Kisah Abdullah Ayah Nabi Muhammad SAW, Pemuda Tampan yang Wafat di Usia Muda
Selasa, 01 Februari 2022 - 16:48 WIB
loading...
A
A
A
Abdullah memandangnya, kemudian berkata, “Jika engkau mengajakku melakukan perbuatan yang terlarang, maka kematian lebih saya pilih. Jika itu perbuatan yang dilakukan dalam kehalalan, maka harus dipikirkan terlebih dahulu. Tentang bagaimana hari esok, apa yang engkau rencanakan.”
Kemudian Abdullah pergi menemui istrinya. Dia menceritakan tentang perempuan dari Khats'amiah itu, serta kecantikannya dan tawarannya.
Berikutnya dia kembali menemui perempuan Khatsamiyah, namun kali ini perempuan itu tidak menyikapinya dengan antusias, sebagaimana yang dia lakukan dahulu. Maka Abdullah bertanya kepadanya, “Apakah engkau sungguh-sungguh dengan tawaranmu dahulu?”
Perempuan itu menjawab, “Waktu itu saya menawarkannya kepadamu. Sedangkan hari ini tidak. Karena saya tidak ada keinginan lagi terhadapmu. Kemudian perempuan itu bertanya, “Apa yang engkau telah lakukan selepas bertemu denganku sebelumnya?”
Dia menjawab, “Saya meniduri istriku, Aminah binti Wahab.”
Perempuan itu berkata, “Demi Tuhan! Saya bukanlah orang yang peragu. Tapi waktu itu saya melihat cahaya kenabian di wajahmu. Maka saya ingin agar cahaya itu masuk ke tubuhku. Namun Tuhan berkehendak lagi, dan meletakkannya sesuai yang Dia kehendaki.”
Baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Ketika Singa Allah Ditikam Lembing Wahsyi bin Harb
Bukan Hal yang Luar Biasa
Haekal mengakui tentang ini masih terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin lagi selain dengan Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan diri kepadanya?
"Yang pasti, Abdullah adalah seorang pemuda yang tegap dan tampan. Bukan hal yang luar biasa jika ada wanita lain yang ingin menjadi isterinya selain Aminah," ujar Haekal.
Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu, kata Haekal, hilanglah harapan yang lain walaupun untuk sementara. Siapa tahu, barangkali mereka masih menunggu ia pulang dari perjalanannya ke Syam untuk menjadi isterinya di samping Aminah.
Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Madinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan.
Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekkah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkannya di Madinah. Dan merekalah yang menyampaikan berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekkah.
Kemudian Abdullah pergi menemui istrinya. Dia menceritakan tentang perempuan dari Khats'amiah itu, serta kecantikannya dan tawarannya.
Berikutnya dia kembali menemui perempuan Khatsamiyah, namun kali ini perempuan itu tidak menyikapinya dengan antusias, sebagaimana yang dia lakukan dahulu. Maka Abdullah bertanya kepadanya, “Apakah engkau sungguh-sungguh dengan tawaranmu dahulu?”
Perempuan itu menjawab, “Waktu itu saya menawarkannya kepadamu. Sedangkan hari ini tidak. Karena saya tidak ada keinginan lagi terhadapmu. Kemudian perempuan itu bertanya, “Apa yang engkau telah lakukan selepas bertemu denganku sebelumnya?”
Dia menjawab, “Saya meniduri istriku, Aminah binti Wahab.”
Perempuan itu berkata, “Demi Tuhan! Saya bukanlah orang yang peragu. Tapi waktu itu saya melihat cahaya kenabian di wajahmu. Maka saya ingin agar cahaya itu masuk ke tubuhku. Namun Tuhan berkehendak lagi, dan meletakkannya sesuai yang Dia kehendaki.”
Baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Ketika Singa Allah Ditikam Lembing Wahsyi bin Harb
Bukan Hal yang Luar Biasa
Haekal mengakui tentang ini masih terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin lagi selain dengan Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan diri kepadanya?
"Yang pasti, Abdullah adalah seorang pemuda yang tegap dan tampan. Bukan hal yang luar biasa jika ada wanita lain yang ingin menjadi isterinya selain Aminah," ujar Haekal.
Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu, kata Haekal, hilanglah harapan yang lain walaupun untuk sementara. Siapa tahu, barangkali mereka masih menunggu ia pulang dari perjalanannya ke Syam untuk menjadi isterinya di samping Aminah.
Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Madinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan.
Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekkah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkannya di Madinah. Dan merekalah yang menyampaikan berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekkah.
Lihat Juga :