Selalu Bersyukur: Kisah Dialog Jibril dengan Kerbau, Kelelawar, dan Cacing

loading...
Selalu Bersyukur: Kisah Dialog Jibril dengan Kerbau, Kelelawar, dan Cacing
Ilustrasi Malaikat Jibril: Ketika cacing ditanya jibril tentang kondisi dirinya, cacing merasa beruntung daripada manusia. (Foto/Ilustrasi: Ist)
Suatu hari, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril pergi menemui salah satu makhluk-Nya.Terjadi dialog antara jibril dan kerbau, kelelawar, lalu cacing. Jawaban cacing sungguh mengejutkan.

Baca juga: Ibrahim bin Adham Bertemu Malaikat Jibril, Ini Permintaannya

Pertama kali yang didatangi adalah kerbau. Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril menjumpainya dan bertanya, “Wahai kerbau, apakah kamu senang diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau?”

Kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku seekor kerbau. Aku sungguh masih beruntung daripada aku dijadikan-Nya seekor kelelawar. Bukankah mereka itu suka mandi dengan air kencingnya sendiri?”

Mendengar jawaban itu, Malaikat Jibril segera pergi menemui seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergelantungan dalam sebuah gua.

Malaikat Jibril lalu bertanya kepada kelelawar, “Wahai kelelawar, apakah kamu senang dijadikan oleh Allah sebagai seekor kelelawar?”

Kelelawar menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku seekor kelelawar. Sungguh aku merasa beruntung daripada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal dalam tanah, dan berjalan menggunakan perutnya.”

Mendengar jawaban itu, Malaikat Jibril segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah. Malaikat Jibril kemudian bertanya kepada si cacing, “Wahai cacing kecil, apakah kamu senang telah dijadikan Allah sebagai seekor cacing?”

Cacing menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan aku seekor cacing. Sungguh aku merasa beruntung daripada aku dijadikan-Nya sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal saleh, ketika mati mereka akan disiksa untuk selama-lamanya!"

Baca juga: Mengenal Tugas Lain Malaikat Jibril

Skenario Allah SWT
Yusuf Burhanudin dalam bukunya berjudul "Saat Tuhan Menyapa Hatimu" mengatakan kita bisa memetik tiga pelajaran dari kisah ini.

Pertama, dunia dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya diciptakan dengan kesengajaan dan skenario yang pasti, bukan main-main maupun kebetulan belaka.

Mahasuci Allah yang telah menciptakan langit dan bumi berikut segala isinya dengan keteraturan, sistem yang rapi, dan berpasang-pasangan. Sungguh semua susunan dan untaian kosmis dan keteraturan jagat raya ini tidaklah terjadi secara kebetulan atau untuk sekadar mainan belaka.

Allah SWT berfirman, "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Demikian anggapan orang-orang kafir, celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka". (QS Shad (381: 27).

Jagat raya adalah skenario besar Allah SWT dengan tujuan yang dahsyat pula. Saat menafsirkan ayat itu, Ibn Katsir menjelaskan, “Tidaklah Allah menciptakan langit dan bumi ini sia-sia belaka, tetapi dengan haqq (skenario pasti). Allah membalas orang yang berbuat jahat dengan balasan setimpal, dan memberikan pahala bagi mereka yang berbuat baik.” (Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, h. 440).

Allah SWT berfirman, "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Dukhan (441: 38-39).

Allah SWT berfirman, "Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan (QS Al-Jatsiyah (45): 22).

Salah satu tujuan besar dan dahsyat penciptaan manusia, misalnya, tiada lain agar mereka beribadah kepada Allah SWT Allah berfirman, Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (QS Al-Dzariyat (51): 56).

Syaikh Muhammad Mutawalli Sya'rawi dalam bukunya Mujizat Al-Quran menjelaskan arti ibadah sebagai berikut, “Allah SWT menciptakan manusia tiada lain untuk beribadah kepada-Nya. Inilah misi penting yang tidak bisa dimungkiri siapa pun."

"Allah memberitahukan bahwa penciptaan manusia adalah untuk beribadah. Tetapi pertanyaannya, apakah ibadah hanya sekadar duduk-duduk di masjid dan berdzikir? Bukankah Al-Quran menjelaskan kepada manusia seputar kewajiban beribadah, bekerja, melawan ketimpangan, berdakwah dengan cara yang baik, dan sebagainya. Semuanya dijelaskan agar terjadi kelangsungan yang dinamis dalam kehidupan manusia.”
halaman ke-1
preload video