Kisah Sufi Syaikh Al-Isyraq: Burung Merak Raja di Bawah Keranjang
Kamis, 27 Januari 2022 - 09:48 WIB
loading...
A
A
A
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang,
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana
Baca juga: Kisah Sufi Omar Khilwati: Membawa Sepatu ke Masjid
Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. ( QS 37 :19)
Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya. ( QS 100 :9-11)
Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan ke sana-kemari dan terbang tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik 'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).
Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam memenuhi kewajiban kepada Allah. ( QS 39 .56)
Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. ( QS 50 :22)
Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat orang yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat? ( QS 56 :83-85)
Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya. ( QS 102 :3-4)
Baca juga: Kisah Sufi Khwaja Ali Ramitani: Cara Menangkap Kera
kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah
menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan
pelana-pelana
Baca juga: Kisah Sufi Omar Khilwati: Membawa Sepatu ke Masjid
Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. ( QS 37 :19)
Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya. ( QS 100 :9-11)
Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan ke sana-kemari dan terbang tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik 'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).
Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam memenuhi kewajiban kepada Allah. ( QS 39 .56)
Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. ( QS 50 :22)
Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat orang yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat? ( QS 56 :83-85)
Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya. ( QS 102 :3-4)
Baca juga: Kisah Sufi Khwaja Ali Ramitani: Cara Menangkap Kera
(mhy)
Lihat Juga :