Zainab Binti Rasulullah, Teladan dalam Cinta dan Kesetiaan pada Suami
Sabtu, 06 November 2021 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Dengan demikian habislah semua harta Abu al-'Ash dan harta orang lain yang dibawanya. Ia tidak dapat mengembalikan amanah yang diserahkan kepadanya. Semua hartanya telah habis, sementara orang-orang yang menitipkan dagangan menunggu kepulangannya.
Dalam suasana galau, ia teringat kepada Zainab yang sangat mencintai serta setia kepada dirinya. Ia pun masuk ke Kota Madinah secara sembunyi-sembunyi pada waktu malam, dan meminta kepada Zainab untuk memberikan perlindungan kepadanya, serta menolong untuk mengembalikan hartanya.
Zainab pun memberikan perlindungan kepadanya. Beliau menunjukkan sosok perempuan sejati dan akhlak terpuji. Tak ada dendam kesumat dan kebencian bersarang di hatinya.
Ketika tiba waktu fajar, umat Islam berduyun-duyun pergi ke masjid. Rasulullah mengumandangkan takbir, dan umat Islam pun bertakbir pula bersama beliau. Tiba-tiba dari balik dinding terdengar suara, "Hai orang-orang, sesungguhnya aku telah melindungi Abu al-'Ash. Ia sekarang berada dalam perlindungan dan pengamananku." Ternyata suara itu adalah suara Zainab, putri Rasulullah.
Seusai sholat, Rasulullah langsung menghadap para jamaah seraya bersabda: "Wahai kaum muslimin, adakah kalian mendengar suara sebagaimana yang aku dengar? Sesungguhnya Zainab adalah orang yang paling pantas memberikan perlindungan kepadanya."
Kemudian Rasulullah menemui putrinya, lalu berpesan: "Wahai putriku, hormatilah kedudukan Abu al-'Ash. Sebab tidak ada jalan baginya untuk lepas begitu saja, serta dirimu sama sekali tidak halal baginya, selama ia masih musyrik."
Pada tahun ke-7 Hijriyah, Abu al-Ash datang kembali ke Madinah dalam keadaan telah memeluk Islam. Ia pergi sebagai Muhajir, yang kemudian dipersatukan kembali dengan Zainab dalam hubungan pernikahan yang Islami.
Rasulullah sangat kagum dengan kesetiaan Zainab kepada suami yang telah lama berpisah, serta telah memutuskan syahwat terhadapnya demi memenuhi perintah Allah. Namun demikian, ia tetap bersikap baik dan setia memberikan pertolongan kepadanya. Sayyidah Zainab wafat pada Tahun 8 Hijriyah dan dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah. Beliau telah mengukir keteladanan yang indah, yakni kesetiaan seorang istri kepada suami, ketulusan cinta dan keteguhan iman.
Referensi:
Buku "25 Perempuan Teladan" karya Hj Umma Farida Lc MA
Baca Juga: 25 Wanita Cerdas di Zaman Rasulullah Layak Diteladani (3/Tamat)
Dalam suasana galau, ia teringat kepada Zainab yang sangat mencintai serta setia kepada dirinya. Ia pun masuk ke Kota Madinah secara sembunyi-sembunyi pada waktu malam, dan meminta kepada Zainab untuk memberikan perlindungan kepadanya, serta menolong untuk mengembalikan hartanya.
Zainab pun memberikan perlindungan kepadanya. Beliau menunjukkan sosok perempuan sejati dan akhlak terpuji. Tak ada dendam kesumat dan kebencian bersarang di hatinya.
Ketika tiba waktu fajar, umat Islam berduyun-duyun pergi ke masjid. Rasulullah mengumandangkan takbir, dan umat Islam pun bertakbir pula bersama beliau. Tiba-tiba dari balik dinding terdengar suara, "Hai orang-orang, sesungguhnya aku telah melindungi Abu al-'Ash. Ia sekarang berada dalam perlindungan dan pengamananku." Ternyata suara itu adalah suara Zainab, putri Rasulullah.
Seusai sholat, Rasulullah langsung menghadap para jamaah seraya bersabda: "Wahai kaum muslimin, adakah kalian mendengar suara sebagaimana yang aku dengar? Sesungguhnya Zainab adalah orang yang paling pantas memberikan perlindungan kepadanya."
Kemudian Rasulullah menemui putrinya, lalu berpesan: "Wahai putriku, hormatilah kedudukan Abu al-'Ash. Sebab tidak ada jalan baginya untuk lepas begitu saja, serta dirimu sama sekali tidak halal baginya, selama ia masih musyrik."
Pada tahun ke-7 Hijriyah, Abu al-Ash datang kembali ke Madinah dalam keadaan telah memeluk Islam. Ia pergi sebagai Muhajir, yang kemudian dipersatukan kembali dengan Zainab dalam hubungan pernikahan yang Islami.
Rasulullah sangat kagum dengan kesetiaan Zainab kepada suami yang telah lama berpisah, serta telah memutuskan syahwat terhadapnya demi memenuhi perintah Allah. Namun demikian, ia tetap bersikap baik dan setia memberikan pertolongan kepadanya. Sayyidah Zainab wafat pada Tahun 8 Hijriyah dan dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah. Beliau telah mengukir keteladanan yang indah, yakni kesetiaan seorang istri kepada suami, ketulusan cinta dan keteguhan iman.
Referensi:
Buku "25 Perempuan Teladan" karya Hj Umma Farida Lc MA
Baca Juga: 25 Wanita Cerdas di Zaman Rasulullah Layak Diteladani (3/Tamat)
(rhs)
Lihat Juga :