Surat Yasin Ayat 66-67: Kuasa Allah Taala Membutakan Mata Para Pendosa
Jum'at, 28 Januari 2022 - 08:29 WIB
loading...
A
A
A
Sama seperti pemaknaan pada awal kalimat, pemaknaan pada “fastabiquu al-shiraatha fa annaa yubshiruun” pun dijelaskan ath-Thabari memiliki dua makna berbeda.
Pertama bermakna harfiah artinya orang-orang musyrik itu benar-benar dibutakan, matanya tidak bisa melihat. Makna ini diriwayatkan dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Abu Najih dari Mujahid.
Kedua bermakna mereka buta dari cahaya hidayah dan tidak mendapatkan petunjuk kebenaran. Makna ini bersumber dari riwayat Abdullah bin Abbas.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 62: Nasihat bagi Manusia supaya Gunakan Akal untuk Melawan Tipu Daya Setan
Sedangkan untuk ayat 67, Ibnu Jarir ath-Thabari menerangkan bahwa kata masakhna beramakna aq’adna yang artinya secara harfiah ‘Kami mengikat’ kaki-kaki orang-orang musyrik di tempatnya masing-masing. Lalu mereka tidak mampu untuk bergerak baik berjalan ke depan maupun kembali ke belakang.
Mengutip penafsiran Ibnu Abbas, ath-Thabari menerangkan makna lain dari ayat ini yaitu Allah SWT membinasakan (ahlakna) orang-orang musyrik di tempat mereka.
Menurut Imam al-Baidhawi dalam kitabnya Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, ayat 66 mengisyaratkan bahwa Allah SWT menutup jalan suluk bagi orang-orang musyrik yang telah mendustakan ajaran Rasulullah SAW.
Sedangkan untuk ayat 67, al-Baidhawi menafsirkan bahwa orang-orang kafir disebabkan karena kekafiran dan penolakan terhadap ajaran Nabi SAW, maka Allah SWT tidak menganugerahi mereka nikmat di akhirat.
Hukuman Langsung
Berdasarkan pengaitan yang dilakukan Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir terhadap ayat sebelumnya, yakni terkait dengan keadaan para pendosa yang sama sekali tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri karena anggota tubuh mereka memberikan kesaksian murni atas perbuatannya di dunia, lalu ada sebagian orang mukmin yang mengharapkan sesuatu dari kejadian itu.
Sebagian dari orang-orang mukmin itu berharap mengapa keadaan semacam itu tidak langsung saja diberikan ketika di dunia agar mereka segera menyadari kebenaran. Tentunya Allah sangat bisa untuk melakukannya. Namun, tambah Ibnu ‘Asyur, hal itu tidak terjadi karena Allah mempunyai perhitungan lain berdasarkan pengetahuanNya dan hikmah di baliknya.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 60-61: Perintah Menaati Allah dan Makna Menyembah Setan
Pertama bermakna harfiah artinya orang-orang musyrik itu benar-benar dibutakan, matanya tidak bisa melihat. Makna ini diriwayatkan dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Abu Najih dari Mujahid.
Kedua bermakna mereka buta dari cahaya hidayah dan tidak mendapatkan petunjuk kebenaran. Makna ini bersumber dari riwayat Abdullah bin Abbas.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 62: Nasihat bagi Manusia supaya Gunakan Akal untuk Melawan Tipu Daya Setan
Sedangkan untuk ayat 67, Ibnu Jarir ath-Thabari menerangkan bahwa kata masakhna beramakna aq’adna yang artinya secara harfiah ‘Kami mengikat’ kaki-kaki orang-orang musyrik di tempatnya masing-masing. Lalu mereka tidak mampu untuk bergerak baik berjalan ke depan maupun kembali ke belakang.
Mengutip penafsiran Ibnu Abbas, ath-Thabari menerangkan makna lain dari ayat ini yaitu Allah SWT membinasakan (ahlakna) orang-orang musyrik di tempat mereka.
Menurut Imam al-Baidhawi dalam kitabnya Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, ayat 66 mengisyaratkan bahwa Allah SWT menutup jalan suluk bagi orang-orang musyrik yang telah mendustakan ajaran Rasulullah SAW.
Sedangkan untuk ayat 67, al-Baidhawi menafsirkan bahwa orang-orang kafir disebabkan karena kekafiran dan penolakan terhadap ajaran Nabi SAW, maka Allah SWT tidak menganugerahi mereka nikmat di akhirat.
Hukuman Langsung
Berdasarkan pengaitan yang dilakukan Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir terhadap ayat sebelumnya, yakni terkait dengan keadaan para pendosa yang sama sekali tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri karena anggota tubuh mereka memberikan kesaksian murni atas perbuatannya di dunia, lalu ada sebagian orang mukmin yang mengharapkan sesuatu dari kejadian itu.
Sebagian dari orang-orang mukmin itu berharap mengapa keadaan semacam itu tidak langsung saja diberikan ketika di dunia agar mereka segera menyadari kebenaran. Tentunya Allah sangat bisa untuk melakukannya. Namun, tambah Ibnu ‘Asyur, hal itu tidak terjadi karena Allah mempunyai perhitungan lain berdasarkan pengetahuanNya dan hikmah di baliknya.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 60-61: Perintah Menaati Allah dan Makna Menyembah Setan
Lihat Juga :