Surat Yasin Ayat 33-35: Kekuasaan Allah SWT, Menghidupkan Bumi yang Mati
Kamis, 16 Desember 2021 - 12:59 WIB
loading...
A
A
A
Yang menarik dari redaksi ayat di atas adalah penyebutan secara khusus kebun-kebun kurma dan anggur. Hal ini menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafir Al-Munir karena kurma dan anggur termasuk buah yang dikenal di masyarakat Arab kala itu paling lezat, manis dan bergizi dibanding buah yang lain. Khasiat dua buah ini juga diamini oleh para pakar ilmu kesehatan masa kini.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 28-29: Satu Teriakan Menghabisi Penduduk Antokiah
Laman Tafsir Al-Quran menyebut redaksi lain dari ayat yang banyak dibahas oleh para mufassir ialah frasa “ma amilathu aidihim.”
At-Thabathaba’i misalnya menyatakan frasa tersebut setidaknya bisa dimaknai dua hal. Yang pertama, kata “ma” di sana dipahami sebagai nafiyah (meniadakan). Maknanya, “supaya mereka mengonsumsi apa yang berbuah dari bumi, meski itu sebenarnya bukan usaha mereka.” Dengan izin Allah lah tanah itu berbuah.
Tafsir yang kedua, kata “ma” dipahami sebagai maushulah (kata hubung). Dengan begitu maknanya menjadi, “supaya mereka mengonsumsi apa yang berbuah dari bumi dan apa yang diusahakan oleh tangan mereka dari buah tersebut seperti olahan manisan.”
Selanjutnya mengenai beberapa kata kerja di tiga ayat ini yang berbentuk jamak, padahal merujuk pada Allah Yang Maha Esa, Quraish Shihab memberikan penjelasan.
Menurutnya, hal itu mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut melibatkan selain Allah. Manusia misalnya ikut berkontribusi dalam menghidupkan dan mengelola bumi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Terkait varian bacaan, Nawawi al-Bantani menyebutkan bacaan lain. Ialah Hamzah dan al-Kisa’i yang membaca “min tsamarihi” dengan men-dammah-kan tsa dan mim, sehingga menjadi “min tsumurihi.”
Baca juga: Surat Yasin Ayat 26-27: Pesan Damai Habib al-Najjar saat Dirajam
Baca juga: Surat Yasin Ayat 28-29: Satu Teriakan Menghabisi Penduduk Antokiah
Laman Tafsir Al-Quran menyebut redaksi lain dari ayat yang banyak dibahas oleh para mufassir ialah frasa “ma amilathu aidihim.”
At-Thabathaba’i misalnya menyatakan frasa tersebut setidaknya bisa dimaknai dua hal. Yang pertama, kata “ma” di sana dipahami sebagai nafiyah (meniadakan). Maknanya, “supaya mereka mengonsumsi apa yang berbuah dari bumi, meski itu sebenarnya bukan usaha mereka.” Dengan izin Allah lah tanah itu berbuah.
Tafsir yang kedua, kata “ma” dipahami sebagai maushulah (kata hubung). Dengan begitu maknanya menjadi, “supaya mereka mengonsumsi apa yang berbuah dari bumi dan apa yang diusahakan oleh tangan mereka dari buah tersebut seperti olahan manisan.”
Selanjutnya mengenai beberapa kata kerja di tiga ayat ini yang berbentuk jamak, padahal merujuk pada Allah Yang Maha Esa, Quraish Shihab memberikan penjelasan.
Menurutnya, hal itu mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut melibatkan selain Allah. Manusia misalnya ikut berkontribusi dalam menghidupkan dan mengelola bumi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Terkait varian bacaan, Nawawi al-Bantani menyebutkan bacaan lain. Ialah Hamzah dan al-Kisa’i yang membaca “min tsamarihi” dengan men-dammah-kan tsa dan mim, sehingga menjadi “min tsumurihi.”
Baca juga: Surat Yasin Ayat 26-27: Pesan Damai Habib al-Najjar saat Dirajam
(mhy)
Lihat Juga :