Surat Yasin Ayat 71-73: Hewan Ternak, Anugerah Allah Taala yang Patut Disyukuri
Jum'at, 04 Februari 2022 - 07:34 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Surat Yasin Ayat 66-67: Kuasa Allah Taala Membutakan Mata Para Pendosa
Sedangkan kata aydii, menurut M Quraish Shihab , merupakan bentuk jamak dari kata yadun yang secara umum dimaknai dengan tangan. Quraish Shihab menerangkan bahwa secara majazi kata itu juga bisa bermakna kekuasaan atau nikmat. Maksud dari ayat tersebut, adalah untuk menggambarkan betapa penciptaan binatang ternak menjadi bagian dari nikmat yang besar dan bukti kuasa Allah SWT.
Menurut Qurasih Shihab, ayat di atas menggarisbawahi tiga jenis hewan ternak saja: unta, sapi, dan kambing, karena ketika ayat ini diturunkan, ketiga binatang inilah yang menjadi lambang kekayaan dan kemakmuran mereka.
Didahulukannya lafaz falahum laha atas kata maalikuun menurut Quraish Shihab bertujuan untuk menekankan dan menghadirkan manfaat dan nilai binantang ini dalam benak mitra bicara sebelum mengingatkan mereka akan kepemilikannya.
Penggunaan bentuk nakirah (indefinite) pada kata maalikuun, bagi Quraish, juga menggambarkan betapa luasnya kepemilikan manusia yang dianugerahkan Allah SWT. Meskipun hewan ternak lebih besar dan lebih kuat dari manusia, tetapi manusia mampu untuk menundukkannya atas izin Allah SWT.
Dari berbagai macam manfaat dari anugerah Allah SWT itu sudah sepantasnya manusia bersyukur. Salah satu bentuk syukur itu adalah meng-esakanNya. Tidak ada yang bisa menundukkan hewan-hewan yang tenaganya melebihi manusia itu kecuali Allah SWT namun sayang kebanyakan manusia tidak bersyukur, sebagaiman ungkapan akhir ayat 73.
Baca juga: Surat Yasin ayat 63-65: Ketika Seluruh Tubuh Bersaksi di Hadapan Allah Taala
Meskipun kalimat terakhir dalam ayat 73 tersebut berbentuk istifham (pertanyaan), namun maknanya adalah menetapkan. Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa kalimat tersebut mengindikasikan keheranan atas kebutaan yang dialami orang-orang muysrik waktu itu. Jelas-jelas nikmat itu ada di depan mata tapi mengapa mereka tidak sadar.
Memang pada awalnya surah Yasin ayat 71-73 ini bertujuan untuk menegur orang-orang musyrik pada zaman Nabi Muhammad SAW yang tidak bersyukur atas nikmat Allah. Meski begitu ayat ini masih relevan dengan masa kini dan akan terus relevan selamanya.
Melalui surat Yasin ayat 71-73 ini Allah SWT menegur kita agar senantiasa bersyukur atas nikmat serta mengesakan Allah SWT. Nikmat-nikmat itu Allah gambarkan begitu jelas kepada kita agar kita menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berterimakasih.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 62: Nasihat bagi Manusia supaya Gunakan Akal untuk Melawan Tipu Daya Setan
Sedangkan kata aydii, menurut M Quraish Shihab , merupakan bentuk jamak dari kata yadun yang secara umum dimaknai dengan tangan. Quraish Shihab menerangkan bahwa secara majazi kata itu juga bisa bermakna kekuasaan atau nikmat. Maksud dari ayat tersebut, adalah untuk menggambarkan betapa penciptaan binatang ternak menjadi bagian dari nikmat yang besar dan bukti kuasa Allah SWT.
Menurut Qurasih Shihab, ayat di atas menggarisbawahi tiga jenis hewan ternak saja: unta, sapi, dan kambing, karena ketika ayat ini diturunkan, ketiga binatang inilah yang menjadi lambang kekayaan dan kemakmuran mereka.
Didahulukannya lafaz falahum laha atas kata maalikuun menurut Quraish Shihab bertujuan untuk menekankan dan menghadirkan manfaat dan nilai binantang ini dalam benak mitra bicara sebelum mengingatkan mereka akan kepemilikannya.
Penggunaan bentuk nakirah (indefinite) pada kata maalikuun, bagi Quraish, juga menggambarkan betapa luasnya kepemilikan manusia yang dianugerahkan Allah SWT. Meskipun hewan ternak lebih besar dan lebih kuat dari manusia, tetapi manusia mampu untuk menundukkannya atas izin Allah SWT.
Dari berbagai macam manfaat dari anugerah Allah SWT itu sudah sepantasnya manusia bersyukur. Salah satu bentuk syukur itu adalah meng-esakanNya. Tidak ada yang bisa menundukkan hewan-hewan yang tenaganya melebihi manusia itu kecuali Allah SWT namun sayang kebanyakan manusia tidak bersyukur, sebagaiman ungkapan akhir ayat 73.
Baca juga: Surat Yasin ayat 63-65: Ketika Seluruh Tubuh Bersaksi di Hadapan Allah Taala
Meskipun kalimat terakhir dalam ayat 73 tersebut berbentuk istifham (pertanyaan), namun maknanya adalah menetapkan. Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa kalimat tersebut mengindikasikan keheranan atas kebutaan yang dialami orang-orang muysrik waktu itu. Jelas-jelas nikmat itu ada di depan mata tapi mengapa mereka tidak sadar.
Memang pada awalnya surah Yasin ayat 71-73 ini bertujuan untuk menegur orang-orang musyrik pada zaman Nabi Muhammad SAW yang tidak bersyukur atas nikmat Allah. Meski begitu ayat ini masih relevan dengan masa kini dan akan terus relevan selamanya.
Melalui surat Yasin ayat 71-73 ini Allah SWT menegur kita agar senantiasa bersyukur atas nikmat serta mengesakan Allah SWT. Nikmat-nikmat itu Allah gambarkan begitu jelas kepada kita agar kita menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berterimakasih.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 62: Nasihat bagi Manusia supaya Gunakan Akal untuk Melawan Tipu Daya Setan
(mhy)
Lihat Juga :