Kisah Sufi Khwaja Muhammad Baba Samasi: Cara Mendapat Pengetahuan

loading...
Kisah Sufi Khwaja Muhammad Baba Samasi: Cara Mendapat Pengetahuan
Kisah ini tradisi lisan para Darwis Badakhshan karya Khwaja Muhammad Baba Samasi. Beliau adalah Guru Agung dalam Tarekat Para Guru, urutan ketiga sebelum Bahaudin Naqshbandi, dan meninggal tahun 1354. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah sufi, tradisi lisan para Darwis Badakhshan karya Khwaja Muhammad Baba Samasi. Beliau adalah Guru Agung dalam Tarekat Para Guru, urutan ketiga sebelum Bahaudin Naqshbandi, dan meninggal tahun 1354. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga

Pada suatu masa, ada seseorang yang memutuskan bahwa ia memerlukan pengetahuan. Ia pun segera mengadakan perjalanan menuju rumah seseorang yang berpengetahuan.

Ketika ia sampai di sana, katanya, "Sufi, kau orang bijak! Berilah padaku sebagian pengetahuanmu itu agar aku bisa menelaahnya dan menjadi berguna, sebab aku merasa diriku tak berguna."

Sufi itu berkata, "Aku bisa memberimu pengetahuan sebagai imbalan atas sesuatu yang aku perlukan. Pergi dan bawalah untukku selembar permadani kecil; benda itu mau kuhadiahkan kepada seseorang yang mampu melanjutkan tugas suci kami."

Lalu, orang itu pun berangkatlah. Ia sampai di sebuah toko permadani dan berkata pada pemiliknya, "Berilah saya sebuah permadani, yang kecil saja, akan saya bawa untuk seorang Sufi, yang akan memberiku pengetahuan. Nantinya ia mau memberikan permadani itu kepada seseorang yang bisa melanjutkan tugas suci Para Agung."

Pedagang permadani itu berkata, "Yang Saudara katakan baru saja adalah penjelasan tentang keperluan Saudara, dan pekerjaan Sufi, dan kebutuhan seseorang yang akan mempergunakan permadani itu. Bagaimana dengan saya? Saya perlu benang untuk menjahit karpet. Nah, kalau Saudara carikan benang itu, saya bisa menolong Saudara."

Baca juga: Kisah Sufi Yunus bin Adam: Halwa, Makanan dari Surga

Demikianlah Si Pencari pun beranjak pergi, kali ini mencari seseorang yang bisa memberinya benang. Ketika ia sampai di pondok seorang wanita pemintal, berkatalah ia, "Wanita pemintal, saya minta benang. Saya harus membawanya ke Tukang Karpet, yang akan membuatkan sebuah permadani untuk kuserahkan kepada seorang Sufi; Guru itu hendak menghadiahkannya kepada seseorang yang harus melakukan tugas suci Para Guru. Sebagai imbalannya, saya dijanjikan pengetahuan yang kuinginkan."

Wanita itu pun menjawab, "Nah, Saudara perlu benang, tetapi saya juga perlu sesuatu untuk membuatkannya. Lupakan saja pembicaraan tentang keperluan Saudara, Sang Sufi, Tukang Karpet, dan orang yang harus memiliki permadani itu. Bagaimana dengan saya? Ada bulu kambing, ada benang. Bawalah kemari bulu kambing dan akan saya buatkan benang untuk Saudara."

Lalu, lelaki itu pun berjalan lagi, hingga ia bertemu dengan seorang gembala kambing dan mengungkapkan padanya tentang kebutuhannya. Gembala itu berkata, "Dan saya? Saudara perlu bulu kambing untuk diganti pengetahuan, saya butuh kambing untuk diambil bulunya. Bawalah ke sini seekor kambing supaya saya bisa membantu Saudara."

Maka, pergilah orang itu mencari seseorang yang menjual kambing. Ketika ditemukannya, ia pun menyampaikan kesulitannya, dan penjual itu berkata, "Tahu apa saya tentang pengetahuan, atau benang dan permadani? Yang saya tahu adalah bahwa semua orang mengejar kepentingannya sendiri. Mari kita bincangkan kebutuhanku, dan kalau Saudara bisa memenuhinya, kita akan bicara tentang kambing, dan dengan begitu Saudara bisa mendapatkan pengetahuan yang Saudara impikan itu."

"Apa kebutuhanmu?" tanya orang itu.

"Saya butuh kandang bagi kambingku pada malam hari, sebab kambing-kambing itu berkeliaran ke sembarang tempat. Berilah saya satu kandang dan baru kita bicarakan tentang keinginan Saudara memperoleh seekor atau dua ekor kambing."

Lalu, orang itu pun berkeliling mencari sebuah kandang. Akhirnya, ia bertemu dengan seorang tukang kayu, yang berkata, "Ya, saya bisa membuatkan Saudara sebuah kandang. Katakan saja ukurannya, sebab saya tak tertarik mendengarkan lebih jauh tentang permadani, pengetahuan, atau semacamnya. Namun, saya mempunyai sebuah keinginan, dan Saudara harus terlebih dahulu menolong saya memperolehnya; kalau tidak, saya tidak bersedia menolong Saudara."

"Apa keinginanmu itu?" tanya Si Pencari.

"Saya ingin menikah, namun tampaknya tak ada orang yang mau kunikahi. Mungkin Saudara bisa mencarikanku seorang calon istri, baru kemudian kita akan bicara tentang masalah tadi."

Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh

Orang itu pun melaksanakan permintaan tersebut, dan setelah mencari-cari, didapatinya seorang wanita yang berkata, "Saya kenal seorang gadis muda yang tak punya keinginan lain kecuali menikahi seorang tukang kayu seperti yang Saudara katakan. Malahan, seumur hidupnya ia memikirkan calon suaminya itu."

"Hal ini pasti semacam keajaiban bahwa tukang kayu idamannya itu sungguh ada dan bahwa gadis itu bisa mendengarnya lewat Saudara dan saya. Tetapi, bagaimana pula dengan saya?"
halaman ke-1
cover top ayah
وَاِذَاۤ اَنۡعَمۡنَا عَلَى الۡاِنۡسَانِ اَعۡرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ‌ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُوۡ دُعَآءٍ عَرِيۡضٍ
Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong, tetapi apabila ditimpa malapetaka, ia banyak berdoa.

(QS. Fussilat:51)
cover bottom ayah
preload video