Kisah Sufi Dzun Nun Al-Mishri: Pukullah pada Tanda Ini

loading...
Kisah Sufi Dzun Nun Al-Mishri: Pukullah pada Tanda Ini
Kisah ini bisa dibilang serupa dengan apa yang telah dituturkan oleh Paus Sylvester II, yang membawa pengetahuan dari Negeri Arab. (Ilustrasi : Ist)
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah yang bisa dibilang serupa dengan apa yang telah dituturkan oleh Paus Sylvester II, yang membawa pengetahuan dari "Negeri Arab". Termasuk matematika, dari Sevilla, Spanyol, pada abad kesepuluh.

Dikenal sebagai seorang penyihir karena kemampuannya dalam bidang teknik, Gerbert (begitulah ia disapa) 'menginap bersama seorang filsuf dari sekte Saracen'. Kuat dugaan, di sinilah Gerbert mendengar tentang kisah Sufi tersebut. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi: Tiga Ekor Ikan Bernama si Pandai, si Agak Pandai, dan si Bodoh

Dzun-Nun Al-Mishri, orang Mesir itu, menulis tentang cara menemukan pengetahuan yang tersembunyi dalam prasasti-prasasti peninggalan Firaun dengan perumpamaan.

Ada sebuah patung dengan jari menunjuk, dan di situ terpahat tulisan "Pukullah pada tanda ini untuk harta karun."

Tak ada orang yang tahu awal mula patung tersebut, tetapi dari masa ke masa orang-orang pun datang kesana untuk menggali tempat yang ditunjuk oleh jari patung itu. Sebab lokasi harta itu terbuat dari batu pilihan, penggalian orang-orang itu pun sia-sia, dan rahasia harta karun itu tetap terselimut misteri.

Baca juga: Kisah Sufi: Misteri Kandil Besi dan Harta Karun

Suatu siang kala sedang khusuk merenung, tertangkaplah oleh Dzun-Nun bahwa bayangan telunjuk itu ternyata sejajar dengan sebuah garis di lantai di bawah patung tersebut. Hal ini tidak diketahui selama berabad-abad.

Ia pun segera menandai tempat itu, lalu bergegas mengumpulkan peralatan. Dengan alat pahat, dibongkarnya batu ubin besar itu.

Perkiraan Dzun-Nun tepat tempat itu adalah pintu masuk di langit-langit sebuah gua bawah tanah. Di dalam gua itu terdapat berbagai macam alat pertukangan; dari benda-benda inilah Dzun-Nun mampu menarik kesimpulan tentang ilmu pengetahuan mereka, yang sudah lama lenyap, dan karenanya ia mendapatkan harta karun dan hal-hal berharga lainnya yang memang seharusnya menyertainya.

Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.

Baca juga: Kisah Sufi Awad Afifi: Sungai, Angin, dan Gurun Pasir
(mhy)
cover top ayah
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

(QS. Ar-Ra’d:11)
cover bottom ayah
preload video