Muawiyah Menangis Mendengar Kesaksian Dhirar bin Dhamrah tentang Ali bin Abi Thalib

Minggu, 19 Desember 2021 - 07:16 WIB
loading...
Muawiyah Menangis Mendengar...
Ali bin Abi Thalib menjadi tauladan yang baik bagi umat manusia. Air mata Muawiyah bercucuran mendengar puja-puji yang disampaikan Dhirar bin Dhamrah. (Foto/Ilustrasi: Alamy)
A A A
Nyala sengketa politik antara Muawiyah bin Abu Sofyan dengan Ali bin Abi Thalib tak pernah padam. Meski begitu, Muawiyah yang akhirnya menjadi pemenang dalam sengketa itu tak bisa menahan air matanya ketika mendengar puja puji tentang kebaikan Ali bin Abi Thalib.

Baca juga: Kisah Wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Pernyataan Pilu Ali bin Abi Thalib

Imam Ibnul Jauzi dalam buku berjudul "Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawodir Az-Zahidin" mengutip Abu Shalih bercerita tentang bagaimana Muawiyah ingin mengetahui tentang Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Muawiyah pun bertanya kepada pengikut setia Ali bin Abi Thalib, Dhirar bin Dhamrah. “Ceritakan kepadaku tentang Ali bin Abi Thalib,” ujar Muawiyah.

Dhirar tidak serta merta menjawab pertanyaan Muawiyah itu. Ia justru bertanya apakah Muawiyah memaafkan dirinya? Muawiyah mengalah dan menganggukkan kepala. “Iya, ceritakanlah,” jawab Muawiyah.

“Engkau memaafkan saya apa tidak?” tanya Dhirar kurang yakin. Namun akhirnya ia berkata: “Jika memang saya harus menceritakannya juga, baiklah."

Baca juga: Syair Cinta Rumi: Nubuat Nabi tentang Pembunuhan Ali bin Abu Thalib

Berikut Ali bin Abi Thalib di mata Dhirar bin Dhamrah:

Ali bin Abi Thalib adalah sosok yang demi Allah, sangat jauh pandangannya. Dia sangat kuat, kata-katanya tegas, menghukum dengan adil, dari dirinya tersembur ilmu pengetahuan, hikmah terlahir dari sosoknya, dia merasa tidak akrab dengan dunia dan bunga-bunganya, dan dia senang dengan malam hari serta kegelapannya untuk digunakan beribadah.

Demi Allah, dia adalah sosok yang banyak mengucurkan air mata kekhusyukan, panjang berpikir, sering memberi, sering menasihati dirinya. Dia senang pakaian yang kasar, dan makanan yang keras.

Dia, demi Allah, seperti kita yang merasa takut jika ditanya tentang agama, dia yang memulai bicara jika kita mendatanginya, dia juga yang mendatangi kita jika kita undang dia.

Dan kami, demi Allah, meskipun dia dekat dengan kami dan kami dekat dengan dia namun kami tidak berbicara dengannya karena kewibawaannya, dan kami juga tidak mulai berbicara denganya karena keagungannya. Jika dia tersenyum, maka senyumnya laksana mutiara yang tersusun rapi.

Dia memuliakan orang yang beragama dengan baik, senang terhadap orang-orang miskin. Orang yang kuat tidak berani berbuat kebatilan, dan orang yang lemah tidak merasa putus asa dari mendapatkan keadilannya.

Saya bersaksi kepada Allah, saya pernah melihatnya dalam beberapa kesempatan. Saat malam hari sudah tiba, bintang gemintang sudah menghiasi langit, dia berdiri di mihrabnya sambil memegang janggutnya, dia terlihat berdiri tegak, namun dengan menangis sangat sedih, seakan-akan saya mendengarnya saat dia berkata, “Dunia, dunia, apakah engkau ingin datang kepadaku? Apa engkau ingin menggodaku?"

Jauh sekali kemungkinan itu, tipulah orang selainku, karena saya telah menalakmu tiga kali sehingga tidak ada rujuk lagi, umurmu pendek, kehidupanmu hina, sementara bahayamu besar. Ah, sangat sedikit bekalku sementara sangat jauh perjalananku, dan sangat berbahaya jalan yang mesti dilalui.

Baca juga: Jalaluddin Rumi Bicara tentang Kebaikan Ali bin Abu Thalib kepada Pembunuhnya

Mendengar itu, maka melelehlah air mata Muawiyah sehingga jatuh ke jenggotnya. Dia pun menghapus air mata itu dengan lengan bajunya. Orang-orang pun menangis.

Kemudian Muawiyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abul Hasan Ali bin Abi Thalib, dia demi Allah adalah seperti yang diceritakan. Bagaimana kesedihanmu terhadapnya, wahai Dhirar?”

Dhirar menjawab, “Kesedihanku sebagaimana orangtua yang anaknya disembelih di kamar pribadinya, yang kenangannya tidak pernah hilang, dan kesedihannya tidak pernah lenyap.”

Baca juga: Keluhan Khalifah Utsman bin Affan dan Kritik Pedas Ali bin Abu Thalib
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Debat Sengit Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab Tentang Pembangkang Bayar Zakat
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Iktikaf Abu Sa’id Al-Khudri Bersama Rasulullah SAW
Kisah Teladan di Bulan...
Kisah Teladan di Bulan Ramadan: Abu Bakar Ash Shiddiq Setia Mendampingi Rasulullah di Perang Badar
Kisah Teladan Puasa...
Kisah Teladan Puasa Ramadan : Jasad Abu Talhah Tetap Utuh dan Tak Bau karena Kebiasaan Berpuasa
Rekomendasi
Bangsa Mesir Kuno Percaya...
Bangsa Mesir Kuno Percaya Bima Sakti Jalan Menuju Surga
Teliti Mukjizat Nabi...
Teliti Mukjizat Nabi Musa, Terungkap Fenomena Alam Langka yang Membinasakan Firaun
Laos Akan Sulap Gunung...
Laos Akan Sulap Gunung Berapi Tidak Aktif Jadi Wahana Bermain
Artikel Terkini
Kisah Jin Sakhr Merebut...
Kisah Jin Sakhr Merebut Takhta Nabi Sulaiman, hingga Kerajaannya Kembali pada 10 Muharram
Tradisi Lebaran Anak...
Tradisi Lebaran Anak Yatim di Hari Asyura, Dari Mana Asalnya?
10 Rahasia Puasa Asyura...
10 Rahasia Puasa Asyura yang Jarang Diketahui, Nomor 1 Sangat Istimewa
Mengapa Umat Islam Dianjurkan...
Mengapa Umat Islam Dianjurkan Berpuasa di Hari Asyura? Ini Penjelasannya
12 Amalan Populer Hari...
12 Amalan Populer Hari Asyura 10 Muharam yang Dianjurkan Rasulullah SAW
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Infografis
Macron Didukung Menlu...
Macron Didukung Menlu UEA Tentang Pernyataan Integrasi Muslim
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved