Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah
Senin, 14 Februari 2022 - 09:10 WIB
loading...
A
A
A
Sebelum Muawiyah, Abu Sufyan adalah sosok yang begitu mewakili warna permusuhan ini. Terlebih setelah Rasululllah SAW memulai dakwahnya, kedengkian Abu Sufyan semakin menjadi-jadi. Dan alasan dasar munculnya kedengkian ini tidak lain semangat kesukuan (ashobiyah) yang begitu besar.
Sejak Qushai bin Kilab – leluhur Nabi Muhammad SAW – mendirikan kota Mekkah 200 tahun sebelum Hijrah, anak keturunannya mewarisi kehormatan yang begitu tinggi di kota ini dari klan-klan lain di sekitarnya.
Kepemimpinan kota Mekkah kemudian mewaris secara genetis dari Qushai hingga masa kelahiran Rasulullah SAW. Qushai dikaruiai 4 orang putra, diantaranya Abdud-Dar, Abd Manaf, Abd, dan Abdul Uzza.
Setelah Qushai bin Kilab, tongkat kepemimpinan Mekkah diwariskan kepada putra tertuanya, Abdud-Dar. Di masa pemerintahannya, kondisi masyarakat berlangsung aman dan damai, tidak ada masalah.
Baca juga: Ali bin Abdullah bin Al- Abbas Kakek Para Khalifah Dinasti Abbasiyah Berjuluk As Sajjad
Awal Mula Konflik
Setelah Abdud-Dar wafat, masalah pewaris tongkat kepemimpinan Mekkah mulai mencuat. Terjadi keributan antara anak-anak Abdud-Dar dengan anak-anak Abd Manaf, adiknya.
Pertikaian ini menyeret tetangga dan klan-klan sekitar untuk memihak satu sama lain. Namun ketegangan ini berhasil direda melalui perundingan. Mereka akhirnya sepakat untuk membagi tugas kemasyarakat di kota Mekkah; seperti tanggungjawab untuk memungut pajak (rifada); mengurus air dan mengkoordinsikannya bagi kepentingan bersama, khususnya bagi jamaah haji (sikaya); memegang kunci Ka’bah (hijabah), dan pemegang panji pada saat perang (liwa).
Adapun keturunan Abd Manaf mewarisi tanggungjawab rifada dan sikaya, sedang sisanya tetap dipegang oleh keturunan Abdud Dar.
Abd Manaf diketahui memiliki empat orang putra, yaitu Abd Asy Syam, Hasyim, Muthalib, dan Naufal. Awalnya Abd Asy Syam yang dipercaya mewarisi tanggung jawab kepemimpinan. Namun kemudian hak tersebut diberikannya pada Hasyim, adiknya yang dikenal memiliki kebijaksanaan dan kedermawanan yang begitu tinggi di tengah masyarakat.
Hasyim juga merupakan seorang pedagang sukses. Dialah yang mula-mula membuka jalur perdagangan ekspor-impor masyarakat Mekkah ke berbagai wilayah seperti Suriah dan Yaman. Di masa kepemimpinannya-lah kesejahteraan masyarakat Mekkah meningkat pesat.
Akbar Shah Najeebabadi dalam The History Of Islam memaparkan setelah Hasyim wafat, masalah perebutan tahta Mekkah kembali meruncing. Kali ini Umayyah yang tidak lain putra dari Abd Asy Syam menuntut kembali hak ayahnya dari Bani Hasyim.
Di pihak Bani Hasyim sendiri, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muthalib, adik Hasyim dan Abd Asy Syam. Setelah Muthalib meninggal dunia, kepemimpinan kemudian dialihkan ke Abdul Muthalib yang cahaya kebijaksaannya tidak bisa dilawan oleh kedengkian Bani Umayyah.
Sejak Qushai bin Kilab – leluhur Nabi Muhammad SAW – mendirikan kota Mekkah 200 tahun sebelum Hijrah, anak keturunannya mewarisi kehormatan yang begitu tinggi di kota ini dari klan-klan lain di sekitarnya.
Kepemimpinan kota Mekkah kemudian mewaris secara genetis dari Qushai hingga masa kelahiran Rasulullah SAW. Qushai dikaruiai 4 orang putra, diantaranya Abdud-Dar, Abd Manaf, Abd, dan Abdul Uzza.
Setelah Qushai bin Kilab, tongkat kepemimpinan Mekkah diwariskan kepada putra tertuanya, Abdud-Dar. Di masa pemerintahannya, kondisi masyarakat berlangsung aman dan damai, tidak ada masalah.
Baca juga: Ali bin Abdullah bin Al- Abbas Kakek Para Khalifah Dinasti Abbasiyah Berjuluk As Sajjad
Awal Mula Konflik
Setelah Abdud-Dar wafat, masalah pewaris tongkat kepemimpinan Mekkah mulai mencuat. Terjadi keributan antara anak-anak Abdud-Dar dengan anak-anak Abd Manaf, adiknya.
Pertikaian ini menyeret tetangga dan klan-klan sekitar untuk memihak satu sama lain. Namun ketegangan ini berhasil direda melalui perundingan. Mereka akhirnya sepakat untuk membagi tugas kemasyarakat di kota Mekkah; seperti tanggungjawab untuk memungut pajak (rifada); mengurus air dan mengkoordinsikannya bagi kepentingan bersama, khususnya bagi jamaah haji (sikaya); memegang kunci Ka’bah (hijabah), dan pemegang panji pada saat perang (liwa).
Adapun keturunan Abd Manaf mewarisi tanggungjawab rifada dan sikaya, sedang sisanya tetap dipegang oleh keturunan Abdud Dar.
Abd Manaf diketahui memiliki empat orang putra, yaitu Abd Asy Syam, Hasyim, Muthalib, dan Naufal. Awalnya Abd Asy Syam yang dipercaya mewarisi tanggung jawab kepemimpinan. Namun kemudian hak tersebut diberikannya pada Hasyim, adiknya yang dikenal memiliki kebijaksanaan dan kedermawanan yang begitu tinggi di tengah masyarakat.
Hasyim juga merupakan seorang pedagang sukses. Dialah yang mula-mula membuka jalur perdagangan ekspor-impor masyarakat Mekkah ke berbagai wilayah seperti Suriah dan Yaman. Di masa kepemimpinannya-lah kesejahteraan masyarakat Mekkah meningkat pesat.
Akbar Shah Najeebabadi dalam The History Of Islam memaparkan setelah Hasyim wafat, masalah perebutan tahta Mekkah kembali meruncing. Kali ini Umayyah yang tidak lain putra dari Abd Asy Syam menuntut kembali hak ayahnya dari Bani Hasyim.
Di pihak Bani Hasyim sendiri, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Muthalib, adik Hasyim dan Abd Asy Syam. Setelah Muthalib meninggal dunia, kepemimpinan kemudian dialihkan ke Abdul Muthalib yang cahaya kebijaksaannya tidak bisa dilawan oleh kedengkian Bani Umayyah.
Lihat Juga :