Interfaith dan Islamophobia (5): Islam Agama yang Bersahabat
Kamis, 10 Februari 2022 - 17:34 WIB
loading...
A
A
A
Dan karenanya tanyangan yang kemudian kita hadapi adalah bagaimana memahami dalil-dalil agama, baik di Al-Qur'an maupun di hadits-hadits Rasulullah yang kita dapati cukup kritis kepada dua komunitas khususnya, yaitu Yahudi dan Kristen.
Kenyataan bahwa kritikan tajam Al-Qur'an itu pada galibnya ke dua komunitas itu menunjukkan jika Al-Quran itu sangat menekankan konteks. Karena konteksnya memang Komunitas Muslim pertama di Madinah secara langsung berinteraksi dengan Kedua komunitas itu. Wajar saja kalau kritikan-kritikan Al-Qur'an bukan ke Komunitas Hindu, Buddha. Walau kenyataannya Kedua Komunitas itu telah eksis jauh Sebelum Rasulullah diutus.
Lalu bagaimana menyikapi kritikan-kritikan itu?
Pertama, satu hal yang harus ditekankan bahwa kritikan Al-Qur'an bukan pada kelompok orang. Tapi pada prilaku orang yang dianggap salah. Kritikan kepada Bani Israel misalnya justeru pada prilaku mereka yang keras hati dan membangkang Rasul-rasul mereka sendiri. Bukan karena Yahudinya.
Kedua, perlu juga dipahami secara jeli bahwa seringkali kritikan Al-Qur'an itu dimaknai justeru tantangan bagi umat ini di satu sisi. Tapi juga peringatan bagi mereka di sisi lain agar tidak terjatuh ke dalam lobang yang sama.
Saya hanya ingin mengambil dua ayat sebagai contoh.
Yang pertama, Allah berfirman: "Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu hingga kamu mengikuti millat (jalan hidup) mereka." (Al-Baqarah: 120)
Untuk memahami ayat tersebut tentu perlu perenungan sekaligus wawasan yang luas dan menyeluruh. Dan pastinya tidak tepat pemahaman itu jika didahului dengan opini yang memang penuh dengan bias dan prasangka. Karenanya, selain ilmu yang cukup juga perlu kesadaran untuk mengedepankan pikiran positif.
Berdasarkan kepada pandangan positif kepada semua umat itulah ayat tersebut harusnya dipahami secara imbang. Satu di antaranya adalah memahami bahwa kadang ayat Al-Qur'an itu merespons peristiwa tertentu (makna khusus) dari sebuah fenomena. Bukan sebagai keputusan atau penghakiman umum atau mutlak bahwa demikianlah Yahudi dan Kristen itu.
Apakah tidak ada lagi di kalangan mereka yang bersifat demikian? Pastinya ada. Hanya saja penahaman "umum" (jeneralisasi) itu berbahaya dan bisa "misleading" (menyesatkan). Bahkan mengantar kepada kesalah pahaman yang dapat berujung kepada gesekan sosial yang tidak diinginkan.
Sebagaimana kita tidak ingin dicap terroris karena adanya segelintir yang melakukan teror. Demikian pula orang lain punya hak untuk diperlukan sebagaimana kita ingin diperlukan. Kata orang: "treat others as you want for yourselves” (perlakukan orang lain sebagaimana anda inginkan untuk diri sendiri).
Yang kedua, khusus bagi Komunitas Yahudi ada sebuah ayat Al-Qur'an yang mengatakan: "Engkau pasti akan dapati orang-orang yang paling benci kepadaMu adalah Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan Engkau niscaya dapati orang yang mengasihi adalah mereka yang mengaku Nashrani." (Al-Majdah: 82)
Kenyataan bahwa kritikan tajam Al-Qur'an itu pada galibnya ke dua komunitas itu menunjukkan jika Al-Quran itu sangat menekankan konteks. Karena konteksnya memang Komunitas Muslim pertama di Madinah secara langsung berinteraksi dengan Kedua komunitas itu. Wajar saja kalau kritikan-kritikan Al-Qur'an bukan ke Komunitas Hindu, Buddha. Walau kenyataannya Kedua Komunitas itu telah eksis jauh Sebelum Rasulullah diutus.
Lalu bagaimana menyikapi kritikan-kritikan itu?
Pertama, satu hal yang harus ditekankan bahwa kritikan Al-Qur'an bukan pada kelompok orang. Tapi pada prilaku orang yang dianggap salah. Kritikan kepada Bani Israel misalnya justeru pada prilaku mereka yang keras hati dan membangkang Rasul-rasul mereka sendiri. Bukan karena Yahudinya.
Kedua, perlu juga dipahami secara jeli bahwa seringkali kritikan Al-Qur'an itu dimaknai justeru tantangan bagi umat ini di satu sisi. Tapi juga peringatan bagi mereka di sisi lain agar tidak terjatuh ke dalam lobang yang sama.
Saya hanya ingin mengambil dua ayat sebagai contoh.
Yang pertama, Allah berfirman: "Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu hingga kamu mengikuti millat (jalan hidup) mereka." (Al-Baqarah: 120)
Untuk memahami ayat tersebut tentu perlu perenungan sekaligus wawasan yang luas dan menyeluruh. Dan pastinya tidak tepat pemahaman itu jika didahului dengan opini yang memang penuh dengan bias dan prasangka. Karenanya, selain ilmu yang cukup juga perlu kesadaran untuk mengedepankan pikiran positif.
Berdasarkan kepada pandangan positif kepada semua umat itulah ayat tersebut harusnya dipahami secara imbang. Satu di antaranya adalah memahami bahwa kadang ayat Al-Qur'an itu merespons peristiwa tertentu (makna khusus) dari sebuah fenomena. Bukan sebagai keputusan atau penghakiman umum atau mutlak bahwa demikianlah Yahudi dan Kristen itu.
Apakah tidak ada lagi di kalangan mereka yang bersifat demikian? Pastinya ada. Hanya saja penahaman "umum" (jeneralisasi) itu berbahaya dan bisa "misleading" (menyesatkan). Bahkan mengantar kepada kesalah pahaman yang dapat berujung kepada gesekan sosial yang tidak diinginkan.
Sebagaimana kita tidak ingin dicap terroris karena adanya segelintir yang melakukan teror. Demikian pula orang lain punya hak untuk diperlukan sebagaimana kita ingin diperlukan. Kata orang: "treat others as you want for yourselves” (perlakukan orang lain sebagaimana anda inginkan untuk diri sendiri).
Yang kedua, khusus bagi Komunitas Yahudi ada sebuah ayat Al-Qur'an yang mengatakan: "Engkau pasti akan dapati orang-orang yang paling benci kepadaMu adalah Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan Engkau niscaya dapati orang yang mengasihi adalah mereka yang mengaku Nashrani." (Al-Majdah: 82)
Lihat Juga :