Kisah Sufi: Si Lumpuh dan Si Buta
Rabu, 17 November 2021 - 13:57 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1563, Sayid Sikandar Shah, Qadiri, setelah mendapatkan kepercayaan ini, meneruskan dan mewariskan mantel itu kepada Syeh Ahmad Faruqi dari Sirhind.
Guru Naqshbandi ini telah dinobatkan sebagai anggota enam belas Kaum Darwis oleh ayahnya, yang telah mencari dan menyusun kembali adat dan pengetahuan Sufisme yang sebelumnya terserak-serak, dalam pengelanaannya yang jauh dan berbahaya.
Diyakini bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan bagi kemunculan Guru Agung, dan dari generasi ke generasi orang-orang suci telah menantikan perwujudannya.
Sebagai akibat kemunculan Faruqi dan penerimaannya oleh semua kepala kaum pada masanya, Kaum Naqshbandi kini meresmikan pengikut-pengikutnya menjadi empat aliran utama dalam Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshbandi.
"Si Lumpuh dan Si Buta" dianggap berasal dari Syaikh Ahmad Faruqi, yang meninggal pada tahun 1615. Kisah ini diandaikan dibaca hanya setelah menerima perintah untuk membacanya; atau oleh mereka yang telah mempelajari karya Hakim Sanai, " Orang-orang Buta dan Gajah ".
Kisah ini juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Bahar dalam bukunya yang berjudul "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi". Juga Sapardi Djoko Damono dalam bukunya berjudul "Kisah-Kisah Sufi Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau".
Baca juga: Kisah Sufi: Maruf Si Tukang Sepatu dan Istrinya Fatima
Guru Naqshbandi ini telah dinobatkan sebagai anggota enam belas Kaum Darwis oleh ayahnya, yang telah mencari dan menyusun kembali adat dan pengetahuan Sufisme yang sebelumnya terserak-serak, dalam pengelanaannya yang jauh dan berbahaya.
Diyakini bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan bagi kemunculan Guru Agung, dan dari generasi ke generasi orang-orang suci telah menantikan perwujudannya.
Sebagai akibat kemunculan Faruqi dan penerimaannya oleh semua kepala kaum pada masanya, Kaum Naqshbandi kini meresmikan pengikut-pengikutnya menjadi empat aliran utama dalam Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshbandi.
"Si Lumpuh dan Si Buta" dianggap berasal dari Syaikh Ahmad Faruqi, yang meninggal pada tahun 1615. Kisah ini diandaikan dibaca hanya setelah menerima perintah untuk membacanya; atau oleh mereka yang telah mempelajari karya Hakim Sanai, " Orang-orang Buta dan Gajah ".
Kisah ini juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Bahar dalam bukunya yang berjudul "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi". Juga Sapardi Djoko Damono dalam bukunya berjudul "Kisah-Kisah Sufi Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau".
Baca juga: Kisah Sufi: Maruf Si Tukang Sepatu dan Istrinya Fatima
(mhy)
Lihat Juga :