumarwaihi, Dinasti Thuluniyah berada pada masa kejayannya. Ketika itu, Khalifah Al-Mu’tamid terpaksa menyerahkan wilayah Mesir, Siria, Aljazair, dan gunung Tauruts, kepada pemerintahan Thuluniyah.
Pada masa ini pun berbagai prestasi diukir Dinasti Thuluniyah, salah satunya kemajuan di bidang seni dan sastra. Pada bidang seni, telah dibangun sebuah masjid yang sangat megah, bernama masjid Ahmad bin Thulun. Keistimewaan masjid itu terletak pada menaranya yang sangat indah dan megah.
Dedi Supriyadi dalam bukunya berjudul Sejarah Peradaban Islam menjelaskan Dinasti Thuluniyah didirikan oleh Ahmad bin Thulun, seorang budak dari Asia Tengah yang dikirim oleh Panglima Thahir bin Al-Husain ke Baghdad sebagai persembahan untuk Khalifah Al-Makmun. Di Baghdad, Ahmad bin Thulun diangkat menjadi kepala pegawai istana.
Ahmad bin Thulun dikenal sebagai sosok yang gagah berani di medan perang, tetapi tetap dermawan, serta seorang hafidz, ahli sastra, dan ahli syariat. Ahmad bin Thulun kemudian diutus ke Mesir sebagai wakil Dinasti Abbasiyah.
Lalu dalam perkembangannya, ia naik tahta menjadi gubernur yang wilayah kekuasaannya hingga ke Palestina dan Suriah.
Pada masa Khalifah Al-Mu’taz, terjadi distabilitas politik di wilayah kekuasaan Abbasiyah. Hal itu lantas dimanfaatkan oleh Ahmad bin Thulun untuk mendeklarasikan kemerdekaan wilayah yang dipimpinnya. Akhirnya terbentuklah Dinasti Thuluniyah, yang wilayah kekuasaannya mencakup Mesir, Palestina, Siria, dan Hijaz.
Meskipun telah membentuk kekuasaannya secara independen, Dinasti Thuluniyah tetap berhubungan baik dengan pemerintahan pusat Dinasti Abbasiyah. Setiap tahunnya, Dinasti Thuluniyah membayar pajak kepada Dinasti Abbasiyah sebanyak 300.000 dinar.
Posisi Ahmad bin Thulun yang semakin kuat, membuat salah seorang kerabat khalifah, yaitu Al-Muwaffaq, merencanakan penyerangan terhadap Dinasti Thuluniyah, dengan cara memengaruhi Khalifah Al-Mu’tamid.
Ia merasa iri dengan keberhasilan Ahmad bin Thulun. Tetapi rencana tersebut gagal dilaksanakan karena Dinasti Thuluniyah memiliki pasukan yang tangguh dan terlatih, sehingga pasukan khalifah berhasil dihalau.
Setelah kejadian penyerangan itu, Ahmad bin Thulun menderita sakit hingga akhirnya wafat pada usia 50 tahun. Kekuasaannya kemudian digantikan oleh putranya, Al-Khumarwaihi.
Pada masa pemerintahan Al-Khumarwaihi, Dinasti Thuluniyah berada pada masa kejayannya. Ketika itu, Khalifah Al-Mu’tamid terpaksa menyerahkan wilayah Mesir, Siria, Aljazair, dan gunung Tauruts, kepada pemerintahan Thuluniyah.
Pada masa ini pun berbagai prestasi diukir Dinasti Thuluniyah, salah satunya kemajuan di bidang seni dan sastra. Pada bidang seni, telah dibangun sebuah masjid yang sangat megah, bernama masjid Ahmad bin Thulun. Keistimewaan masjid itu terletak pada menaranya yang sangat indah dan megah.
Lihat Juga :